Home / Opini / Menghidupkan Pemikiran Haidar Bagir dalam Kehidupan

Menghidupkan Pemikiran Haidar Bagir dalam Kehidupan

Oleh : M Hasani Mubarok*

Sebuah buku yang cukup fenomenal beberapa bulan terakhir ini ditulis oleh Dr. Khaidar Bagir direktur utama Mizan, sebuah penerbitan buku-buku keislaman yang cukup masyhur di negeri ini. Membaca bukunya yang terakhir berjudul “Islam Tuhan, Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau” mengajak kita masuk pada topik inti obrolan seputar kecenderungan pemikiran Islam beberapa dekade terakhir ini. Sebuah kegelisahan umum tentang fenomena ekspresi beragama yang kerap mengundang berbagai reaksi pro atau kontra sekaligus di lapangan.

Bagi mereka yang giat mengikuti dan mengkaji warna-warni pemikiran Islam sejak awal akan menemukan bahwa pemikiran yang disajikan oleh Khaidar Bagir ini bukan sesuatu yang baru. Pemikiran ini merupakan keberlanjutan panjang narasi pemikiran Islam yang berkembang. Minimal dari sisi paling sempit, wacana buku ini tidak begitu jauh dari apa yang pernah ditulis oleh Gus Dur dalam bukunya “Islamku, Islam Anda dan Islam Kita”.

Seiring kecenderungan pemikiran Islam dari tahun 70-an, reinterpreteting terhadap Islam sebagai sebuah nilai yang sarat dengan makna substansial dalam kehidupan, wacana dan upaya menggiring pemikiran umat Islam pada nilai-nilai itu mulai dilakukan dengan berkecambahnya pemikir-pemikir mulai dari Cak Nur, Gus Dur sampai generasi Jaringan Islam Liberal. Silakan dihitung, betapa banyak jenis-jenis pemikiran Islam yang mencoba melakukan eksperimentasi terhadap perbaikan umat Islam di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum.

Membaca Khaidar Bagir, sisi paling menarik untuk dikaji tentu bukan pada sederetan kegelisahan pemikiran yang merupakan buah dari refleksi dan kontemplasi panjangnya tentang Islam yang dia amati dan selami, tapi pada solusi yang ditawarkan dalam rangka memperbaiki umat Islam secara keseluruhan. Seruannya agar menyelami spiritualitas mendalam terhadap Islam sebagai sebuah agama diharap bisa menjadi obat bagi kondisi kaum beragama yang hari ini seperti tercabik-cabik dalam banyak faksi yang mengakibatkan kerapkalinya gesekan tak terhindar.

Peluruhan Dunia

Ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dalam rangka memposisikan pemikiran Khaidar Bagir di tengah-tengah pusaran pemikiran yang semakin beragam. Pertama mungkin titik tolak dari mana Khaidar bertolak untuk mengarungi samudra kekacauan zaman. Pertama, saat membaca isi pertama dari tulisan itu kita akan disuguhkan dengan sebuah tulisan berjudul “Dunia Kita Yang Sedang Meluruh”. Realita peluruhan (degradasi) ini kira-kira berbicara seputar silang sengkarutnya kehidupan manusia akibat kemajuan serta upaya-upaya perbaikan yang justru berada di luar kontrolnya.

Membaca buku ini sepertinya cocok jika disandingkan dengan membaca buku The Third Way-nya Antony Giddens, walau banyak sekali pandangan kritis terhadap gagasannya, namun berita bahwa dunia bergerak dalam pola Randomness –meminjam bahasa Nassem Taleb- dan melaju dengan nalar beragam yang sulit diterka telah membuat kehidupan masuk dalam sebuah pusaran membingungkan yang tak bisa dibaca hanya dengan melihat dari satu jenis optik dan posisi. Pada akhirnya, Khaidar Bagir juga mendukung pandangan bahwa dunia sudah tidak memerlukan ideologi-ideologi besar yang dulu pernah bercokol seperti Komunisme dan Kapitalisme serta banyak Isme lainnya untuk menjadi Messiah kehidupan hari ini –mungkin juga- esok.

