Home / Opini / Antara Kuasa, Harta,dan Ketuhanan

Antara Kuasa, Harta,dan Ketuhanan

Oleh: Zainur Rifki

Warga Gang Sentosa Kota Singkawang / Mahasiswa IAIN Pontianak

Kehidupan dunia memanglah suatu masalah bagi kalangan sufi, siksaan-siksaan kerap kali di rasakan sejak pertama kali kita lahir dari rahim sang ibu dan menghirup udara bebas. Rasa lapar, haus dan khawatir melangkah bersama mengirungi perjalanan hidup manusia. Bukan sekadar kaum sufi Islam sahaja yang berkata demikian, kalangan agamawan Budha juga meyakini bahwa hidup ini adalah siksaan bagi setiap insan yang imannya belum sempuran. Dalam keyakinan Budha, orang dengan kadar pahala yang lebih sedikit daripada dosa akan dilahirkan kembali ke dunia ini untuk menjalankan siksaan hidup.

Namun dikemudian hari, tidak hanya masyarakat kuil saja berdalih demikian, sosiolog dan ahli kesehatanpun kami rasa akan menganggap dunia ini adalah miniatur neraka. Ancaman wabah virus Covid-19 yang siap menjadikan kita semua inang kapan saja dan di mana saja membuat aktivitas sosial, ekonomi dan keagamaan kian melemah. Pantangan demi pantangan banyak dikemukakan melalui grub Whatsapp keluarga, kampus, organisasi bahkan grub yang biasa membagikan link film dewasa mendadak religius seketika. Fenomena ini cukup memadai bahwa realitas saat ini menunjukkan keputus asaan masyarakat.

Fenomena keputus asaan di atas boleh jadi sama seperti yang dirasakan ilmuan-ilmuan modern ketika itu. Permadalahan yang akut tak dapat di selesaikan dengan kadar pemikiran dan ilmu yang mereka miliki membuat mereka menyerah dan berpasrah pada agama. Namun di sisi berbeda, agama yang sebelumnya mereka yakini sebagai tempat memperoleh solusi dan berserah diri ternyata juga tidak bisa menjadi klinik dari permasalahan. Bagaimana tidak demikin, yang mereka lihat adalah keadaan masyarakat beragama itu sendiri atau istilah lain dari Sosiologi Agama dan menganggap inilah wujud agama. Hingga pada akhirnya para ilmuan sampai pada titik kesimpulan “Tuhan tidak turun ke bumi dan membunuh musuh-musuh pengikutnya”. Walupun sebagian ilmuan justru menjadikan agama sebagai pengaruh Epistimologi dan landasan berfikir untuk penyelesaian masalah.

Seorang Sosiolog Iran contohnya, Ali Syari’ati dengan kuliahnya seputar Monoteism dan Multiteism atau Politeism. Dari dua sesi kuliah yang kami baca dalam sebuah artikel, Ali Syari’ati menunjukkan berapa “marahnya” ia dengan pola beragama manusia yang meburutnya jauh dari tujuan turunnya agama itu sendiri. Menurutnya, para nabi Monoteism berperan penting sebagai juru selamat bagi kaumnya yang tertindas. Dalam pandangan historis nabi monotheism selalu lahir dari rahim golongan tertindas layaknya Musa dari bani Israel melawan Fir’un dengan kepercayaan Pagannya, Ibrahim melawan Otoritas Namrud dan menghancurkan berhala-berhala. Ungkapnya kemudian, pemeluk ajaran monotheism bertransformasi menjadi sosok tinarani baru yang dulu pernah menjadi musuh mereka serta alasan diutusnya para nabi, serta menjadikan ajaran monotheism sebagai jubah kekuasaan layaknya ajaran Multitheism. Dulu Fir’un ditenggelamkan ke dalam laut merah dan Qorun dikubur oleh Musa, namun Fir’un lahir dan mengubah identitasnya sebagai khalifah dan Qorun tinggal di perkebunan dengan budak yang kelaparan, ungkapnya. Hingga diperhujung bacaan lahirlah kesimpulan Multitheism bersatu padu dengan Monotheism.

Bagi kami, kesimpulan demikian tidak bisa diterima begitu saja karna di khawatirkan beberapa pihak mengalami ketersinggungan. Alangkah baiknya kita bedah kembali artikel-terkait sebelum terjadi huruhara yang tak di inginkan dikalangan agamawan dan masyarakat.

Monotheisme menurut Ali Syari’ati
Ibrahim adalah bapak Monotheism, semua penganut Monotheism membenarkan ini. Jika ditilik dari teleskop sejarah, salah satu perjuangan Ibrahim adalah mencari kebenaran tentang tuhan melalui obserfasi alam. Tidak hanya itu, kecerdasan Ibrahim saat menghancurkan berhala-berhala kayu milik Namrud sang pimpinan tiran dizamannya selalu terngiang-ngiang ditelinga kita , begitu juga kisah Musa melawan Fir’un.

Para nabi menerima wahyu dari tuhan melalui Jibril, kebenaran yang datang langsung dari sang maha benar. Tidak ada yang bisa menyalahi keabsahan wahyu dari tuhan, kira-kira demikian ungkapan yang benar. Berbeda dengan kenyataan yang tercatat dalam sejarah, Isa adalah seorang rasul dengan kebenaran wahyu yang dibawanya, namun tetap saja ajarannya ditentang oleh pihak lain. Kaum Farisi adalah golongan yang menentang Isa hingga berujung pada penyaliban. Seperti yang diketahui, kaum Farisi adalah praktisi Taurat namun dengan gaya hidup hedonis. Memamerkan jubah-jubah dan alat keagamaan yang mahal serta penuh kemunafikan adalah identitas mereka. Terjadilah perseteruan antara Isa dan kaum Farisi hingga berujung pada penyaliban Isa. Penolakan terhadap Isa mengisaratkan tertolaknya juga wahyu yang dibawanya karena terbentur dengan keserakahan Kaum Farisi.

