Home / Opini / Social Distancing, Jaminan Hak Berkomunikasi

Social Distancing, Jaminan Hak Berkomunikasi

Oleh:Dr Ibrahim, MA

Istilah social / phsycal distancing tiba-tiba menjadi populer dalam narasi komunikasi akhir-akhir ini, terutama ketika WHO mengumumkannya sebagai salah satu cara pencegahan dari penularan covid 19. Sebagaimana dijelaskan oleh para ahli kesehatan, bahwa pola penularan dari virus ini adalah melalui droplet yang keluar saat si penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Dengan sifatnya itu, jatuhan droplet dipercayai terjadi dalam jarak kurang dari 1 – 1,5 meter hingga bersentuhan fisik dengan penderita. Karena itu, menjaga jarak sosial (social distancing) dan jarak fisik (phsycal distancing) dalam berkomunikasi dianggap penting untuk menghindarkan diri dari penularan virus ini.

Popularitas istilah tersebut tidak serta merta juga menjadi populer dalam praktek komunikasi sosial kita. Dalam banyak contoh, sepertinya praktek komunikasi dan interaksi sosial kita masih biasa-biasa saja. Dimana-mana kita masih melihat interaksi sosial yang bebas, tampa batas, selayaknya interaksi sebelum adanya pandemi melanda. Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak komunikasi, tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting, bekerja di rumah (work from home), menggunakan masker jika terpaksa keluar rumah, hingga larangan menghadiri kegiatan masal dan kerumunan banyak orang, sepertinya hanya angin lalu bagi sebagian masyarakat kita.

Di banyak tempat kita masih melihat pasar yang sesak dengan pengunjung. Mall dan supermarket masih dibuka seperti biasa. Tempat hiburan malam dan cafe masih ramai dipenuhi oleh para penikmat “angin kebebasan”. Bahkan kemacetan di jalan-jalan tertentu masih saja terlihat, apalagi jam-jam sore disaat jual beli takjil ramadhan.

Sekilas kita melihat suasana komunikasi dan interaksi masyarakat di pasar, di jalan-jalan, di tempat-tempat hiburan, bahkan di masjid sepertinya tidak sedang dalam kewaspadaan pandemi. Begitu santai, dan seolah-olah tiada apa-apa yang harus ditakuti. Terkadang jadi muncul pikiran aneh dan ragu, “apa kita yang terlalu penakut”, atau “kita yang terlalu serius dan tegang menghadapi situasi ini”. atau, “kita yang terlalu patuh dengan himbauan pemerintah untuk menjaga jarak, dan tetap di rumah. Bahkan harus menunda shalat jamaah ke masjid (jum`atan dan taraweh)”. Tapi ya, sudah lah. Begitulah bentuk kepatuhan sikap setiap orang.

Kembali ke himbauan untuk menjaga jarak komunikasi, adakah masalah dengan  social / phsycal distancing itu sendiri. Dalam teori komunikasi, sesungguhnya jarak itu sesuatu yang lumrah (normally), dimana semua interaksi berlangsung dalam jarak tertentu, yang memiliki fungsi dan makna tertentu pula. Ketentuan akan jarak fisik, jarak ruang dan waktu dalam komunikasi dikenal dengan teori proksimitas (proximity theory), sebagaimana dikembangkan oleh Hall (1963) dengan komunikasi melingkarnya (spiral communication), atau Altman dan Taylor (1973) dengan penetrasi sosialnya (social penetration).

Lantas, bagaimana dengan istilah social /phsycal distancing yang menjadi populer melalui berbagai himbauan di masa pandemi ini. Di luar fakta ketak-berdayaannya memaksa masyarakat untuk mematuhinya, ada hal menarik yang mesti kita fahami dalam konteks kekinian, baik pandemi, ramadhan, dan interakasi sosial itu sendiri.

