Home / Opini / Kebebasan, Kado Terindah Tuhan bagi Manusia

Kebebasan, Kado Terindah Tuhan bagi Manusia

 

ilustrasi : srikandipp
ilustrasi : srikandipp

30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat di atas memuat dialog singkat namun begitu substansial dalam menyajikan hakikat manusia. Makhluk yang unik ini menjadi topik perbincangan yang cukup alot, terbukti dengan keberanian Malaikat menginterupsi Tuhan ketika terdengar rencana-Nya untuk menciptakan sebuah entitas bernama manusia. Ini juga memberikan pengertian bahwa diskusi seputar manusia tidak pernah jeda sampai hari ini. Zaman di mana humanisme menjadi nilai universal yang dilambungkan sebagai asas membangun kedamaian, ternyata jauh sudah al-Quran merekam dialog Tuhan dengan Malaikat terkait penciptaan Adam, yang kemudian diyakini sebagai manusia pertama yang hadir ke dunia.

Manusia dan Status Kekhalifahannya

Dari ayat itu, kita bisa membelah beberapa sari yang bisa membantu mengungkap hakikat dasar manusia. Belahan pertama, Allah dalam dialog itu tidak menggunakan kata Annas, Basyar, Insan atau lainnya untuk menujuk entitas yang kemudian dikenal dengan manusia. Tapi Allah menggunakan kata “khalifah” yang bermakna wakil atau tepatnya mandataris Tuhan di muka bumi.

Imam An-Nasafi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa sebenarnya kata Khalifah itu tidak hanya berarti mandataris Tuhan di Bumi, karena sebelum itu bangsa Jin terlebih dahulu mendiami bumi tetapi hanya menyisakkan kerusakan, demikian Allah pun me-reshuffle mereka dengan menciptakan satu makhluk yang akhirnya nanti akan dilantik sebagai wakil Allah yakni Nabi Adam. Berikut kutipan dari An-Nasafi :

لما خلق الله تعالى الأرض أسكن فيها الجن وأسكن فى السماء الملائكة فأفسدت الجن فى الأرض فبعث اليهم طائفة من الملائكة فطردتهم إلى جزائر البحار ورءوس الجبال وأقاموا مكانه

An-Nasafi menambahkan :

والمعنى خليفة منكم لأنهم كانوا سكان الأرض فخلقهم فيها آدم وذريته

Jadi, terminologi Khalifah memiliki dua makna, yang pertama dalam kapasitasnya sebagai pengganti Jin selaku penduduk bumi, dan yang kedua sebagai pengganti Allah dalam tugas mengatur. Dalam fungsi sebagai pengatur inilah sebenarnya gelar khalifah tidak hanya milik Nabi Adam, tapi juga disandangkan kepada Nabi yang lain seperti Nabi  Daud As. Sebagaimana difirmankan :

يا داود إنا جعلناك خليفة فى الأرض

Kata Khalifah dalam hal ini menggunakan Isim Mufrod (singular), yakni kata menunjukkan entitas tunggal. Yang dimaksud adalah Nabi adam sebagai kepala Qabilah. Sebagaimana tradisi penyebutan suku di Arab hanya dicukupkan dengan menyebut nama kepalanya seperti Bani Hasyim, Bani Ad dan lain-lain. Dalam kapasitas yang pertama dan kedua, memberikan pengertian bahwa Nabi Adam beserta seluruh anak cucunya memiliki status sebagai Khalifah. Sangat disayangkan, jika hari ini terma Khalifah dalam ayat ini banyak direduksi sebagai satu personal yang bertugas memerintah dunia Islam secara khusus dan dunia secara keseluruhan.

