Home / Mutiara Sufi / Dunia Para Sufi

Dunia Para Sufi

Para sufi dari masa ke masa selalu menjadi poros penting dalam sejarah panjang umat Islam sejak fase paling awal, pertengahan hingga hari ini. Mereka adalah segerombolan orang yang memfokuskan diri dalam hidupnya untuk senantiasa tersambung dengan Allah melalui penerapan pola hidup asketis yang begitu menawan. Dengan riyadloh dan konsistensi tingkat tinggi, para sufi telah meretas jalan baru yang membawa manusia untuk masuk ke dalam pintu pemahaman paling subtansial dari makna sebuah kehidupan bagi manusia.

Sentralitas posisi para sufi setidaknya terbaca sejak penggal paling awal dari sejarah umat Islam, di mana fitnah terbesar telah mengobarkan api peperangan antar sesama umat Islam yang ditengarai oleh ambisi politik dalam suksesi kehilafahan pasca wafatnya Rasulullah Saw. Sekelompok orang yang menarik diri dari segala macam bentuk pertikaian yang terjadi pada waktu itu, lalu memfokuskan diri pada penghayatan nilai-nilai agama dan menghindari segala hal yang bisa membuai mereka sehingga terlepas dari Allah pada sewaktu-waktu.

Walau tidak secara spesifik, sejarah mencatat bahwa Hasan Al-Bashri dari golongan Tabi’in adalah orang pertama yang membincangkan tentang kesucian hati, kemurnian akhlak dalam hidup serta esensi-esensi mendasar lainnya dalam agama. Dia memang bukan yang pertama menamakan diri sebagai sufi atau disebut sufi. Namun, sebagai ulama yang hidup pada masa paling awal kekuasaan Ustman bin Affan yang penuh dengan carut marut, serta menyaksikan secara langsung bagaimana sengketa antar umat Islam pada fase peralihan kekuasaan antara Usman dan Ali, dia termasuk orang yang pertama yang membicarakan dimensi agama sebagai sebuah ilmu, moral dan jalan memperoleh cahaya Allah dalam kehidupan. Di tengah riuh perdebatan seputar kepemimpinan, status muslim versus kafir, kekuasaan manusia serta topik-topik paling awal dalam sejarah Ilmu Kalam, Hasan Al-Bashri menyajikan sebuah ilmu yang menjadi embrio bagi lahir dan berkembangnya pemikiran dan praktik sufisme pada era-era berikutnya.

Dari Hasan Al-Bashri inilah kemudian ilmu-ilmu agama menemukan pijakan, orientasi serta arah yang tepat kemana hendaknya ia ditujukan. Ajarannya yang disebarkan di Masjid Bashrah kemudian membentuk diskusi-diskusi panjang tentang sisi-sisi subtansial dalam kehidupan manusia dan agama. Dalam waktu yang bersamaan, serangkain refleksi itu terjembatani dalam praktik-praktik kecil bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia. Melalui zuhud, wara’, qona’ah serta term-term lainnya, para sufi kemudian membentuk secara keseluruhan kultur dan ilmu agama Islam sampai hari ini. Dunia sufi semakin menawan karena ilmu-ilmu itu kemudian secara otomatis integral dengan pola pengamalan. Ilmu para sufi tidak hanya berasyik ria dengan segudang teori tentang tanda-tanda, tetapi jauh merengsek hingga menyentuh ke dasar praktis.

Tasawuf memiliki sebuah mekanisme internal yang mampu menjembatanni antara realitas abstrak menjadi sebuah nilai yang hidup dalam ruang gerak sejarah. Mula-mula, pembahasan tentang Cinta Akhirat, membenci dunia, esensi Ibadah sampai tatacara memperoleh cahaya Tuhan adalah topik sufisme yang begitu fundamental dan sekilas lalu tampak terlepas dari fakta-fakta konkrit tentang politik, kondisi ekonomi yang dipenuhi dengan ketimpangan serta realitas sosial yang begitu dinamis. Namun pada intinya, segala aspek itu bertemu pada sebuah term masyhur yakni Akhlak yang membincang segala macam sikap yang harus dipegang oleh manusia dalam hubungannya dengan Allah dan manusia. Hablun Min Allah wa Hablun Min Annas.

