fbpx
Home / Opini / Tradisi Menyambut Lebaran dan Keprihatinan di Tengah Pandemi

Tradisi Menyambut Lebaran dan Keprihatinan di Tengah Pandemi

Oleh: Dr.Ibrahim, MA

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung bulan Ramadhan, meskipun sebagian besar kita harus melaksanakan ibadah ramadhan tahun ini di rumah. Dengan apapun catatan amaliah yang telah kita lakukan di bulan yang mulia ini, yang pasti beberapa hari kedepan Ramadhan akan berlalu meninggal kita umat Islam. 

Berakhirnya bulan Ramadhan menandakan umat Islam akan sampai pada sebuah momentum sukacita merayakan kemenangannya, yakni hari raya idul fitri atau lebaran. Bahkan sejak seminggu terakhir bulan Ramadhan ini, sebagian kita sudah mulai disibukkan dengan berbagai tradisi menyambut lebaran, mulai dari merenovasi rumah, menganti ornamen dan perabotan rumah dengan yang baru, membuat kue lebaran, dan memenuhi pasar-pasar untuk berbelanja keperluan lebaran.

Sukacita menyambut lebaran, bukanlah hal baru, melainkan sudah mentradisi dalam masyarakat kita. Sebab suasana lebaran merupakan momentum untuk saling bersilaturahim, saling mengunjungi saudara, saling berbagi kebahagiaan bersama keluarga, dan berbagai ekspresi sosial lainnya. Tidak heran jika sebagian kita rela menghabiskan banyak waktu, biaya dan tenaga untuk persiapan menyambut hari lebaran ini.

Tapi bagaimana dengan kondisi tahun ini, menyambut lebaran di tengah keprihatinan dan kewaspadaan pandemi covid19. Banyak dari praktek tradisi menyambut lebaran yang justru bertentangan dengan ketentuan kesehatan di tengah pandemi ini, salah satunya adalah kemestian menjaga jarak fisik/sosial (social/phsycal distancing) dan menjauhi kerumuman banyak orang.

Dua hal yang disebutkan terakhir ini menjadi persoalan yang penting untuk dikaji dan dievaluasi di tengah semaraknya tradisi umat Islam menyambut perayaan hari lebaran. Jujur, saat ini dengan mudah kita bisa menyaksikan pasar-pasar yang sesak dengan pengunjung yang berbelanja untuk “keperluan” lebaran. Toko-toko dipenuhi oleh umat muslim yang berbelanja, membeli pakaian dan berbagai kebutuhan menjelang lebaran. Dalam suasana seperti itu, nyaris kita tidak lagi melihat adanya kepatuhan menjaga jarak fisik dan sosial yang benar. Bahkan mereka sudah larut dalam kerumuman banyak orang, satu suasana yang tidak dianjurkan dilakukan pada saat pandemi. Sungguh ini suatu kondisi yang memperihatinkan.

Berbelanja di pasar, di tengah kerumunan banyak pengunjung sebagaimana juga perayaan menjelang hingga perayaan lebaran tahun-tahun sebelumnya, sesungguhnya tidak ada yang salah, dan bukan persoalan. Boleh-boleh saja, itu hak semua orang. Akan tetapi dalam suasana kewaspadaan dan keprihatinan saat pandemi ini, dimana pentingnya menjaga jarak dan menghindari kerumunan demi menghindari kemungkinan penularan virus, tradisi tersebut sepatutnya tidak dilakukan.  

Jika himbauan menjaga jarak sosial dan jarak fisik, serta menghindari kerumunan adalah syarat untuk terjaganya kesehatan dan keselamatan bersama, apakah layak untuk kita abaikan atau bahkan korbankan ketentuan keselamatan tersebut atas nama sebuah tradisi “berbelanja” menyambut lebaran. Adakah tradisi “berbelanja” hingga menimbulkan kerumunan banyak orang di pasar itu lebih penting dari kemestian menjaga kesehatan dan keselamatan bersama di tengah keprihatinan pandemi seperti ini.

