fbpx
Home / Opini / Menyonsong New Normal, Siapkah Kita Berkolaborasi

Menyonsong New Normal, Siapkah Kita Berkolaborasi

Oleh: Dr.Ibrahim, MA

Tiga bulan sudah bangsa ini berjibaku berperang melawan Corona. Berbagai upaya pun telah diambil oleh pemerintah, termasuk kebijakan membatasi interaksi sosial, pendidikan, perekonomian, tansportasi, bahkan dalam hal beribadah. Selama itu pula kita kehilangan ruh hidup yang normal, tidak ada lagi aktivitas belajar mengajar di sekolah, pekerjaan kantor di laksanakan di rumah (WFH), mall dan pasar di batasi jam bukanya, beberapa perusahaan “terpaksa merumahkan” karyawannya, dan sebagainya. Berbagai sektor ikut terdampak Corona dan benar-benar membuat situasi hidup kita tidak normal selama 2-3 bulan ini.

Aspek kesehatan dan mental.., jangan tanya lagi. Setiap hari kita merasa tidak aman, tidak nyaman dan terancamnya kesehatan. Tetap tinggal di rumah, itulah satu-satunya yang bisa dilakukan dan menenangkan. Meskipun ada banyak faktor yang juga memaksa kita untuk keluar, apapun alasannya. Tapi yang jelas semuanya kita alami dalam suasana yang tidak normal, hati yang tidak nyaman, tidak tenang, dan was-was.

Hari ini, atau sejak satu dua minggu terakhir ini pemerintah menggaungkan rencana kebijakan untuk mengatasi situasi ketidak-nyamanan ini dengan kembali menata cara hidup baru yang normal. Dimana kita bisa menjalankan aktivitas hidup seperti biasa tetapi dengan ketentuan-ketentuan baru, seperti kemestian menjaga kesehatan, social/pshycal distancing, menggunakan masker, dan berbagai protokol kesehatan lainnya yang harus dipatuhi. Inilah yang disebut dengan situasi normal baru (new normal) sebagaimana disampaikan oleh Presiden dalam sambutan resminya di Istana Negara, jum`at 15 Mei 2020 (TEMPO.CO)

“kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi resiko wabah ini, itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru”  (Joko Widodo).

Dengan kebijakan new normal, pemerintah inginkan kita kembali pada aktivitas hidup seperti biasa, dimana sekolah bisa menjalankan fungsi pendidikan dan proses pembelajaran, pasar-pasar dan aktivitas perekonomian kembali menggeliat, perusahaan-perusahaan bisa berproduksi kembali, transportasi bisa beroperasi sebagaimana mestinya, orang-orang tidak lagi dikurung di rumah seperti saat ini.

Anak-anak sudah rindu untuk bisa kembali bersekolah, belajar dan bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya. Sebagai muslim, kita juga rindu dengan masjid, bisa shalat berjamaah, dan jum`atan seperti biasa. Kita semua rindu untuk bisa bekerja seperti biasa, berbagi dan bersilaturahim dengan para sahabat dan kolega. Akan tetapi kondisi kita yang masih harus “berdamai” dengan corona, semua itu harus dilakukan dengan senantiasa memperhatikan semua protokol kesehatan. Begitulah konsep new normal, hidup untuk beraktivitas kembali dengan tatanan-tatanan baru yang harus dipatuhi.

Pertanyaan, apakah kita semua sudah siap menyongsong tatanan hidup normal yang baru (new normal) ini? apakah sekolah-sekolah sudah siap menjalankan aktivitas pendidikan dan pembelajaran yang mematuhi ketentuan social/phsycal distancing, menggunakan masker, tersedianya sarana kesehatan dan kebersihan di sekolah, dan sebagainya. Apakah pasar, mall dan pusat perekonomian bisa menjamin kepatuhan untuk tidak menjadi pusat kerumunan orang ramai, adanya kepatuhan menjaga jarak di sana, tersedianya sarana kebersihan dan kesehatan, dan sebagainya.

Bagaimana pula dengan penataan transportasi umum yang bisa menjamin kepatuhan semua orang terhadap protokol kesehatan, tidak terjadinya pelanggaran jarak sosial dan fisik, penumpukan orang dan sebagainya. Bagaimana juga menata komunikasi dan interaksi para aparatur sipil negara di tempat kerja dengan tetap perpedoman pada ketentuan protokol kesehatan, menjaga jarak dan lain sebagainya.

