Home / Opini / AHU PARMALIM; Menggugah Nalar Toleransi Menuju Indonesia Tanpa Deskriminasi

AHU PARMALIM; Menggugah Nalar Toleransi Menuju Indonesia Tanpa Deskriminasi

Ach Tijani

Anggota Lakpesdam NU Pontianak

Ahu Parmalim,  sebuah film yang mengisahkan seorang remaja religius tanpa pamrih yang bercita-cita mengabdi untuk negaranya menjadi seorang polisi. Namun dalam proses upayanya untuk menjadi seorang polisi,  dirinya sampai pada titik pesimis ketika berhadapan dengan persyaratan yang mengharuskan dirinya menjadi individu yang percaya dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Sejatinya, mengenai kepercayaan dan ketakwaan dari seorag remaja bernama Carles Butar Butar tidak dapat diragukan. Namun pengakuan secara formal dan kultural dari negara dan masyarakat terhadap kepercayaan yang dianutnya itulah yang menyebabkan Carles Butar Butar berada dalam ruang pesimisme.

Spritualitas dan relegiusitas cenderung diukur dengan agama-agama mayoritas. Tidak jarang di beberapa daerah di negeri ini kepercayaan yang serupa dengan kepercayaan Carles Butar Butar dipandang keliru,  bahkan dianggap sesat. Segmentasi kehidupan beragama seperti inilah yang semakin menjadikan Carles Butar Butar pesimis untuk maju mengabdi pada negaranya.

Hanya undang-undang dan Pancasila itulah yang menjadikan seorang Carles bangkit dan tetap semangat untuk mengejar cita-citanya. Karena itulah,  keluarganya juga tetap mendukungnya,  begitu juga dirinya tetap selalu berdoa agar di kemudian hari cita-citanya bisa tercapai.

Terhenyuh rasanya setiap orang yang telah menyaksikan ketulusan tersebut. Namun demikian,  iman dan perasaan menjadi kelompok mayoritas kadang-kadang mengabaikan unsur keikhlasan kemanusiaan tersebut.  Bahkan dengan sangat angkuhnya keimanan mayoritas harus menghakimi bahkan menghardiknya dari kebersamaan dalan kehidupan sosial.

Sudah saatnya seluruh komponen bangsa ini kembali kepada jati diri bangsa sebagai bangsa yang besar yang didalamnya tumbuh keragaman sebagai warna kehidupan yang indah. Jikapun kita harus berbeda dalam pilihan keyakinan bukan berarti kita harus saling menyalahkan. Seharusnya perbedaan itu adalah kesempatan untuk saling memberikan kebaikan.

Mari kita rawat keragaman bangsa ini dengan berusaha menjadi umat bergama yang luas hatinya, sehingga setiap orang tidak lagi takut mengakui keyakinannya.

Aku Muslim,  Aku Katolik, Aku Hindu, Aku Budha,  Aku Konghucu dan bahkan Ahu Parmalim (Aku Parmalim)  atau Aku yang kemungkinan akan hadir adalah “aku” yang sama dan dalam garis lurus yang sama pula di negeri yang tercinta ini.

Check Also

Pergunu Kota Pontianak Sponsori Seruan Pemilu Damai Bersama PC NU dan Banom se-Kota Pontianak

Pontianak – NU Khatulistiwa, Berlangsung di ruang Tahfiz Qur’an Kompleks Pondok Pesantren Darul Faizin Jalan …

Tinggalkan Balasan