Home / Berita / HMJ PIAUD Gelar Bedah Buku Peradaban Bersarung

HMJ PIAUD Gelar Bedah Buku Peradaban Bersarung

Pontianak – NU Khatulistiwa, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Institut Agama Islam Negeri Pontianak telah menggrlar bedah buku fenomenal yaitu Buku Peradaban Sarung karya KH.Achamad Dhofir Zuhri yang merupakan Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Alfarabi Malang. Bedah Buku ini digelar di UPT IAIN Pontianak, pada Sabtu pagi. (29/12/2018)

Pembukaan bedah buku ini dihadiri oleh Wakil Dekan FTIK yaitu Nur Hamzah serta kepala Jurusan PIAUD, dan mahasiswa IAIN Pontianak. Sayangnya dalam kesempatan bedah buku kali ini Kyai Dhofir tidak bisa menghadiri dikarenakan ada kendala. Namun hal itu tidak membuat Bedah Buku ini tidak seru, karena yang membedah adalah dua santri Kyai Dhofir yang juga majasiswa ST Filsasat Al-Farabi Malang. Dua Santri tersebut adalah Adnan dan Fauzi, serta Hasani Mubarak yang menjadi pembicara dari sudut pandang pembaca.

Hasani menjelaskan bahwa isi buku ini adalah kumpulan esai yang sebagian tulisannya terdapat di postingan FB Kyai Dhofir. Ia memaparkan bahwa buku Peradaban Sarung ini berisi tentang santri l, kyai dan pesantren , yang di dalamnya dibahas mengenai filosofi santri, bagaimana etika seorang santri.

“Ketika membaca buku ini kita akan menemukan makna filosofis santri, dan filosofis tersebut bisa kita tiru”ungkapnya. ia juga menambahkan bahwa di bagian belakang buku ini membahas pengalaman intelektual seorang Kyai Dhofir yang pengalamannya luar biasa.

Adnan memaparkan bahwa asal usul buku ini sebenarnya adalah tantangan pihak gramedia kepada Kyai Dhofir untuk menulis tentang pemikiran pemikirannya. Kyai Dhofir telah menulis 3 buku yaitu Peradaban Sarung, Kondom Gergaji, dan Filsafat Untuk Orang Malas, namun yangvterakhir belum diterbitkan di gramedia karena kemasan bahasanya belum seperti bahasa milenial.

Ia menjelaskan bahwa buku peradaban sarung berisi 4 bab yaitu pertama tentang santri, kedua tentang kyai, ketiga tentang kosmologi pesantren dan yang terakhir tentang relasi sumbangsih antara ketiga poin tersebut.

Sedangkan fauzi ketika mengawali pembicaraan mengatakan bahwa mula-mula yang menjadi pwrtanyaan ketika membaca buku ini adalah “mengapa harus bangga menjadi santri?”. Ia menjelaskan buku tersebut dari prespektif sosial dan budaya.  Ia mengatakan bahwa santri memiliki wawasan luas namun penampilannya sederhana. Akhlak santri adalah hal yang menonjol yang menjadi karakteristik santri. (Maulida)

Check Also

Rais Syuriyah PWNU Kalbar Hadiri Pelantikan IPNU dan IPPNU Kabupaten Ketapang

Ketapang – NU Khatulistiwa, Pimpinan Cabang IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar …

Tinggalkan Balasan