Demikian kehidupan hari ini yang begitu sulit ditebak, membawa manusia dan kehidupannya masuk dalam sebuah fase peluruhan yang cukup signifikan. Kita tentu seringkali berfikir, kenapa seorang dengan basic pendidikan Serjana Tehnik sipil misalnya, harus menjadi guru sekolah dan mengajar mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial yang tak bersambung “buntut” sama sekali dengan latar akademiknya. Begitulah nalar kehidupan di dunia hari ini, tak mampu dinalar hanya dengan menjadikan Marxisme –umpamanya- sebagai satu-satunya alat guna menyelamatkan manusia dan keterasingan-keterasingan itu.

Di luar itu, kontrol terhadap berbagai kemajuan tehnologi terpadu yang berhembus dari Barat ke Timur yang semula dikemas dalam rangka menopang dan memberi fasilitas kehidupan yang lebih layak bagi manusia, ternyata semakin berkembang jauh dan menjauhi garis yang diinginkan untuk kemaslahatan bersama. Bagaimana tehnologi informasi yang semula bercita-cita mempercepat hubungan satu dengan yang lain telah membuat manusia semakin “semrawut” dalam penggunaannya. Hoax yang semakin trend digunakan adalah anak kandung dari semakin canggihnya rekaya media informatika dalam mengemas pesan dan membangun opini publik. Pemandangan ini tentu di luar kontrol satu ideologi bahkan oleh kapitalisme itu sendiri.

Lantas, di manakah akar dari masalah peluruhan ini? Apakah kecanggihan tehnologi yang semakin memanjakan manusia yang menjadi “biangkerok” dari semua kekacauan ini? Atau karena determinasi dari serangkain ekspansi kapitalisme global yang semakin norak? Atau karena manusia yang semakin larut dalam euforia kemajuan dan tak berdaya dalam menangkap perubahan, sehingga segala sesuatu bergerak di luar kendali mereka? Di tengah beragam pertanyaan itulah sepertinya Haidar Bagir bisa kita temukan signifikansi pemikirannya.

Kenapa Spiritualitas?

Patut diingat, bahwa buku dengan judul “Islam Tuhan, Islam Manusia” itu tak hanya membahas perihal meluruhnya dunia, tapi juga membahas kompleksitas persoalan kemanusiaan yang hari ini sangat vital untuk terus dikaji dan suarakkan. Persoalan kemanusiaan di sini merujuk pada realita semakin rentannya perpecahan dan gesekan yang tak jarang berujung pada persitegangan bahkan pertumpahan darah antar sesama baik intra atau di luar agama. Perbedaan tafsir atas agama tak jarang menjadi jebakan maut bagi lahirnya segudang konflik yang disinyalir termotivasi oleh segenap doktrin agama, sehingga membicarakan itu tak bisa tidak mengharuskan membicarakan agama. Tentu dalam hal ini kita tidak bisa menafikan bahwa ada faktor materilisme deterministik –ekonomi – yang juga andil di dalamnya.

Pertama, tentu menemukan korelasi antara peluruhan dunia dan krisis kemanusiaan menjadi topik utama untuk mengintip kenapa spiritualitas yang menjadi tawaran utama Haidar Bagir dalam bukunya tersebut. Krisis keagamaan sebenarnya merupakan konsentrasi pertama yang dibicarakan oleh Haidar Bagir dalam buku itu. Peluruhan dunia yang disebabkan oleh faktor materi konkrit sejatinya tak akan terjadi andai saja tak beroleh respon balik dari manusia (agama). Jika selama ini Marxisme memandang bahwa materilah satu-satunya landasan bagi setiap perubahan yang ada dalam lipatan sejarah seraya mengenyampingkan respon balik manusia terhadap materi itu, maka Haidar lebih fokus pada respon balik manusia terhadap perkembangan materi itu dan mengidentifikasi masalah “peluruhan dunia” berada di sana.