Inilah yang patut untuk kita pikir ulang, dan bersama kita evaluasi diri. Adakah perayaan lebaran itu harus dengan serba baru, pakaian baru, perabot rumah tangga baru, dan penampilan baru. Apakah dengan semua yang serba baru itu, lantas kita benar-benar telah menjadi individu baru yang berhasil meraih kemenangan di hari lebaran. Atau jangan-jangan kita keliru dalam memahami substansi lebaran yang sesungguhnya.

Bukankah orang yang meraih kemenangan di hari lebaran adalah setiap kita yang berhasil melaksanakan ibadah Ramadhan dengan baik dan sempurna, setiap kita yang berhasil meredam egoisme diri dan duniawi kita untuk kembali pada kehendak Allah Swt. Bukankah kemenangan itu sejatinya adalah ketika setiap kita telah berhasil membersihkan diri, hati, pikiran dan perbuatan melalui segenap amaliah di bulan Ramadhan. Sehingga dengan kondisi ini setiap kita akan kembali menjadi individu yang suci, bersih dan dekat kepada Allah Swt., sebagaimana makna dari Idul Fitri (kembali kepada kesucian/fitrah diri).

Lalu, sibuk dengan tradisi “berbelanja” untuk penampilan baru, pakaian baru dan semuanya serba baru, sesungguhnya adalah simbol lahiriah semata. Ia bukanlah makna substansi dari lebaran dan kemenangan diri (idul fitri). Tak akan ada gunanya pakaian baru, penampilan fisik serba baru, jika Ramadhan tidak kita lewati dengan amal ibadah yang maksimal. Tidak akan ada gunanya perayaan dan seremonial yang mewah menyambut lebaran, jika kehadiran bulan ramadhan ini tidak berdampak pada perbaikan diri, pikiran, sikap, dan meningkatnya amal ibadah kepada Allah Swt.

Jika tradisi perayaan “berbelanja” yang membuat sesak pasar-pasar, yang menyebabkan terjadi kerumunan banyak orang, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan dan keselamatan bersama di tengah kewaspadaan dan keprihatinan pandemi covid19 hanya didasari pada perilaku simbolik semata, maka akan lebih baik tradisi tersebut untuk tidak kita lakukan.

Apalah artinya mendapatkan pakaian baru, penampilan lahiriah yang serba baru, akan tetapi mental spiritual kita tidak pernah berubah (diperbaharui) menjadi lebih baik dengan kehadiran Ramadhan. Apalah gunanya pakaian yang serba baru, penampilan fisik yang wah, tapi berujung pada kekhawatiran terancamnya kesehatan dan keselamatan diri dan banyak orang di tengah situasi pandemi ini.

Disinilah egoisme diri individu dan ketidak-mengertian kitaakan substansi lebaran mesti dikalahkan dengan kemestian untuk menjaga kesehatan dan kemaslahatan diri dan banyak orang. Inilah bagian dari egoisme diri yang harusnya kita redam dengan berbagai amaliah ramadhan, yang puncaknya adalah ketika kita sampai pada kemenangan mengontrol hawa nafsu diri, yang seharusnya kita rayakan di hari raya idul fitri ini, hari dimana setiap kita berhasil kembali pada kesucian dan kefitrahan diri yang sesungguhnya.

Rayakan hari kemenangan dengan apapun tradisi menyambut hingga saat lebaran, tapi jangan pernah abaikan ketentuan keselamatan bersama, kesehatan diri, keluarga dan masyarakat sekitar. Termasuk menjaga jarak fisik dan sosial, serta menghindari kerumunan banyak orang. Semoga Allah Swt memberikan kita kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan meraih pahala ramadhan dengan kefitrahan diri, dan kemenangan kita berperang melawan penularan covid19. Aamiin, wallahu a`lam.               

Check Also

Menyonsong New Normal, Siapkah Kita Berkolaborasi

Oleh: Dr.Ibrahim, MA Tiga bulan sudah bangsa ini berjibaku berperang melawan Corona. Berbagai upaya pun …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com