Home / Opini / CORONA; DARI RESPON ACUH, PANIK HINGGA SALING CURIGA

CORONA; DARI RESPON ACUH, PANIK HINGGA SALING CURIGA

Oleh : Dr. Ibrahim, M.A

Delapan bulan sudah bangsa ini bergulat dengan masalah virus corona, belum juga terlihat tanda-tanda kalau pandemic ini akan segera berakhir. Bahkan secara grafik penularan, kasus positif (terpapar) virus ini justru masih menanjak (meningkat). Konon Indonesia masih berada di pase gelombang pertama. Sungguh situasi yang cukup memprihatinkan.

Faktanya, situasi tersebut ternyata masih belum mampu menyatukan pandangan masyarakat bangsa akan bahaya virus ini. Bahwa corona adalah nyata adanya, dan berperang melawannya sebagai tugas dan tanggung jawab bersama, masih belum terbangun dalam masyarakat kita. Beragam respon masih terlihat di tengah masyarakat kita, mulai dari sikap acuh, panic, hingga saling curiga antar sesama.

Tidak sedikit dari masyarakat kita yang menganggap virus corona sebagai pengalihan isu politik, atau bahkan sebagai sebuah konspirasi politik kuasa ekonomi global (kapitalis). Kelompok ini menganggap virus corona itu bohong dan tidak nyata adanya. Kelompok ini cendrung mengabaikan segala bentuk imbauan memerangi corona, mulai menerapkan protokol kesehatan yang ketat, tidak mau menggunakan masker, tidak mau menjaga jarak social dan sebagainya. Mereka tidak percaya dengan kematian karena virus corona. Bahkan melaukan penolakan protocol pemakaman jenazah terpapar corona. Kelompok ini merepresentasikan respon penolakan dan acuh terhadap himbauan berperang melawan corona. Kelompok ini menjadi salah satu penyumbang terbesar kasus positif di tanah air, yang hingga hari ini belum mampu ditekan (diminimalisir).

Ada juga sebagian masyarakat kita merespon kasus corona ini dengan panic, sehingga memicu terjadinya panic buying di awal mula terjadinya pandemic. Bagi keompok ini, corona ini bukan lagi sekedar nyata adanya, akan tetapi suatu penyakit yang bisa mendatangkan akibat yang patal (kematian). Ketakutan terhadap corona membuatnya merasa takut berkomunikasi dengan siapapun yang terpapar. Akibatnya terjadi sikap pengucilan terhadap orang yang terpapar kasus. Inilah yang terjadi dengan kasus pengusiran keluarga perawat yang terpapar corona di Jogja. Atau, penolakan pemakaman jenazah yang meninggal karena corona di beberapa tempat di tanah air.

Di luar dua sikap di atas, ada satu lagi respon yang cukup memprihatinkan jiwa social kita. Yakni, adanya prasangka dan rasa saling curiga antar sesama. Apa bentuknya? Mendengar sedikit saja teman yang batuk atau bersin, banyak kita menaruh curiga, jangan-jangan….. Ketika ada teman yang mengeluh kurang sehat, demam atau sakit apapun, apalagi disertai batuk, langsung muncul kecurigaan, jangan-jangan…. Sikap seperti ini, satu sisi menunjukkan kewaspadaan kita, apalagi sebagian dari kasus positif di tanah air memang tampa gejala (OGT). Akan tetapi menjadi kurang elok jika kecurigaan ini mempengaruhi semua sikap social kita. Bercengkrama dengan sesama ada rasa takut, jangan-jangan…. Bertamu dan menerima tamu jadi khawatir, jangan-jangan… Akibatnya hubungan sosial dan komunikasi menjadi kaku dan sangat terbatas karena selalu ada rasa curiga, jangan-jangan….

Meski cukup efektif untuk mendukung kebijakan protocol kesehatan dan memutus mata rantai penularan kasus, akan tetapi respon yang ketiga ini masih menyimpan masalah yang besar dalam aspek komunikasi dan hubungan sosial. Dimana pendekatan kecurigaan akan mengurangi rasa sosial dan ketulusan dalam berkomunikasi. Bahkan sikap yang “banyak curiga” bisa merusak hati dan pikiran seseorang.

Karena itu, dengan tiga respon umum masyarakat terhadap kasus corona di tanah air, ada satu kompromi sikap yang penting kita ambil, yakni pentingnya untuk kita semua bersikap bijak terhadap penularan kasus corona, jangan menganggap remeh dan acuh sehingga mengabaikan semua protokol kesehatan, tapi jangan pula terlampau takut dan panic berlebihan sehingga mengabaikan norma social, norma agama dan akal sehat. Apalagi sampai menjadikan kecurigaan dan buruk sangka sebagai nilai dalam setiap komunikasi dan hubungan social yang kita bangun.

Semoga kasus corona ini segera berakhir. Semoga kasus corona ini memberikan kita pembelajaran yang baik dalam bersikap dan berkomunikasi antar sesama, terutama dalam meresponnya. Wallahu a`lam (Aula A. Rani Mahmud, 6/10/20)  

Penulis : Dr.Ibrahim, M.A (Ketua LTN PWNU Kalimantan Barat)   

Check Also

Perlukah Menonton Kembali Film G30S/PKI

Oleh : Ach Tijani September ini menjadi bagian dari bulan keramat yang banyak mendapat perhatian …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com