Home / Opini / Corona, Ujian Ketauhidan dan Kemanusiaan Kita

Corona, Ujian Ketauhidan dan Kemanusiaan Kita

Oleh: Dr.Ibrahim, MA

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya, maka sembahlah Dia dan  berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (Q.S. 19: 65)

Ayat di atas, adalah salah satu dari sekian banyak ayat al-qur`an (bahkan hadits) yang terkait dengan taudih dan pentingnya ketauhidan itu. Ayat ini sengaja dipilih sebagai pembuka artikel ini, sebagai landasan dan rujukan penting dalam membincangkan tema kecil ini; “Corona, ujian ketauhidan kita”.

Tak bisa dipungkiri, jika wabah corona telah berdampak dalam banyak aspek kehidupan manusia. Bukan saja aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sosial, tapi juga dalam aspek keagamaan. Corona telah memunculkan banyak priksi (paham atau pandangan) dalam keagamaan. Ada sebagian kita yang menganggapnya sebagai ujian Allah. Ada juga yang menganggapnya sebagai teguran atau bahkan azab dari-Nya. Terlepas dari apapun perbedaan tersebut, semua pandangan itu seharusnya tidak mengaburkan makna ketauhidan kita dalam beragama. Sebaliknya, perbedaan tersebut semesti berkonsekuensi secara sadar terhadap perilaku beragama setiap kita. 

Artikel ini tidak akan mendiskusi perbedaan pandangan tersebut, sebab itu hak setiap kita. Karena itu, setiap kita mungkin saja berbeda, tidak ada masalah. Soal mana yang benar, itu bukan lagi hak kita (manusia) menentukannya. Kebenaran itu milik Allah. Jika kita percaya bahwa corona adalah makhluk yang Allah hadirkan ke muka bumi ini, maka seharusnya kita juga percaya akan adanya maksud tertentu dari kehadiran wabah ini. Untuk maksud apa wabah corona hadir di bumi ini? Hanya Allah lah yang tahu akan hakikat kebenarannya. Tak perlu kita berdebat, apalagi saling menyalahkan.

Artikel singkat ini ingin mengajak kita semua untuk berdamai dalam perbedaan pandangan yang banyak muncul belakangan ini tentang wabah Corona. Tidak ada yang patut kita salahkan dari setiap perbedaan itu. Tak juga kita punya hak untuk menyatakan mana yang lebih benar dari semua perbedaan itu. Karena hakikat kebenaran itu milik Allah, satu-satunya Zat yang telah mengirimkan wabah corona ini ke muka bumi.

Terus, dimana wilayah pemahaman kita? Apa yang bisa kita lakukan dengan semua ini? Memahami hikmah dari setiap peristiwa itulah wilayah kita, meskipun dengan segala kemungkinan perbedaannya. Kemudian menjadikan pemahaman-pemahaman tersebut sebagai dasar memperbaiki diri dan sikap keber-agamaan kita. Karena itu, mestinya setiap pandangan yang kita yakini, berkonsekuensi terhadap perubahan atau bahkan perbaikan praktek hidup dan ibadah kita kepada Allah Swt.

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan kita dalam menyikapi wabah corona ini, satu hal yang kita tidak boleh berbeda, yakni soal ketauhidan. Bahwa kita harus percaya bahwa corona itu makhluk ciptaan Allah, sama halnya dengan kita dan makhluk-makhluk lain di alam ini (tauhid Rububiyah). Bahwa corona itu adalah ciptaan-Nya yang juga tunduk, patuh dan menghamba atas takdir sang penciptanya (tauhid Uluhiyah). Bahwa kita percaya adanya maksud dan tujuan Allah Swt dengan segala sifat-Nya mendatangkan satu makhluk yang bernama corona ke muka bumi ini (tauhid Asma` wa Sifat).

Dengan menempatkan kehadiran corona dalam semua makna tauhid di atas, selayaknya kita bisa menempatkan diri, pemahaman, dan sikap keagamaan yang tepat. Jika kita meyakini wabah corona itu sebagai ujian dari-Nya, maka kewajiban kitalah untuk menghadapi ujian ini dengan ikhlas, sabar dan tawakkal (Q.S. 3: 153 & 155; Q.S. 3: 159). Jika kita menyakini corona itu sebagai teguran atau bahkan azab atas dosa dan kelalaian kita, maka ini saatnya untuk kita segera bertaubat, perbanyak ibadah dan mohon ampunan kepada-Nya (Q.S. 66: 8; Q.S. 3: 135-136).

Jika kita percaya bahwa semua yang berlaku di bumi ini adalah atas kehendak dan kuasa mutlak Allah, termasuk kehadiran corona yang sedang mewabah, maka sepatutnya kepada Allah sajalah kita meminta perlindungan dan pertolongan. Kepada-Nya semata kita tunduk dan berserah diri (Q.S  9: 129).

Jika kita percaya bahwa corona berasal dari zat yang satu, sebagaimana kita manusia dan semua makhluk yang ada dimuka bumi ini, maka semestinya wabah ini membawa kita pada rasa kebersamaan, persaudaraan dan saling peduli sesama. Saling berbagi, melindungi, mengayomi dan membantu sesama (Q.S. 2: 177). Bukankah semua itu ajaran dan pertintah dari zat yang Maha Rahman dan Maha Rahim kepada  setiap hamba-Nya.

Dengan menempatkan corona sebagai sebuah ujian atas ketauhidan kita, maka semestinya kehadiran wabah ini memberikan pelajaran yang sangat penting dalam keber-agamaan kita. Kehadiran corona justru menjadi sarana Allah Swt meluruskan keyakinan dan tauhid kita dalam beragama. Sebagai ujian ketauhidan, corona sesungguhnya membawa kita pada pemahaman dan perilaku beragama yang lurus, praktek beragama yang berlandaskan pada nilai ke-Esaan Tuhan. Bahwa Dia yang menghidupkan, maka Dia juga yang mematikan. Dia yang menciptakan, maka Dia juga memusnahkan. Dia tempat bermula segala sesuatu, Dia juga tempat kembali segalanya. Dia yang maha kuasa, kepada-Nya kita mesti berlindung. Dia yang Maha Pengampun, kepada-Nya lah kita mesti bertaubat atas segala dosa. Dia yang Maha Pemelihara, kepada-Nya kita minta perlindungan dari wabah bencana ini.

Semoga dengan memahami ujian tauhid ini membawa kita semakin dekat kepada Allah, semakin banyak beribadah kepada-Nya, dan semakin peduli dengan sesama. Teristimewa suasana Ramadhan yang penuh kemulian ini. Semoga dengan memahami ujian tauhid dan kemanusiaan ini pula Allah Swt menyegerakan membuka pintu ampunan, Rahmat dan keberkahan-Nya untuk kita semua, terutama mengakhiri wabah corona dari muka bumi ini.  Aamiin ya Mujiibassailiin. Akhirnya, mari kita jadikan fenomena corona yang hadir bersamaan dengan bulan Ramadhan ini sebagai momentum meneguhkan ketauhidan dan kemanusiaan kita dalam beragama.  Teruslah perbanyak amaliah ramadhan di rumah, berzikir dan bertafakkur di rumah, bertaubat dan mohon ampunlah kepada Allah dari rumah masing-masing. Lurus dan perbaiki tauhid kita dan taudid orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita di rumah. Wallahu a`lamu

Check Also

PC IPNU IPPNU Kabupaten Mempawah adakan Pelatihan Desain Grafis dan Buka Bersama

Mempawah – NU Khatulistiwa, Desain grafis merupakan suatu hal Yang penting dimiliki oleh sebuah organisasi …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com