Home / Catatan Ringan / Fenomena Imam Dadakan (Beribadah di Tengah Pandemi Covid 19)

Fenomena Imam Dadakan (Beribadah di Tengah Pandemi Covid 19)

Oleh: Jono Harun

Pengurus SAKO Ma’arif NU Kalbar

Sekilas agak terasa aneh dan janggal kedengarannya,ada sebuah fenomena “Imam Dadakan” dalam bulan Ramadhan kali ini. Bagi sebagian kalangan,terutama yang sudah terbiasa menjadi Imam atau para ustadz dan alim ulama,karena ini makanan mereka setiap waktu menghadapi Sholat.Namun ini akan terasa sesuatu yang sangat istimewa dan sangat membanggakan apabila di kerjakan atau laksanakan bagi kalangan/masyarakat awan.Kenapa demikian,karena semenjak Pemerintah menetapkan Virus corona,menjadi Pandemi Covid-19 ,maka semenjak itu semua kalangan atau masyarakat di larang keluar  rumah,termasuk beribadah harus di rumah saja,untuk menghinadri wabah corona yang telah melanda negeri ini,apalagi Majelis ulama dan Kemenag sudah mengeluarkam surat edaran dan Fatwanya,bahwa ummat muslim sebaiknya atau seharus melaksanakan ibadah di rumah saja,termasuk Sholat Jumat dan kegiatan-kegiatan ibadah lainnya.

Saat menyambut bulan Suci Ramadhan ini,semua kalangan ingin mengoptimalkan dirinya dalam melaksanakan ibadah,sehingga mereka inginnya beribadah di rumah ibadah saja atau Masjid dan surau.Namun itu tidak bisa mereka lakukan karena ada larangan Pemerintah tadi,sehingga mereka mau tidak mau harus melaksanakan ibadah shalatnya di rumah saja,sebagian yang saya sebutkan di atas tidak menjadi masalah karena mereka sudah terbiasa.namun akan sangat luar biasa apa bila di kerjakan oleh kalangan lainnya,mereka tentunya sibuk dan grogi untuk melaksanakannya,karena mereka tidak terbiasa,biasanya mereka terima bersih cukup menjadi makmum saja,semuanya sudah di komandoi oleh Imam dan takmir masjid lainnya,Mulai dari,Azan,Iqomah,Menjadi Imam,membaca doa serta wirid atau zikir-zikir lainnya.

Nah, sekarang  mereka harus melaksanakan sendiri,yang sudah berkeluarga,maka Yang menjadi Imamnya,tentulah kepala keluarga dalam hal ini seorang suami,Suami harus bisa menjadi Imam,membaca doa dan bacaan lainya,tentu ini tidaklah mudah,bagi kalangan awam terhadap pengetahuan agamanya,apa lagi kalau melaksanakan Ibadah sholat Sunnah Taraweh,yang jumlah rakaatnya banyak dan harus banyak pula menghapal surat-surat,kalaupun tidak yang panjang-panjang minimal surat pendek yang lebih sering di kenal dengan Juzz Amma,itu pun yang bagian –bagian akhirnya saja.tentunya bagi yang tidak terbiasa akan mengalami kesulitan,karena harus menghapal bacaan surat-surat di dalam sholat,seperti sholat taraweh tersebut.

Fenomena ini sangat langka dan jarang terjadi sebelumnya,dan ini merupakan sebuah adu gengsi bagi suami terhadap istri dan anak-anaknya,apalagi ada mertuanya,menjadi buah simalakama,di kerjakan belum tentu bisa,tak di kerjakan malu kepada Istri,anak-anak dan mertua,sehingga menambah keruwetan berpikir bagi suami di masa Covid-19 ini.Namun ini merupakan sebuah pembelajaran bagi semua pihak,bahwa ini bisa  menimpa siapa saja,sehingga tidak perlu terlalu di khawatirkan,lanjutkan saja menjadi Imamnya walaupun masih banyak terdapat kekurangan di sana sini,yang penting hal-hal yang wajib sudah dilaksanakan dengan benar,yang sunnah seperti bacaan Surat-surat di dalam Sholat masih belum hapal,apalagi doa dan yang lainnya.yang penting kita sudah menunjukan niat atau i’tikad baik dan keseriusan kita,bahwa kita juga bisa menjadi Imam,walaupun baru sebatas Imam Dadakan,seperti sekarang ini.”Kapan lagi mau jadi Imam kalau bukan sekarang”?…,sehingga terucap di dalam hati, Syukur  ada Covid – 19,sehingga aku bisa jadi Imam,kalau tidak tak mungkin menjadi Imam. Wallahu’lam bissawab

Check Also

Rais Syuriyah PWNU Kalbar Hadiri Pelantikan IPNU dan IPPNU Kabupaten Ketapang

Ketapang – NU Khatulistiwa, Pimpinan Cabang IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar …

Tinggalkan Balasan