Dalam rangka meng-goal-kan tesisnya, Haidar menyajikan pemikirannya secara keseluruhan, bahwa manusialah yang bermasalah dalam hal ini. Dunia yang sudah tak lagi butuh pada perdebatan tentang ideologi-ideologi berat seperti Marxisme dan Kapitalisme itu sebagai Mesias Akhir Zaman, justru meletakkan manusia sebagai penolong mereka sendiri dari kehancuran dan peluruhan itu. Dalam hal ini, tentu manusia tak bisa berdiri sendiri di tengah kekacauan itu melainkan menjadikan agama dan spiritualitas sebagai penyangga dan kekuatan dalam menempuh kehidupan yang kian demikian.

Dari situ kita mulai masuk ke dalam signifikansi spiritualitas dalam kehidupan yang meluruh ini. Dalam tulisan pertamanya di buku ini, Haidar mengatakan bahwa peluruhan dunia yang juga menelan serta berbagai ideologi besar itu telah menyisakkan sedikit kekuatan penting manusia yang tak terganti dari dahulu –sejak manusia ada- sampai hari ini, hal ini tak lain adalah agama. Agama kian santer dibicarakan di mana-mana. Bahkan di berbagai negara, Website keagamaan menjadi media dengan jumlah pengunjung yang begitu tinggi sampai hari ini. Dari hingar bingar dan kebisingan dunia, ternyata agama tetap menjadi tempat berpulang paling teduh di antara serentetan ideologi-ideologi itu.

Kembalinya manusia pada agama inilah yang kemudian berimbas –langsung atau tak langsung- kepada fenomena fundamentalisme agama yang menjamur di hampir semua agama. Dalam Islam umpamanya, kembali kepada agama seringkali hanya merujuk kepada simbol-simbol yang dalam beberapa sisi kehilangan nilai substansialnya. Demikian, jargon “kepada al-Quran dan Sunnah” sering hadir dalam laku praktik instan yang terkadang tak menyentuh nilai Qurani dan Sunnah secara bersamaan. Bahkan yang lebih mutahir, gerakan Hijrah modern ternyata tidak mengarahkan pada upaya menyelami ajaran-ajaran Islam yang sarat dengan nuansa spiritualitas, malah hanya terjebak dalam praktik fiqih keseharian yang lagi-lagi terlalu simbolik bahkan kehilangan nilai universalnya.

Berjibaku dengan agama hari ini dipersempit dengan hanya pada prilaku formal. Formalisme (fiqh) dalam agama adalah sesuatu yang mengatur kehidupan sehari-hari umat Islam. Maka dari itu, fiqh atau yurisprudensi ini kerapkali berisi hukum-hukum final yang jika terlalu rigid dalam memahami maka akan mempersempit Islam sebagai nilai sekaligus. Hal ini karena fiqh adalah cerminan kehidupan umat Islam sehari-hari. Maka, di sinilah signifikansi spiritualitas (tasawuf) sebagai tawaran Haidar tampil sebagai solusi. Dalam sebuah maqolah yang masyhur disebutkan “barang siapa yang berfiqih tanpa tasawuf maka bisa fasiq, yang bertasawuf tanpa fiqih maka bisa zindiq, dan barang siapa yang merangkul keduanya, maka ia akan berada pada jalan yang benar”. Dari sini jelaslah, bahwa spiritualitas berfungsi untuk memperhalus dan menyelamatkan nilai-nilai agama dari peluruhan kehidupan. Spiritualitas bertugas untuk menjadikan agama bukan sekadar laku formal yang kering akan nilai-nilai kehidupan, tetapi mempertajam dan terus mempertajam hingga menjadi semacam senjata terakhir dan satu-satunya bagi manusia dalam menghadapi siklus dunia yang kian membingungkan. Spiritualisme Islam bisa dicapai dan dihayati dengan menjadikan ajaran tasawuf terus hadir dalam hidup guna memperkaya hati dan menumbuhkembangkan cinta untuk semesta yang lebih baik.

*Santri Ponpes Aljihad Kota Pontianak, Ketua 1 PC PMII Kota Pontianak.

 

Check Also

Rais Syuriyah PWNU Kalbar Hadiri Pelantikan IPNU dan IPPNU Kabupaten Ketapang

Ketapang – NU Khatulistiwa, Pimpinan Cabang IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar …

Tinggalkan Balasan