Ali Syari’ati mengumpamakan kepentingan perorangan seperti Kaum Farisi di atas sama seperti berhala yang kemudian menjadi alasan penolakan ajaran ke-esa-an, sebagaimana Kafir Quraisy menolak ajaran Muhammad. Dari pembahasan tersebut, Terjadilah persamaan sebagai berikut.

Pembebasan, kesejahteraan kolektif = Monotheism

Penindasan, kekayaan pribadi = Multihteis

Berhala adalah Status Quo masyarakat Pagan ketika era kenabian yang menjadi alasan untuk menolak Ajaran Para nabi. Penolakan terhadap Monotheis adalah keengganan meninggalkan rasa nyaman yang selama ini bersemayam dalam psikologi mereka.

Agama dan kepentingan kelompok
Tercatat dalam sejarah, manusia prasejarah telah meyakini kekuatan Magis yang besar. Kekutan Magis tersebut kemudian menjadi tempat untuk berserah diri bagi mereka, terbukti dengan sitemukannya peradaban Megalitikum dengan batu besar sebagai simbol ketuhanan.

Dizaman yang lebih maju, corak agama juga mewarnai terbentuknya suatu peradaban. Mulai dari struktur masyarakat, arsitektur dan perekonomian diwarnai oleh nuansa-nuansa Magis. Semisal kebudayaan Roma, yang konon katanya pendiri kota tersebut lahir dari seorang wanita yang sel telurnya dibuahi oleh sperma Dewa Mars. Raja romulus adalah keturun dewa dan menjadi peletak batu pertama di kota Roma. Tidak hanya itu, mitologi juga mengatakan bahwa raja Romulus di besarkan oleh seekor Serigala betina, betapa magisnya kisah tersebut syarat akan nuansa agama.

Ya, terbentuknya suatu peradaban tidak terlepas dari corak agama, boleh jadi agama adalah spirit terbentuknya peradaban. Peperangan-peperangan antar suku dan kerajaan dizaman dulu secara tidak langsung mewakili agama yang mereka anut.

Psikologi Dasar Manusia

Didalam sejarah islam sensiri, peperangan melawan orang kafir bukanlah melawan musuh yang non-agama, melainkan melawan kelompok yang memiliki pandangan berbeda tentang tuhan. Boleh jadi agama adalah bendera perang yang membutakan seluruh peserta perang. Hukum perang tentunlah lekat dengan kemenangan, dengan demikian ada sekelompok pemenang dengan penganut agama tertentu. Lantas apakah agama menjadi hawa dengan tiupan peperangan?, Tentu saja tidak. Untuk menjawab ini kita butuh sesuatu yang lain dari Sikologi Psikologi dasar manusia.


Dalam ilmu Psikologi, manusia memiliki lima kebutuhan dasar diantaranya adalah kebutuhan fisiologi, rasa aman, aktualisasi diri dan lainnya. Kebutuhan fisiologi ialah kebutuhan manusia bisa bertahan hidup seperti SPP (sandang, pangan dan papan). Agama sebagai filtrasi dari kebutuhan fisiologi tersebut, seperti mana yang boleh kau makan serta kebalikannya.

Disisi lain agama juga mengajarkan bahwa kita berhak untuk mendapatkan keuntungan dengan menjabat disuatu profesi atau berinvestasi bahkan kita berhak untuk memerangi kelompok yang ingin mengusik isi periuk kita. Semisal perang boleh jadi karena usaha mempertahankan rasa aman dan kebutuhan fisiologi seseorang, terlepas menang ataupun kalah adalah takdir penentunya.

Begitu juga menjadi sosok kapitalis dengan berjuta investasi dan pabrik adalah bukan hal mustahil. Terlepas dari apapun agama sang pemilik pabrik atau pejabat otoriter, namun itulah kenyataannya bahwa dia orang yang kaya. Ia lebih mampu memenangkan perekonomian dan kekuasaan daripada yang orang lain. Lantas salahkah agama yang Ia anut, atau berubahkah konsep ketuhanan agama yang di anutnya?. Disini kita harus memisahkan agama dengan sesuatu yang lain dari diri manusia, bertuhan adalah identitas manusia sementara menjadi pemenang adalah identitas manusia dilain sisi.

Terbentuknya masyarakat dominan bukanlah karena agama yang di anutnya melainkan karna keberhasilan suatu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar psikologinya (sesuatu yang lain dari manusia). Perselingkuhan Monotheisme dan Multiteisme adalah kemustahilan, karena keduanya berbeda dalam memahami eksistensi sang pencipta. Persamaan dapat dilihat apabila kita tilik dari sisi Sosiologi, namun persamaan tersebut bersandarkan kepada esksistensi manusia secara universal bukan pada agama apa yang dianutnya. Kesalah fahaman ini mungkin diterapkan oleh orang-orang kiri yang melihat Eksistensi agama melalui Sosiologi saja sehingga menimbulkan rasa pesimis dengan konsep agama tertentu yang tak mampu mewujudkan keinginanya untuk sejahtera.

Check Also

PC IPNU IPPNU Kabupaten Mempawah adakan Pelatihan Desain Grafis dan Buka Bersama

Mempawah – NU Khatulistiwa, Desain grafis merupakan suatu hal Yang penting dimiliki oleh sebuah organisasi …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com