Home / Berita / Membangun Karakter Islami: Moderasi Beragama dari Lembaga Pendidikan Diniyah

Membangun Karakter Islami: Moderasi Beragama dari Lembaga Pendidikan Diniyah

Pontianak – NU Khatulistiwa, Sebagai ujung tombak pendidikan karakter dasar Islam, Lembaga Pendidikan diniyah dan pondok pesantren diharapkan dapat mengambil peran dan tanggung jawab nyata dalam menggalakkan program moderasi beragama. Bahwa prinsip-prinsip moderasi beragama merupapakan solusi terbaik dalam memberikan filter-bekal yang kuat bagi generasi umat dalam menghadapi berbagai tantangan faham radikalisme ekstrim, intoleransi dan anti perbedaan yang mengancam keutuhan umat, bangsa dan negara hari ini.

Demikian yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Ibrahim, M.A, Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Pontianak saat mengisi materi dalam kegiatan Moderasi Beragama bagi Pimpinan Lembaga Pendidikan Islam Kementerian Agama Provinsi se-Kalimantan Barat, Jum`at 15/7 di Hotel 95 Pontianak.

Menurutnya, perspektif moderasi yang mengambil jalan tengah dalam berpikir dan bersikap, tidak ekstrim kiri dan ekstrim kanan dalam beragama, toleran dan tidak anti dengan perbedaan, menjadi kata kunci dalam menangkal berkembangnya pengaruh paham radikal ekstrim dan intoleransi yang semakin mengancam harmonisasi ummat dan keutuhan NKRI.

Dalam materi presentasi yang disampaikan di depan para peserta yang terdiri dari para Pimpinan Pondok Pesantren dan Lembaga Pendidikan Diniyah dari semua daerah di Kalimantan Barat, Prof. Ibrahim menegaskan ada beberapa karakter dasar Islam yang harus dibangun berdasarkan perspektif penguatan moderasi dan moderasi beragama, diantaranya;

Pertama, sebagai umat beragama, pastikan berislam secara kaffah (Q.S. 2: 108) mesti diwujudkan dalam misi Islam sebagai agama Rahmatan Lil`alamin (Q.S. 21: 107), dimana agama diposisikan sebagai ikhtiar menuju jalan kebenaran.

Kedua, sebagai pemimpin umat, para pimpinan pondok pesantren dan Lembaga Diniyah Takmiliyah mesti memiliki karakter amanah, bertanggung jawab dan mengayomi bagi proses Pendidikan yang dijalankan. Bahkan yang terpenting lagi memiliki karakter Ketauladanan. Bagaimana mungkin seorang ustadz akan mengajarkan prinsip hidup moderat kepada para santrinya, tetapi dia tidak menjadi contoh tauladan bagi praktek moderasi beragama itu sendiri.

Ketiga, sebagai umat atau rakyat yang dipimpin, senantiasa taat, patuh dan hormat kepada pemimpin adalah bagian karakter penting. Termasuk dalam konteks berbangsa dan bernegara, mentaati pemimpin negara yang sah dan menjalankan tugas kepemimpinan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul Nya adalah sebuah kemestian sebagaimana Q.S. 4: 59)

Keempat, sebagai warga bangsa yang hidup dalam realitas pluralitas, maka karakter ikhlas dan terbuka menerima perbedaan menjadi satu-satunya pilihan dalam mewujudkan harmonisasi dan kebersamaan.  Bahwa hakikatnya perbedaan itu adalah sunnatullah (yang Allah kehendaki) dan pasti akan selalu ada, tidak mungkin ditolak. Perbedaan lah sesungguhnya yang menyempurnakan hidup kita. Perbedaan lah yang menjadi semangat fastabiqul khairat (Q.S. 5: 49); perbedaan yang menjadi prasyarat pentingnya komunikasi dan saling memahami, bahkan persatuan dan kesatuan (Q.S. 49: 13).

Kelima, karakter dasar Islam berikutnya yang penting ditanamkan dalam proses Pendidikan Islam di pondok pesantren dan Lembaga diniyah takmiliyah adalah sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. 3: 159 yakni lemah lembut, tidak sombong dan berhati kasar, pemaaf, demokratis dan senantiasa tawakkal kepada Allah. Jika semua kita, mampu beragama dengan karakter dasar yang demikian, maka ia menjadi kekuatan moderasi yang akan menjauhkan kita dari terpapar pengaruh paham radikalisme ekstrim dan intoleran.   

Karena itu bagaimana seharusnya kita beragama dalam perspektif moderasi, Prof. Ibrahim mengutif sumber PMA No. 18 tahun 2020 tentang Renstra Kementerian Agama, yakni; pastikan keyakinan dan praktek agama kita memperkuat komitmen bangsaan; pastikan keyakinan dan praktek beragama kita mengedepan prinsip harmonisasi dan rahmatan lil `alamin; pastikan keyakikan dan praktek beragama akomodatif terhadap budaya local (kontekstual) sebagai sebuah realitas cretio ex nebula dalam istilah Hasan Hanafi.

Lebih lanjut Prof. Ibrahim menegaskan bahwa dengan beragama seharusnya membawa kita pada keyakinan dan sikap yang tidak anti terbedaan, mampu memahami dan menghargai perbedaan sebagai sunnatullah, dan pada akhirnya bisa hidup bersama-berdampingan dan Bersatu dalam perbedaan. Terakhir, Prof. Ibrahim mengingatkan bahwa menjadi tanggung kita semua, dengan posisi dan kafasitas apapun untuk mengawal umat dan negara bangsa ini dari kehancuran dan disharmonisasi. Penguatan moderasi beragama dengan segala prinsip nya adalah Gerakan dan perjuangan bersama kita semua, terutama pimpinan pondok dan Lembaga Diniyah Takmiliyah, pungkasnya. (Rilis)

Check Also

Atraksi Menegangkan Warnai UTA Pagar Nusa Sekadau

SEKADAU – NU Khatulistiwa, kenal lelah dan tak kenal henti Pimpinan Cabang Pencak Silat Pagar …

Tinggalkan Balasan