Home / Opini / Mengawal NU di Tengah Pusaran Globalisasi

Mengawal NU di Tengah Pusaran Globalisasi

Oleh:Iman Setiadi

Pengurus PCNU Kabupaten Ketapang

Tanpa terasa sekarang sudah memasuki tahun 2020, itu berarti telah hampir satu abad NU berdiri dengan kokoh di bumi pertiwi. Berdirinya NU dari mulai organisasi keagamaan lokal bergerak ke Nasional hingga menjadi satu satunya organisasi keagamaan nusantara yang go internasional dengan dibuktikan ada nya cabang cabang Luar biasa NU yang didirikan di luar negeri.

Dinamika perjalanan NU dari masa ke masa mengalami berbagai macam ujian dan tantangan perjuangan. NU adalah sebuah ormas yang mengusung cita cita mulia untuk membentengi umat islam dengan faham Ahlu sunnah wal jama’ah (ASWAJA) dan membangun umat menuju masyarakat madani atau “civil society” seperti digambarkan dalam Al Qur’an yaitu Masyarakat terbaik (Khairah Ummah), Masyarakat seimbang dan dinamis ( Ummatan Washathon) dan Masyarakat moderat (Ummah muqtasidah) yang mengambil konsep Rosulullah yaitu “rohmatal lil ‘aalamin” yang humanis, moderat dan toleran.

Perjalanan NU dari pertama berdiri sampai hampir satu abad ini tidak ringan dan mengalami berbagai macam situasi tidak mudah, dari situasi perjuangan melawan penjajah, perjuangan mendirikan negara pada awal berdirinya, perjuangan menstabilkan politik di masa orde lama, perjuangan mengawal ideologi pancasila, perjuangan melawan ketertindasan, kediktatoran dan ketidak adilan di masa orde baru serta sekarang perjuangan mengawal keutuhan NKRI ditengah badai Uforia khilafah dan faham sektarian takfiri.

Sebuah perjalanan yang tidak ringan dalam langkah langkah nya. Kalau di jaman dahulu tantangan NU adalah “penyelewengan kekuasaan” (power tens to courup) yang menyebabkan adanya homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia lain atau Diktator), sekarang pasca reformasi kebablasan ini dan maju nya tekhnologi digital, tantangan NU adalah “people power atau people tens to courup” (terlalu berkuasa nya masyarakat terhadap kekuasaan).

Di jaman people power ini, NU menjadi bulan bulanan dari para lawan ideologi nya yaitu kelompok khawarij gaya baru (wahabi), kelompok takfiri sampai pada kekompok yang mengusung cita cita khilafah. Dengan menggunakan strategi people power (kekuatan masa) dan kecanggihan media sosial mereka berusaha meruntuhkan hegemoni NU pada umat dari dalam dengan mempengaruhi “oknum oknum warga NU untuk memecah NU dari dalam seperti NU Garis Lurus, NU mbah Hasyim atau kelompok lainnya.

Dari luar secara masiif dan terstruktur mereka meniupkan badai fitnah kepada NU dan mengkampanyekan bahwa NU tercemar Liberal, Syi’ah, ahlu bid’ah dan terkontaminasi dengan komunis. Propaganda yang mereka lakukan juga menggunakan strategi dari “snouk Hurgronye” yang sukses memisahkan kelompok bangsawan dan kaum abangan rakyat aceh dengan para ulama’ nya pada jaman dahulu. Sekarang NU berusaha di adu domba dengan sesama ulama NU dan para habaib yang dahulu juga pilar dalam mendirikan NU.

Kejadian ini sudah di prediksi oleh para sesepuh NU dimasa lalu seperti prediksi “Gus Miek yang berkata kepada Gus Dur bahwa kelak NU akan dapat badai fitnah yang luar biasa walaupun kata beliau hanya seumur jagung fitnah nya itu. Kenyataannya NU difitnah macam macam dan para ulama’ nya dicaci maki. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh ka’ab Al ahbar seorang ahli tafsir mengatakan ” tidak ada tokoh bijak bestari disebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang orang atau kelompok yang mencaci maki dan mendengki”.
Syeikh Jalaludin As Syuyuti juga mengatakan “Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicaci maki orang orang bodoh”.

Oleh karena itu kita sebagai warga Nahdiyin harus selalu sabar, kuat, istiqomah, bersatu bersama para ulama NU dalam “Mengawal NU ditengah pusaran globalisasi” ini, dengan selalu ta’at dan ikut dengan para ulama NU, tidak mudah goyah karena ada nya badai fitnah dan provokasi serta selalu berusaha untuk melawan dengan “hikmah, mau’dhoh hasanah wa jaadil hum billati hiya akhsan (berdebat secara ilmiyah dan elegan).

Kita juga harus melawan dengan memperkuat ukhuwah Nahdiyah, membentengi, menyiapkan kader kader muda di Pesantren pesantren NU, di banom banom NU dan di kalangan masyarakat awam. Supaya badai fitnah yang merajalela ini cepat berlalu dan marwah, cita cita NU untuk menjadi rohmatal lil ‘aalamiin tetap terjaga dimasa depan sampai akhir pada zaman.

Check Also

PC IPNU IPPNU Kabupaten Mempawah adakan Pelatihan Desain Grafis dan Buka Bersama

Mempawah – NU Khatulistiwa, Desain grafis merupakan suatu hal Yang penting dimiliki oleh sebuah organisasi …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com