Dalam konteks pandemi, jelas bahwa menjaga jarak sosial dan jarak fisik dalam komunikasi bertujuan untuk membatasi efek penularan virus. Dengan mematuhi himbauan social/ pshycal distancing dalam berkomunikasi, maka faktor utama penularan virus akan mungkin bisa dihentikan. Persoalannya, adakah masyarakat kita sudah memahami dengan benar maksud dan tujuan dari kemestian menjarak jarak dalam komunikasi. Seperti apa proses edukasi sosial ini telah diberikan. Seberapa besar tingkat kepatuhan masyarakat kita untuk melaksanakannya. Seberapa efektif penegakan aturan dan himbauan ini dapat dilakukan oleh aparat, pemerintah. Semua ini menjadi prasyarat keberhasilan himbauan kebijakan ini dalam konteks pandemi, dan tentu saja keberhasilan kita bersama menghentikan penularan virus ini.

Dalam konteks Ramadhan yang sedang kita jalani, social/ phsycal distancing bukan saja bermakna untuk tujuan kesehatan dan menghindari dari penularan virus, tetapi juga untuk kebaikan diri individu dan masyarakat muslim dalam berburu keberkahan dan maghfirah Allah Swt. Ramadhan mengajarkan kita untuk mampu menjaga jarak antara yang hak dengan yang bathil, antara yang halal dengan yang haram, antara kepatuhan dan egoisme diri, antara ketakwaan dan kemunafikan (baca Intisari Q.S. 2: 42). Semua aspek dalam jarak komunikasi ini semestinya bisa kita jalankan dengan baik dalam mementum Ramadhan yang mubarok ini.

Dalam konteks interaksi sosial kita, kemestian menjaga jarak merupakan bagian dari etika berkomunikasi. Dalam jarak fisik, ada etika yang mengatur seperti apa harusnya komunikasi dilakukan. Komunikasi antar teman, dengan sahabat, dengan tetangga, dengan tamu, dengan pacar, dalam keluarga, dan sebagainya, semuanya memiliki ketentuan kelayakan tersendiri. Begitupun dalam jarak ruang, ada ketentuan normatif menyangkut tempat-tempat tertentu yang dianggap sesuai atau tidak sesuai untuk setiap komunikasi yang kita lakukan. Dalam jarak waktu, ada saat-saat tertentu yang dianggap sesuai dan tidak sesuai untuk komunikasi yang kita bangun. Menyalahi setiap ketentuan jarak fisik, ruang dan waktu dalam komunikasi ini, akan menjadikan kegagalan dalam interaksi sosial yang kita bangun.

Intinya, social/ phsycal distancing dalam konteks pandemi, ramadhan, dan interaksi sosial kita sesungguhnya bagian dari pemeliharaan akan hak diri dan orang lain. Hak diri untuk terpelihara dan terjaga dari ancaman penyakit (tertular-menularkan), terbebas dari segala bentuk kemaksiatan dan dosa, tidak menyalahi etika dalam komunikasi sosial. Social/ phsycal distancing juga menjadi bagian dari upaya menjamin hak orang lain untuk selamat dan aman dari tertular penyakit (tertular-menularkan), meningkatkan amaliah diri untuk meraih kemaslahatan dan keberkahan ramadhan, menerapkan komunikasi yang beretika dan saling menghormati.

Karena itu, marilah kita pahami himbauan menjaga jarak dalam berinteraksi (social/ phsycal distancing) sebagai satu bentuk jaminan terhadap hak diri dan orang lain dalam interaksi sosial, baik keselamatan fisik (kesehatan), keimanan (ibadah), hingga aturan-aturan dalam interaksi sosial kita (etika komunikasi). Patuhi himbauan social/ phsycal distancing, hak komunikasi kita terjamin, keselamatan dan kesehatan kita terjaga, wabah virus bisa kita atasi bersama, Insyaa Allah. #Tetaplah di rumah #bekerja dari rumah #beribadah di rumah #jaga jarak berkomunikasi.

Check Also

PC IPNU IPPNU Kabupaten Mempawah adakan Pelatihan Desain Grafis dan Buka Bersama

Mempawah – NU Khatulistiwa, Desain grafis merupakan suatu hal Yang penting dimiliki oleh sebuah organisasi …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com