Begitupun dengan ketentuan dalam kegiatan peribadatan, di masjid misalnya, seperti apa harusnya tatanan normal baru ini dilakukan. Bagaimana praktek social/phsycal distancing bisa dipatuhi dalam pelaksanaan shalat berjamaah, penggunaan masker dan ketersediaan fasilitas kebersihan di masjid-masjid, dan lain-lain.

Pertanyaan berikutnya, siapakah yang harus bertanggung jawab mengawal kepatuhan menjalani hidup normal dalam tatanan baru yang akan diberlakukan? Adakah pemerintah telah dan akan menyiapkan sarana dan prasarananya? Adakah semua sektor terkait (pendidikan, ekonomi, transportasi, pariwisata, bahkan tempa ibadah) telah dan akan menyiapkan diri untuk pelaksanaan hidup normal dalam tatanan baru ini?

Terakhir, pertanyaan besar patut kia ajukan kepada semua warga bangsa ini, khususnya masyarakat Indonesia tercinta, adakah kita semua siap dan akan selalu mematuhi ketentuan hidup dalam tatanan baru ini. Pertanyaan terakhir ini menjadi penting, mengingat inilah kelompok terbesar yang akan menentukan berhasil tidaknya kebijakan new normal ini. Tampa adanya kepatuhan dan disiplin masyarakat untuk menjalankan ketentuan, maka kebijakan new normal ini akan sama nasibnya dengan beberapa kebijakan sebelumnya yang banyak diabaikan (dicuekin) dan tidak berjalan sesuai harapan. Akibatnya adalah, lambannya penyelesaian kasus penularan virus ini di tanah air.

Terlepas dari adanya keraguan atau pesimistis dari sebagian kita, saya berharap kita bisa melihat kebijakan ini dengan pikiran positif dan optimisme. Saya percaya, tidak ada pemerintah yang ingin membunuh rakyatnya. Pemerintah pasti akan memperhatikan prasyarat yang harus dipenuhi untuk memberlakukan kebijakan new normal ini, termasuk timingnya. Karena itu, pendekatan memahami jauh lebih penting dibandingkan mengkritisi dan membantahnya.

Kebijakan new normal yang akan segera diterapkan mulai awal Juni 2020 ini, sebagaimana kebijakan yang lain sebelum ini sesungguhnya bagian dari ikhtiar pemerintah untuk membawa bangsa ini keluar dari ancaman virus corona yang telah berdampak besar dalam banyak sektor. Sebuah kebijakan untuk menyelamatkan bangsa ini dari berbagai dampak sosial, ekonomi, dan pendidikan yang diakibatkan oleh pandemi covid19 yang tak kunjung berakhir.

Apapun pandangan optimistis bahkan pesimistis dari sebagian kita dengan rencana kebijakan new normal yang akan diterapkan oleh pemerintah, yang pasti keberhasilan membangun hidup normal dalam tatanan baru ini mesti menjadi perhatian dan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat umumnya untuk mematuhinya.

Berhasil atau tidaknya program new normal, tidak mungkin ditentukan hanya oleh kebijakan  pemerintah, tampa dukungan dari semua pihak, termasuk kepatuhan kita semua warga bangsa. Karena itu diperlukan kesadaran semua pihak untuk saling mendukung dan bersatu padu. Semua pihak perlu berkolaborasi dan bersinergi dengan baik dan bertanggung jawab untuk menjalankan hidup normal dengan tatanan baru ini. Sehingga apa yang diharapkan dengan kebijakan new normal ini dapat kita wujudkan bersama, yakni bisa beraktivitas hidup seperti biasa dan terhindar dari ancaman wabah. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa memberikan pertolongan dan perlindungan untuk bangsa ini keluar dari situasi sulit, menghadapi wabah ini. Aamiiin (Villadamai3, 27 Mei 2020)                          

Check Also

PC PMII Sintang Gelar Bagi-bagi Sembako Bagi Kaum Dhuafa

SINTANG – NU Khatulistiwa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sintang mengadakan perpisahan bulan ramadhan …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com