fbpx
Home / Opini / WFH, Fenomena Kerja yang Harus Kita Syukuri

WFH, Fenomena Kerja yang Harus Kita Syukuri

Oleh: Dr Ibrahim, MA

Untuk kesekian kalinya kebijakan bekerja dari rumah (work from home) harus diambil oleh pemerintah, terkait dengan perkembangan kasus penyebaran covid19 yang belum juga berakhir. Di luar yang dikecualikan, semua instansi pemerintah juga harus mengikuti edaran tersebut, memperpanjang masa kerja dari rumah.

Bekerja dari rumah (work from home) sesungguhnya bukanlah formula kerja yang diinginkan oleh banyak orang, karena itu ketika kebijakan ini “terpaksa” diambil, tidak sedikit dari kita yang berasa keberatan, mengeluh tidak bisa kerja, bingung harus kerja apa di rumah, tidak punya fasilitas kerja di rumah, tak punya internet, boros kouta, dan lain-lain.

Seiring dengan perjalanan waktu, keadaan pandemi yang belum menunjukkan situasi yang lebih baik, pemerintah pun harus memperpanjang sistem kerja WFH untuk kesekian kalinya. Kondisi ini seolah-olah “memaksa” setiap kita untuk menerika takdir ini, bekerja dari rumah (work from home). Karena “dipaksa”, mau tidak mau kita harus menyiapkan diri dengan fasilitas kerja berupa internet, penguasaan teknologi kerja berupa aplikasi online, menyiapkan kouta internet dan seterusnya.     

Work From Home (WFH) menjadi fenomena kerja baru di tengah pandemi covid19, dan respon terhadap kebijakan pembatasan sosial, dan aktivitas yang melibatkan banyak orang mulai dari perjalanan hingga ke tempat kerja. Himbauan untuk tetap di rumah, melaksanaan tugas dan tanggung jawab, membuat setiap kita harus tetap bekerja. Bekerja dari rumah. Inilah fenomena baru, sistem kerja baru yang harus dijalani oleh banyak kita, terutama para ASN di saat pandemi ini.

Artinya, secara fisik kita memang tidak lagi melakukan kontak dengan orang lain, karena kita berada di rumah masing-masing. Tapi secara non fisik, komunikasi dan interaksi sosial kita tetap berlangsung melalui jaringan komunikasi dan informasi online. Secara fisik kita berada di rumah, tapi secara non fisik kita senantiasa bekomunikasi dan bersosialisasi dengan siapapun di banyak tempat dan banyak kesempatan. Inilah fenomena WFH yang kita lakukan.

Dengan sistem kerja WFH ini, seorang guru tetap bisa memberikan pengajaran kepada anak-anak muridnya di rumah. Sebagai dosen juga bisa tetap memberikan kuliah dan berdiskusi dengan mahasiswanya. Sebagai ustadz atau Kyai masih tetap bisa menyapa jamaahnya, memberikan pengajian, tausyah dan sebagainya. Singkatnya, dalam kondisi WFH ini, semua kita bisa melakukan pekerjaan dari rumah, rapat dari rumah, ikut pengajian dan belajar dari rumah.

Fenomena WFH ini bukan saja menyakinkan kita bahwa dengan tetap berada di rumah kita masih tetap bisa melaksanakan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Akan tetapi memberikan peluang untuk bekerja lebih kreatifitas dan produktif. Bagaimana tidak, dengan WFH, kita “dipaksa” untuk akrab dan menguasai sistem komunikasi virtual (online). Mengajar online, rapat online, dan semua serba serba online. ‘Dipaksa” di awalnya, tapi jadi kebiasaan dan kemahiran pada akhirnya, bahkan mengasyikkan. 