Belahan kedua dari ayat di atas adalah rentetan dialektis yang dimulai oleh Allah dengan memberikan kabar terkait rencana-Nya. Isi dialog ini begitu unik, bahwa Tuhan memberikan sebuah kabar yang kemudian memancing malaikat untuk memberikan sebuah sanggahan dengan nada tanya. Mengapa Engkau hendak menciptakan di bumi itu mahkluk yang hanya akan menumpahkan darah ?. Pertanyaan ini sekaligus pertanda bahwa malaikat khawatir jika ada makhluk yang akan dijadikan oleh Tuhan sebagai pengganti-Nya sendiri atau Jin sebagai penghuni yang sebelumnya.

Sekali lagi kata manusia di situ tidak ditemukan. Kata dalam bahasa Arab yang kemudian dimaknai sebagai “manusia” dalam bahasa Indonesia adalah “man”. Kata ini memang sering diartikan dengan manusia dalam tradisi kitab klasik. Namun, pada dasarnya kata ini hanya menunjukkan sebuah benda yang berakal. Dalam prinsip gramatika Arab, man adalah Isim Maushul yang tidak spesifik pada manusia. Dia bisa diperuntukkan untuk Jin, Manusia, malaikat dan elemen yang berakal dan aktif. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa kata khalifah tidak bisa direduksi sebagai suatu personal yang khas. Karna muatan makna yang terkandung di dalam man mencakup semua elemen aktif yang ada di bumi, di mana mereka bertugas untuk meramaisertakan bumi dengan beragam hal yang mereka perbuat.

Dialog ini kemudian berakhir dengan sebuah jawaban Tuhan sekaligus menundukkan keraguan malaikat akan kekhawatiran mereka. Bentuk jawaban yang diberikan Tuhan sangat menarik, “Aku lebih tahu apa yang tidak kalian ketahui”. Jawaban ini bukan sebuah argumentasi eksplanatif yang mencoba memuaskan malaikat dengan “anggukan” positif. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang tahu apa karakter dasar makhluk yang hendak diciptakan oleh Tuhan. Apakah dia buruk atau baik, Tuhan hanya berkata bahwa Dia lah yang Maha Mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Khalifah tersebut.

Dari jawaban tampak bahwa manusia tidak dibekali satu kecenderungan khusus. Dia tidak berpretensi baik atau pun buruk. Mereka hanya dibekali suatu fitrah yang pada akhirnya dinamai potensi. Dari potensi inilah letak dari pada kegunaan akal dan hati manusia dalam menjalani hidupnya sebagai khalifah. Esensi kebebasan yang terbaca dalam belahan dialog transenden antara Tuhan dan malaikat-malaikat-Nya tersebut merupakan nilai yang secara fitrah dimiliki oleh setiap individu di muka bumi ini. Mereka sejatinya diberi kebebasan dalam bertindak dengan menjadikan dua  perangkat (Hati dan akal) kemanusiaan yang diberikan Tuhan kepada mereka sebagai modal.

Dari sini tak heran kiranya jika Soe Hok Gie seorang aktivis kesohor angkatan 66 menulis dalam catatan hariannya bahwa “dunia tidak membicarakan hitam dan putih, setiap tindakan memiliki motif-motif yang bersumber dari world view seseorang”. Dunia tidak hitam dan tidak pula putih seperti menegaskan bahwa seorang tidak memiliki pandangan hidup yang absolut, sewaktu-waktu dia akan berhadapan dengan ragam motif yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Dalam pendulum inilah kebebasan manusia bergerak sebagai individu yang tidak terikat pada satu nilai absolut dan positif. Maha benar Tuhan dengan jawaban-Nya yang telah memberikan manusia potensi baik dan buruk melalui argumentasi sempurna dan komprehensif. Sehingga terlihat perbedaan khas antara manusia, malaikat dan Iblis. Andai saja jika manusia diciptakan dengan satu nilai khusus, maka tidak ada yang membedakan mereka dengan dua ciptaan sebelumnya.

Manusia dan Kebebasan esensialnya

Kebebasan esensial yang dimiliki oleh setiap individu merupakan anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada hamba yang Ia ciptakan sebagai Khalifah di bumi. Inilah titik suci seorang manusia. Kondisi di mana dia bebas memilih untuk memilih jalan yang Tuhan gariskan dalam barisan wahyu yang sudah diturunkan secara gradual dan konstan melalui Rasul-rasul-Nya.

