Home / Opini / Spiritualitas di Zaman Kacau

Spiritualitas di Zaman Kacau

Oleh : Ach Tijani

Dosen IAIN Pontianak / Anggota Lakpesdam NU Pontianak

Petikan judul di atas diambil dari sampul buku yang ditulis oleh Haidar Bagir dengan Judul Islam Tuhan Islam Manusia. Judul buku tersebut hampir serupa maknanya dengan upaya yang telah dihadirkan Gus Dur dalam Islamku Islam Anda Islam Kita.

Keduanya sama-sama memotret spritualitas agama dalam kehidupan manusia. Terdapat pemeluk agama yang sangat kental nuansa spritualitas vertkal,  sehingga ukuran setiap perbuatan selalu pada ukuran halal-haram atau surga neraka. Sedangkan kehidupan dunia saat ini menjadi terabaikan.
Pilihan model keberagamaan seperti di atas menjadi pilihan sebagaian besar umat beragama. Sehingga beragama seakan-akan hanya untuk kepentingan Tuhan semata. Fenomena ini kemudian meluas pada pandangan politik,  sehingga kelompok umat beragama dalam model ini enggan untuk memilih calon pemimpin di luar agamanya walau dalam konteks demokrasi dan pluralitas sekalipun, seperti di Indonesia.
Muncullah hujatan bahkan semacam fatwa yang mengharamkan memilih calon pemimpin kafir. Pandangan kelompok ini memaknai spritualitas pada identitas tubuh,  bukan lada visi dan prilaku. Sehingga calon yang dalam identitas tubuhnya beriman dianggap representasi pilihan yang tepat,  walau dalam visi dan prilaku boborok.
Pertanyaannya,  benarkah identitas iman itu hanya ada pada identitas tubuh?. Sehingga mau tidak mau harus menjadi pilihan dan mengabaikan identitas iman pada visi dan prilaku. Dengan bahasa yang lebih sederhana,  seorang yang beriman tetap lebih baik dari yang tidak beriman walau korup sekalipun.
Pandangan ini sangat dekat dengan spritualitas vertikal semata atau dalam bahasa Haidar Bagir sangat Islam Tuhan. Secara normatif memang tidak salah,  namun mengabaikan spritualitas pada visi dan prilaku yang tumbuh pada tubuh yang tidak beriman juga kuramg tepat.
Karenanya Haidar Bagir mencoba menghadirkan Islam manusia sebagai dialektika lanjutan dari sekadar pemahaman Islam Tuhan. Agak sulit menghubungkan keduanya dengan suatu tulisan singkat, namun kasus Kristen RRC yang mengganti gambar Yesus dengan dengan Presiden Xi Jinping cukup tepat untuk menggambarkan kerisauan Agama Tuhan yang berkelanjutan pada Agama Manusia.
Pilihan mengganti gambar Yesus tersebut suatu bentuk gejolak spritualitas terhadap kejenuhan Agama Tuhan yang meneruskannya sebagai Agama Manusia. Dalam hal ini Presiden Xin Jinping lebih dapat diterima dengan berbagai visi dan tindakan nyatanya dalam program-program pengentasan kemiskinan.
Nah jika di Indonesia masih bersikukuh dengan Islam Tuhan saja,  suatu saat bukan tidak mustahil akan terjadi kejenuhan serupa dengan apa yag terjadi pada Kristen di RRC. Maukah Islam Indonesia seperti itu?…

Check Also

Rais Syuriyah PWNU Kalbar Hadiri Pelantikan IPNU dan IPPNU Kabupaten Ketapang

Ketapang – NU Khatulistiwa, Pimpinan Cabang IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar …

Tinggalkan Balasan