Dengan sistem kerja serba online (virtual), WFH memberikan peluang untuk kita membangun komunikasi dan interaksi yang jauh lebih luas dari sekedar komunikasi tatap muka. Dari sisi jarak dan biaya juga bukan lagi persoalan. Dengan modal kouta internet, dari rumah kita bisa mengikuti seminar nasional melalui jaringan. Dari rumah kita bisa mengikuti tausyiah, pengajian dan berbagai majlis ilmu melalui jaringan. Bahkan dari rumah kita bisa memberikan materi ajar, seminar dan diskusi melalui jaringan. Ini semua fenomena luar biasa. Fenomena yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan berlangsung dengan masif seperti ini.

WFH benar-benar sebuah fenomena kerja yang laur biasa. Dan pandemi memaksa kita untuk menguasai teknologi virtual lebih cepat dan masif untuk kepentingan WFH ini. Untuk alasan WFH ini, setiap kita “dipaksa” untuk akrab dengan mekanisme kerja virtual (online). Kita harus berkenalan dengan aplikasi-aplikasi kerja virtual yang mendukung semacam zoom meeting, lark meeting, jitsi meeting Ume meeting, dan sebagainya, termasuk sistem pembelajaran e-learning. 

WFH bukan lah alasan untuk tidak aktif dan produktif dalam bekerja dan berkarya. Justru dengan WFH kita bisa lebih aktif dan produktif, bekerja dalam suasana yang santai, dalam waktu yang panjang dan tak terbatas seperti di kantor. Dengan sistem kerja WFH, kita bisa menggunakan banyak waktu untuk mengerjakan banyak hal. Dengan sistem kerja WFH, kita bisa membangun kerjasama dengan banyak orang melintasi jarak fisik, batas waktu dan ruang.

Karena itu, jangan pernah menyesal dengan kondisi yang kita hadapi hari ini, apalagi menyalahkan WFH sebagai alasan tidak bisa aktif dan produktif dalam berkarya.  Justru kita harus banyak bersyukur, dengan kebijakan WFH ini kita tetap bisa bekerja dengan aktif dan produktif dari rumah. Bahkan kita juga bisa menikmati saat-saat penting banyak di rumah bersama keluarga tercinta, menyelesaikan kewajiban kerja bersama senyum tawa, dan semangat yang lebih dari orang-orang yang kita cintai.

Itulah hikmah dari situasi pandemi, memberikan kita waktu yang lebih untuk menikmati lebih banyak waktu di rumah, dan menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab kerja kita dari rumah. Bahkan memberikan kita peluang untuk lebih aktif dan produktif bekerja dan berkarya dari rumah. Bukan sebaliknya, menjadi beban dan keluhan yang tak berarti.

Ketika kita mampu memanfaatkan secara positif kesempatan dalam sistem kerja WFH, saya khawatir justru suasana ini akan menjadi kerinduan tersendiri ketika saatnya nanti kita harus kembali ke kantor, bekerja dan melaksanakaan tanggung jawab di kantor masing-masing. Suasana kerja yang terkadang membuat sebagian dari kita  yang tidak lagi punya waktu untuk bercengkrama dan bersuka cita bersama keluarga di rumah. Banyak dari kita yang menghabiskan waktu hari demi hari di perjalanan atau di tempat kerja. Banyak dari kita yang terpaksa mengorbankan hak-hak keluarga di rumah.

Karena itu, suasana kerja di rumah (WFH) yang sekarang kita jalani, mesti bisa dinikmati dengan positif dan maksimal, bahkan kita syukuri sebagai satu cara lain yang Allah berikan untuk kebersamaan kita dengan keluarga tercinta di rumah masing-masing. Bukankah dengan banyak bersyukur, Allah akan tambahkan banyak nikmat-Nya untuk kita semua. Terima apapun dengan ikhlas dan sabar, selalulah berpikir positif (husnuzhon) dengan keadaan. Wallahu a`lam. (Villadamai3: 13 Mei 2020/ 20 Ramadhan 1441).   

Check Also

Khutbah Idul Fitri 2020 : MENGGALI HIKMAH DI BALIK PANDEMI WABAH

Oleh. H. Kartono, S.Pd.I.,M.Pd* الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com