Martin Heidegger dalam buku yang ditulis oleh F. Budi Hardiman, menyebutkan bahwa titik eksistensial manusia adalah pada saat kecemasan menghampiri. Cemas merupakan suasana di mana hati benar-benar dalam kondisi dilematis. Sebagai contoh, seorang yang dipaksa dengan ancaman untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin ia kerjakan, ia akan terlihat bimbang. Kondisi ini merupakan sebuah kondisi yang benar-benar melempar manusia ke jurang eksistensinya yang paling dasar. Dia dihadapkan pada sebuah pilihan dengan beragam konsekuensi. Pada titik inilah seorang yang cemas tidak lagi terikat oleh nilai absolut seperti baik atau buruk, benar atau salah dan sebagainya. Dia akan menimbang segala apa yang hendak ia putuskan dengan mengedepankan rasio (akal) dan intuisinya (hati) secara bersamaan. Dia bebas memilih sesuai dengan result yang kemudian dia peroleh.

Dalam tradisi syariat, kebebasan esensial juga menjadi titik fundamental manusia dalam berinteraksi dengan agama. Mafhum sudah, bahwa status mukallaf (orang yang dibebani kewajiban syariat dalam Islam) baru disematkan kepada seseorang setelah ia mencapai fase yang disebut Aqil Baligh. Sebuah kondisi seseorang yang sudah memiliki kecakapan akal dan kesempurnaan umur. Sedang sebelum mamasuki fase ini seorang tidak berkewajiban menanggung beban-beban syariat. Dia tidak terkena kewajiban sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Selain itu dia juga tidak terbelenggu oleh satu konsepsi baik atau pun buruk. Dia tidak akan berdosa ketika berbuat buruk dan juga tidak beroleh pahala jika berbuat baik atau melaksanakan beberapa prinsip kebajikan dalam agama.

Karena ini, maka wajar jika salah satu riwayat menyebut bahwa “setiap jiwa yang terlahir ke dunia berada dalam kondisi suci”. Suci di sini bukan sebuah kata yang secara bahasa sama maknanya dengan kata Thaharah yang kerap digunakan dalam disiplin fiqih. Tapi “suci” dalam riwayat itu menggunakan kata “fithroh” yang penetrasi maknanya adalah kondisi eksistensial dan esensial manusia. Demikian Hari Raya besar umat Islam dinamakan Idul Fitri, di mana seseorang kembali kepada kesucian eksistensialnya seperti baru dilahirkan kembali ke dunia. Mereka yang baru terlahir ke dunia diberi kebebasan kembali untuk menentukan garis hidupnya.

Kebebasan adalah fase esensial manusia. Di mana tidak ada satu nilai pun yang boleh mengekang mereka untuk memasung eksistensinya. Jika seorang beragama Islam misalnya, kemudian dia menemukan kebenaran yang dirasa cocok dan membawanya ke alam cemas serta bimbang. Dalam kondisi eksistensial inilah dia berfikir dan menginterpretasi berbagai konsekuensi serta fakta kebingungannya hingga kemudian dia memperoleh sebuah langkah konkrit dan otentik hasil dari pilihannya sebagai seorang manusia yang bebas. Wacana humanisme serta kebebasan jauh-jauh hari ternyata telah dilukiskan dengan begitu apik oleh al-Quran dengan sebuah mode dialog yang begitu menarik antara Tuhan dan Malaikat-malaikat-Nya. (M. Hasani Mubarok)

Check Also

KH Ahmad Tidjani Sumenep Madura Lakukan Giat Safari Dakwah di Kalbar

Pontianak – NU Khatulistiwa, Tanggal 24-28 Maret 2022 menjadi menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Ikatan Keluarga …

Tinggalkan Balasan