Home / Badan Otonom / Diskusi Online IKA PMII : Rekontruksi Ketahanan Pangan & Kedaulatan Ekonomi Di Tengah Badai Covid-19

Diskusi Online IKA PMII : Rekontruksi Ketahanan Pangan & Kedaulatan Ekonomi Di Tengah Badai Covid-19

PONTIANAK – NU Khatulistiwa, Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Kalimantan Barat (PW IKA PMII Kalbar) baru saja menggelar diskusi online yang bertema ”Rekontruksi Ketahanan Pangan & Kedaulatan Ekonomi Di Tengah Badai Covid-19”. Diskusi ini berlangsung melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan langsung di Website NU Khatulistiwa Provinsi Kalimantan Barat pada Selasa 12/5 Pukul 14:30- 17:00 WIB. (13/05/2020)

Yang menjadi Keynote Speaker dalam diskusi online ini adalah Ketua PW IKA PMII Kalimantan Barat yaitu Suib, S.E, M.Si, moderatornya adalah Hasan Basri, S.Ei. Serta yang menjadi narasumber adalah Dr. Fery Fachrurrazi, MM selaku Dekan FEBI IAIN Pontianak, Fajri Nallus Subhi selaku penulis Ekonomi Desa, Muhammad Amin selaku Pegiat Koperasi, Firman, S.E, M.E.

Hasan Basri dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa ketahanan pangan terus mengalami perkembangan, ia mempertanyakan bahwa  apakah ketahanan pangan di Indonesia bagus atau malah carut marut.

“Pemerintah pusat dan daerah ada kesan tidak siap untuk menghadapi wabah covid ini. Saat ini pemerintah pusat dan daerah sedang berlomba-lomba membantu masyarakat, namun disisi lain pemerintah sedikit glabakan dalam melakukan distribusi pangan” tutur Hasan.

Ia juga memberikan opini bahwa saat pemerintah menyarankan masyarakat untuk melakukan karantina diri di rumah, menurutnya hal tersebut bagus karena bertujuan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan agar memutus rantai penyebaran covid-19. Ia memaparkan bahwa dalam masa karantina ini pendistribusian sembako sudah terjadi di mana- mana baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupaun daerah, namun menurutnya tanpa disadari kualitas sembako tersebut tidak bagus.

Ketua PW IKA PMII dalam hal ini Suib menanggapi, menurutnya berbicara konteks nasional semua provinsi mengaami pandemik dan semua hasil panen yang seharusnya panennya maksimal akibat pandemic ini jadinya mengalami penurunan, serta ekspor dan impor terbatas, menurutnya semua yg terdampak covid mengalami keterbatasan aktivitas untuk berniaga di luar. Dalam satu sisi konsumsi masyarakat terus berjalan.

“kalau masih berlanjut pandemik ini maka akan dikhawatirkan stok kebutuhan pangan masyarakat berkurang. Dari beberapa factor hari ini yang kita dorong adalah semuanya harus bersemangat untuk mendorong program ketahanan pangan lokal. Alternative terbaik untuk jangka menengah” tuturnya

Sedangkan Fajri Nallus Subhi mengatakan, saat ini kapitalisasi pertanian dan perkebunan menjadi perhatian, ia menjelaskan bahwa pangan di sini tidak hanya berupa makanan pokok, akan tetapi juga mencangkup bahan makanan lain. Saat ini mindset sebagian masyarakat adalah terjadi sragamisasi terkait makanan pokok tersebut yang diorientasikan kepada beras sagu dll, padahal bahan kebutuhan lain juga termasuk. Ia juga memaparakan bahwa dalam masa pandemik ini bukan berarti masyarakat perdesaan masih bisa bercocok tanam dengan lahannya, bahkan menurutnya nasip masyarakat desa terancam seperti masayraakt kota.

“kita musti memperhatikan juga daerah-daerah perdesaan yang teradi kapitalisasi perkebunan atau pertanian, mereka juga merasa lahan tidak ada, disekitarnya dipenuhi dengan kebun sawit. Lalu bagaimana kita bisa mengatasi masalah itu?” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa sebagai salah satu bahan refleksi bahwa kondisi yang terbatas ini menjadi peluang masyarakat untuk menggerakkan ekonomi yang ril dengan membangun potensi yang ada di desa yang disambung dengan intervensi yang berasal dari luar baik ilmu teknologi maupun pengetahuan.

