Home / Opini / TUHAN DAN ORANG-ORANGAN

TUHAN DAN ORANG-ORANGAN

Oleh Ayik Heriansyah

Sudah benar apa yang dikatakan Pak Jenderal Dudung, Tuhan bukan orang Arab. Tuhan juga bukan orang Amerika, Eropa, Afrika, Jawa, Sunda, Madura, Papua…ya Tuhan bukan orang titik.

Tuhan pencipta orang. Dia berbeda dengan apapun yang diciptakan-Nya. Laisa kamitslihi syai’un. Tuhan tidak serupa dengan apapun.

Apapun yang diserupakan dengan Tuhan pasti bukan Tuhan. Itu imajinasi orang tentang Tuhan. Imajinasi sebenarnya hasil rekaan orang. Masak hasil rekaan orang dijadikan Tuhan?! Pastinya, imajinasi tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Tuhan menciptakan orang beserta bahasa-bahasanya. Bahasa juga ciptaan Tuhan. Tuhan pasti mengerti semua bahasa. Orang mau ngomong dan berdoa pakai bahasa manapun, Tuhan ngerti kok. Berdoa pakai bahasa hati juga, Tuhan tahu.

Tuhan menciptakan semua bahasa berhak memilih bahasa tertentu menjadi bahasa kitab-Nya. Zabur bahasa Qibti, Taurat berbahasa Ibrani, Injil berbahasa Suryani dan al-Quran berbahasa Arab. Bahasa-bahasa tadi sekaligus menjadi bahasa resmi agama-agama wahyu.

Bagi umat Islam, bahasa Arab menjadi bahasa ibadah. Bahasa formal yang harus digunakan agar ibadahnya sah. Adzan, iqamat, shalat, tilawah al-Quran, shalawat, dzikir, dan do’a, wajib menggunakan bahasa Arab dengan bacaan-bacaan yang telah ditentukan. Jika tidak, batal ibadahnya.

Bahasa Arab dalam ibadah terbatas pada bacaan-bacaan tertentu. Tidak semua ucapan berbahasa Arab, masuk kategori ibadah. Di luar konteks ibadah, bahasa Arab pada umumnya dan bahasa selainnya, dapat digunakan dalam komunikasi dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Tuhan membuka Diri bagi semua orang yang ingin berkomunikasi dengan-Nya di luar konteks ibadah formal. Mau bersuara atau berbisik-bisik di dalam hati, Tuhan mendengar. Mau pakai bahasa Arab, Cina, Inggris atau Indonesia, Tuhan paham.

Komunikasi dengan Tuhan di luar konteks ibadah formal, disebut munajat. Munajat adalah curhat, curahan hati seseorang kepada Tuhan. Ketika bermunajat seseorang bukan mau meminta, menuntut dan mendesak Tuhan, akan tetapi cuma ingin curhat. Ingin meluahkan keluh kesah yang ada di dalam hatinya.

Orang kadang saru, sulit membedakan antara doa dalam konteks ibadah dengan munajat kepada Tuhan. Munajat kepada Tuhan boleh pakai bahasa manapun. Mau pakai bahasa Indonesia, silahkan. Mau pakai bahasa Jawa, monggo. Mau pakai bahasa Sunda, mangga.

Check Also

Jaga Kehalalan, Satgas JPH Lakukan Pengawasan Ke Pelaku Usaha

Pontianak – NU Khatulistiwa, Rabu, 30/3, Satgas Jaminan Produk Halal (JPH) Kantor Wilayah Kementerian Agama …

Tinggalkan Balasan