Dari Akhlak itulah kemudian muncul sebuah ajaran, tatacara dan sebagainya guna membetuk moralitas manusia dalam kehidupan di dunia ini. Dari sini pula dibuka pembicaraan tentang bagaimana kondisi sosial harus dibentuk, bagaimana sebuah peradaban dibangun serta apa tugas-tugas penting manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan menghayati ajaran sufisme, sejarah Islam mencatat bahwa Abu Musa Jabir Bin Hayyan seorang fisikawan, kimiawan, astrolog, pakar bumi, filsuf dan bermacam atribusi keilmuan lainnya, menjadi orang pertama yang mendapat gelar sufi. Terlihat sudah, bahwa sufisme telah membuka cakrawala bagi hadirnya segudang kecakapan yang sembilan puluh derajat tampak tak berhubungan dengan aspek-aspek sufisme. Namun, semua itu nyata lahir dari inspirasi besar tasawuf tentang bagaimana manusia membangun interaksi (Akhlak) dengan manusia dan kehidupan di sekitarnya, dan bagaimana manusia membangun relasi dengan Allah melalui penghayatan terhadap tanda-tanda akan kebesaran-Nya.

Dari sini, wajar jika kemudian Alghazali dengan kepiawaiannya, sukses mempertemukan antara tasawuf dan agama dengan menjadikan aspek formal syariat (ibadah, akhlak dll) sebagai fondasi dalam beragama dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

_______________________

Determinasi sufisme dalam menentukan gelombang sejarah dalam Islam semakin tampak, ketika secara politik, Islam harus berkali-kali mengalami goncangan, gesekan bahkan jatuh bangun yang rumit. Mulai dari masa zaman Khulafa’ Rasyidun sampai dinasti Ottoman, Syaikh dan Mursyid Tarikat berikut seluruh murid-muridnya memainkan peranan penting dalam mempertahankan Islam sebagai sebuah agama yang dilengkapi dengan aspek Aqidah dan Syariat sekaligus mempertahankan Islam sebagai sebuah kekuatan politik bahkan militer. Kita ingat, bahwa ketika Belanda sukses mempengaruhi banyak kesultanan Islam yang ada di tanah Jawa untuk tunduk dan patuh terhadap kepentingannya, yang memerangi dan mengusir mereka adalah santri-santri, Guru Pesantren dan Mursyid Tarikat beserta seluruh muridnya yang rela bersimbah darah demi kedaulatan negeri.

Begitu juga sejarah Islam di Asia Tengah, Kaukasia sampai Russia. Dimulai sejak runtuhnya Golden Horde dan mundurnya dinasti Ilkhan Hulagu Khan sampai ekspansi Russia di bawah komando para Tsaris dengan kebijakan Rusifikasinya, hingga revolusi yang dimenangkan oleh Bolsyevik yang telah menganggkat V.I Lenin dengan kebijakan merah dan ateisasi, telah membuat umat Islam berada dalam sebuah pergulatan yang panjang dan penuh dengan siksaan. Di tengah melemahnya kondisi umat Islam itu, para sufi lagi-lagi memainkan peranan penting dalam menjaga Islam sebagai sebuah kesatuan nilai. Bukan para politikus muslim dengan sejuta diplomasi dan lobbinya yang mampu membuat Islam hari ini masih terus ada di sana, melainkan para murid dari guru-guru sufi yang dalam kondisi tertentu turut bergerilya dengan gagah berani atas nama iman dan negerinya.

Konsep sufisme (tasawuf) dan ajarannya bukanlah suatu yang baru dalam Islam ataupun dalam tradisi agama-agama besar secara umum. Anjuran untuk bersikap zuhud (sederhana), wara’ (menjaga diri), dan sifat-sifat lain dalam wahana Dunia Para Sufi bukanlah sebuah ajaran yang baru. Karena sebenarnya sikap dan sifat seperti itulah yang diajarkan oleh Islam yang manifest dalam kepribadian Nabi Muhammad, Sahabat-sahabatnya serta ulama-ulama setelahnya dalam rangka membangun hubungan yang proporsional dengan Allah dan segenap kebesaran-Nya. Sungguh tak berlebihan jika boleh menarik kesimpulan, bahwa Islam berjaya selama puluhan abad di antara peradaban lain, terus bertahan di tengah gempuran musuh-musuhnya, terus hidup di bawah dominasi agama, ekonomi dan kemajuan bangsa lain adalah karena aspek sufisme yang melekat erat di jantungnya.

Oleh : M Hasani Mubarok

Check Also

Pergunu Kota Pontianak Sponsori Seruan Pemilu Damai Bersama PC NU dan Banom se-Kota Pontianak

Pontianak – NU Khatulistiwa, Berlangsung di ruang Tahfiz Qur’an Kompleks Pondok Pesantren Darul Faizin Jalan …

Tinggalkan Balasan