“Katakanlah wilayah kalbar bidang pertaniannya itu terbaik,  dengan melimpahnya tanaman kelapa, bagaiamana dengan adanya ilmu dan teknologi, kita bisa mengembangkan berbagai produk di perdesaan. Ini berbicara bagaiamana merefleksikan  potensi desa yang dikembangkan sedemikian rupa agar mampu mengatasi persoalan ekonomi saat ini” tuturnya.

Lain halnya Firman Selaku anggota Komunitas Pemuda Pemantau Pangan dan Ekonomi  Kalimantan Barat dalam penjelasannya mengatakan bahwa Tenaga kerja di Indonesia di dominasi oleh sector pertanian kehutanan dan perikanan, namun tenaga kerja tersebut di dominasi oleh orang yang tidak lulus sekolah atau yang pendidikannya rendah. Sehingga pengetahuan terhadap peegelolaan kurang.

‘terkait ketahanan pangan di kalbar yang menjadi masalah adalah faktor pengelolaan yang kurang serius. Padahal sumber daya alam kita cukup mumpuni, jika masyarakat diberikan edukasi maka pengelolaannya akan baik dan tentu berpotensi baik bagi masyarakat.

Sedangkan Feri Facrurrozi selaku Dekan FEBI IAIN Pontianak dalam hal ini menanggapi tema dengan menggunakan kacamata Ekonomi Syariah. Menurut pemaparannya saat ini masyarakat sedang dalam masa lockdown yang paling terdampak adalah pangan sandang pangan dan papan, ia mempertanyakan apakah akan berdampak juga terhadap manufaktur atau keuangan dalam sudut pandang ekonomi islam.

“Logisnya setiap negara melakukan lockdown maka ditribusi akan terhenti, dan pasti kebutuhan dasar akan terganggu. Di lain sisi terdapat problem pergeseran musim tanam atau cuaca yang dapat menciptakan ketidakpastian panen . Nah di sini  saya akan menyampaiakan peran ekonomi syariah terhadap hal tersebut” ungkapnya

Ia menjelaskan bahwa umat islam dapat hadir dan berperan  dalam menanggulangi dampak covid ini terhadap ketahah pangan.

“Ekonomi syariah menawarkan enam konsep dalam hal ini, yang pertama adalah dengan melakukan pemberdayaan zakat, yang kedua pemberdayaan inklusifitas masyarakat dalam hal pendapatan, yang ketiga menghindari transaksi yang sifatnya seperti judi, yang keempat memberdayakan wakaf, yang kelima menghindari transaksi haram, dan yang terakhir melakukan transaksi yang dapat terhubung dari individu satu ke individu lain, sehingga tercipta rasa saling membantu” ungkapnya. Ia memaparkan bahwa Konsep  Ekonomi Syariah tersebut sudah susuai dengan konsep Rasulullah.

Ia juga menjelaskan bahwa pergeseran antara gaya hidup kepada kebutuhan hidup tidak gampang, yang  biasanya gaya hidupnya berkelebihan, saat ini karena tidak adanya pendapatan menjadikan kehidupan sehari-hari tidak mudah. Maka perlunya setiap individu agar beradaptasi dengan keadaan.

Muhammad Amin selaku pegiat Koperasi dalam hal ini memaparkan bahwa dalam data WHO covid menjangkit lebih dari 200 negara  dampaknya merusak semua sektor, menurtnya sektor yang diamati selain sector  kesehatan adalah sector ekonomi ketahanan pangan.

Ia mengatakan bahwa saat ini pemerintah sudah tepat dalam  menganggarkan dana untuk covid-19 namun yang disayangkan adalah pengalokasian yang tidak optimal, untuk itu ia menyarankan agar masyarakat melakukan alternative lain agar perekonomian terus berjalan.

“kita harus melakukan kegiatan yang berbeda, dengan yang transaksi dilakukan dengan cara konvensional diubah menjadi transaksi system online” tuturnya.

Ia juga memaparkan bahwa IKA PMII adalah organisasi yang anggotanya banyak dan sangat solid, hal tersebut menjadi peluang baik jika setiap anggota berkontribusi menyisihkan rezekinya untuk korban covid-19.  (Siti Maulida)

Check Also

Fatayat NU Mempawah Peringati Hari Santri Dengan Lomba Baca Kitab Kuning

Mempawah – NU Khatulistiwa. Rayakan Hari Santri Nasional, Pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Mempawah Laksanakan …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com