Home / Opini / Gus Muwafiq: Antara Hate Spin dan Konstelasi Memperebutkan Kebenaran

Gus Muwafiq: Antara Hate Spin dan Konstelasi Memperebutkan Kebenaran

Oleh: Buhori

Pengurus Wilayah GP Ansor Kalbar

Kisaran dua hari belakangan ini, masyarakat muslim Indonesia kembali dihebohkan dengan beredarnya rekaman video salah satu penceramah kondang yang membahas tentang sosok nabi Muhammad saw di masa kecil. Dalam video itu, KH.Ahmad Muwafiq atau yang kerap disapa Gus Muwafiq menjelaskan perihal peristiwa kelahiran nabi. Dengan mencoba “membumikan” peristiwa itu, beliau menceritakan peristiwa kelahiran nabi yang hampir sama dengan manusia biasa, serta masa kecil beliau yang dijalani sebagaimana layaknya anak kecil secara umum, dengan tidak menafikan beberapa khasaish atau keistimewaan yang menyertainya, sebagai pertanda bahwa beliau adalah “calon“nabi.

Tak pelak, konten ceramah yang dinilai sedikit bersebrangan dengan pemahaman kaum muslim kebanyakan ini menuai banyak kontroversi. Pro dan kontra banyak terjadi di tengah masyarakat, walaupun sang penceramah telah meminta maaf secara terbuka kepada seluruh umat Islam. Bahkan ada yang beranggapan narasi yang disampaikan mengandung unsur penghinaan dan merendahkan martabat nabi, sehingga klaim ini kian menambah kegaduhan yang terjadi di tengah umat.

Jika ditelusuri lebih dalam, tuduhan adanya penghinaan terhadap sosok nabi yang mulia ini terkesan bias dan serampangan. Sebab narasi yang disampaikan oleh Gus Muwafiq masih dalam ranah ikhtilaf yang mu`tabarah di kalangan ulama dan ahli sejarah, dan masuk pada wilayah profan (furu`). Jejak perbedaan pandangan itu dapat ditelusuri di beberapa literatur, seperti Fiqhu as-Sîrah karya Muhammad al-Ghazali, ar-Rahîq al-Makhtûm karya Mubarakfuri, Nur al-Abshar fi Manāqibi Āli Baiti an-Nabiyyi al-Mukhtār karya Mukmin bin Husein, dan beberapa referensi lainnya. Hingga saat ini tidak ada satu fatwa, baik individu maupun lembaga, yang menyatakan karya-karya itu berisi penghinaan dan pelecehan terhadap keagungan nabi.

Hate Spin dan Kontestasi Memperebutkan Kebenaran Islam

Saya melihat, setidaknya kegaduhan yang terjadi ini memperlihatkan dua fenomena sosial, yaitu fenomena hate spin (pelintiran kesalahan) dan adanya kontestasi memperebutkan kebenaran. Hate spin yang secara literal diartikan sebagai pelintiran kesalahan atau hasutan kebencian merupakan perasaan keterhinaan dan ketersinggungan (indignation) yang sengaja diciptakan, dan digunakan sebagai strategi memobilisasi pendukung dan menyerang kelompok sasaran. Ketersinggungan agama tidak hadir sebagai respon mekanis atas sebuah peristiwa, akan tetapi jika ditelisik lebih dalam dapat juga merupakan rekayasa strategis yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu. Fenomena semacam ini banyak kita lihat dalam peristiwa-peristiwa kebencian bernuansa agama yang kini marak di Indonesia.

Gus Muwafiq bisa saja menjadi satu dari sekian orang yang menjadi target sasaran. Kesalahan kecil ataupun penyampaiannya yang keluar dari arus mainstream akan mampu diolah sedemikian rupa menjadi “gorengan” yang dimanfaatkan untuk menyudutkan sasaran dan menyulut kemarahan komunal. Dengan memanfaatkan media sosial, para agen pemelintir kebencian mengolah rekayasa kebencian menjadi hasutan kebencian massal. Maka berbondong-bondonglah warga turut terhasut sekaligus menghasut, atau diistilahkan sebagai keterhasutan massal.   

Kedua, peristiwa ini menampakkan adanya gejala kontestasi memperebutkan kebenaran dalam Islam. Fenomena ini kembali menguat di Indonesia seiring dengan banyaknya ditemui perang klaim kebenaran (truth of claim) yang ditampilkan satu kelompok Islam tertentu disertai dengan menyudutkan atau bahkan menyalahkan kelompok atau pemahaman lainnya yang berbeda. Fenomena perebutan kebenaran agama sejatinya tidak hanya terjadi di dunia Islam saja. Di kalangan penganut agama-agama besar lainnya, fenomena serupa juga pernah terjadi, sehingga hal ini menjadi sesuatu yang bersifat universal.

Pertanyaan yang patut dilontarkan akan hal ini adalah apakah kontestasi ini benar-benar bersifat akademis-teologis ataukan karena tujuan-tujuan politis lainnya?  Kontestasi perebutan kebenaran (claim of truth) dalam koridor akademik keilmuan tentunya akan menimbulkan sikap kreatif dan mampu menghasilkan gagasan yang luar biasa. Sebagaimana perdebatan al-Ghazali dengan para filsuf yang di diwakili oleh Ibnu Rushd. Hasil dari perdebatan ilmiah itu maka lahirlah dua karya fenomenal, Tahāfut al-Falāsifah karya al-Ghazali dan Tahāfut al- Tahāfut karya Ibn Rushd. Akan tetapi, kontestasi yang disusupi oleh tujuan-tujuan tertentu, tentu hasilnya akan beda. Perbedaan yang dihasilkan dari kontestasi ini tidak akan pernah menjadi rahmat, namun akan menjadi media pemecah umat.

`ala kulli hāl, sebagai umat Islam, yang begitu tinggi menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan, sudah selayaknya kita kembali menampilkan nilai-nilai humanisme dalam beragama. Humanisme dalam artian menghormati manusia dalam arti sepenuhnya, bukan karna ia kaya, bukan karna ras, etnis, budaya dan bahkan agama yang berbeda. Bukan pula karena ciri-ciri atau kemampuannya, melainkan semata-mata karena ia seorang manusia. Humanisme yang menolak untuk bertindak kejam terhadap orang lain, baik atas nama bangsa maupun agama.

Check Also

PC IPNU IPPNU Kabupaten Mempawah adakan Pelatihan Desain Grafis dan Buka Bersama

Mempawah – NU Khatulistiwa, Desain grafis merupakan suatu hal Yang penting dimiliki oleh sebuah organisasi …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com