fbpx
Home / Opini / Berdamai, Mengaku Kalah atau Strategi Menang

Berdamai, Mengaku Kalah atau Strategi Menang

Oleh: Dr.Ibrahim, MA

Lebih tiga bulan sudah genderang perang dikumandangkan oleh pemerintah untuk mengatasi wabah pandemi covid19 yang melanda negeri ini. Tagar Indonesia Bersatu Melawan Covid19, atau Bersama Melawan Covid19 menjadi narasi yang terus dipopulerkan sejak tiga bulan terakhir ini.  Berbagai himbauan dan kebijakan terkait kesehatan pun dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka memerangi wabah virus ini. Mulai dari ajakan untuk menjaga kesehatan diri, pola hidup bersih, jaga jarak sosial dan jarak fisik dalam komunikasi, hingga pembatasan sosial lainnya. Menghindari kerumunan, dan mengurangi kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk dalam aspek ibadah dan keagamaan.

Beberapa kebijakan besar juga sudah diambil oleh pemerintah dengan meliburkan aktivitas pendidikan di sekolah, di perguruan tinggi, dan mengalihkannya ke rumah (belajar – mengaar di rumah). Menghimbau beberapa perusahaan terkait untuk mengalihkan sistem kerja menjadi bekerja dari rumah, hingga pembatasan transportasi dan sebagainya. Dalam konteks peribadatan, penundaan ibadah shajat jum`at di masjid dan menggantinya dengan shalat zuhur di rumah, dan shalat taraweh dilakukan di rumah masing-masing. Disinilah kita menjadi pamiliar dengan narasi “belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah di rumah”

Sebulan terakhir ini bahkan pemerintah mengeluarkan satu kebijakan besar untuk memutus mata rantasi penularan virus covid19 dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang sudah diterapkan di beberapa kota besar dan berdampak positif terhadap kasus ini. Semua langkah dan kebijakan ini merupakan bagian dari bentuk perlawanan yang kita lakukan. Perlawanan yang pemerintah lakukan terhadap kasus pandemi covid19. Inilah buah dari narasi besar Indonesia Bersatu Melawan Covid19, Bersama Melawan Covid19.

Terlepas dari apapun hasilnya, sebagian kalangan menilai bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam melawan penyebaran covid19 masih belum mendapat hasil yang memuaskan, buktinya penyebarannya masih terus terjadi, semakin banyak dan semakin meluas. Tetapi sebagian kalangan menilai, upaya perlawan dengan berbagai kebijakan tadi sudah cukup berhasil, mengingat angka penambahan kasus penyebarannya yang cendrung stagnan (stabil), dengan angka nasional tertinggi berkisar 300-400 saja perhari. Bahkan di beberapa wilayah yang sudah menerapkan PSBB seperti DKI Jakarta, angka penurunan kasus sudah mulai terlihat menurun.

Mau dianggap berhasil atau tidak dalam peperangan melawan covid19, upaya apapun yang pemerintah lakukan sangat tergantung dengan dukungan dari semua pihak untuk mematuhinya. Tampa kepatuhan dan disiplin untuk menjalankan semua protokol kesehatan dan himbauan yang diberikan, maka tidak akan ada artinya kebijakan pemerintah, sebaik apapun itu. Kondisi ini sepertinya membuat ragu sebagian pihak, termasuk pemerintah sendiri. Prediksi puncak hingga akhir kasus corona pun mulai mundur dari Juni, Julu, September, bahkan akhirtahun 2020, dan tak tau kapan berakhirnya. Ragu, apakah bangsa ini akan mampu keluar sebagai pemenang dalam peperangan ini.

Inilah sepertinya yang melatar-belakangi munculnya narasi baru, dari melawan menjadi berdamai. Iya, Hidup Berdamai Dengan Covid19, itulah narasi baru itu. Sebuah narasi yang mulai digaungkan oleh beberapa kalangan, termasuk presiden. Meskipun belum menjadi sikap resmi, akan tetapi narasi ini telah memunculkan banyak pertanyan di tengah masyarakat, apakah berdamai itu menunjukkan bahwa kita telah kalah dan gagal memenangi peperangan melawan Covid19. Banyak pihak mempersoalkan pernyataan presiden yang mengajak berdamai dengan covid19, apakah itu bermakna kekalahan dan sikap menyerah pemerintah. Atau, sebuah strategi baru untuk memenangi peperangan melawan covid19 ini.

Beberapa hari sebelumnya, seorang guru besar dari Institut Pertanian Bogor mengirim surat terbuka kepada Presiden tanggal 06 Mei 2020, yang isinya menyarankan untuk mengambil sikap berdamai dengan covid19. Menurutnya (dalam surat itu), langkah berperang (mitigasi ala Wuhan) dengan tanpa adanya vaksin kurang begitu nyata hasilnya, karena itu kemungkinan pandemi ini belum akan berakhir dalam waktu dekat (tahun 2020) ini. Akan lebih baik kita ambil langkah penyelesaiannya dengan melakukan adaptasi. Artinya kita “berdamai” dengan covid19 melalui cohabitation (hidup bersama). Tinggal bersama virus adalah pilihan yang tak dapat dielakkan sambil menghindari  resiko infeksi.

Apa yang disampaikan oleh guru besar tersebut, dan narasi Presiden yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan Covid19 bukan saja membingungkan masyarakat, tapi juga memunculkan kekalutan dari kalangan istana sendiri, sehingga klarifikasi pun harus diberikan oleh jurubicara istana. “Berdamai” yang dimaksudkan presiden adalah ajakan kepada masyarakat untuk berupaya menerima kenyataan ini dengan tenang, tidak panik, dan belajar menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan baik. Beradaptasi dengan gaya hidup sehat, rajin berolah raga, rajin mencuci tangan dengan sabun, mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, dan sebagainya. Beradaptasi dengan kebiasaan menjaga jarak fisik dan sosial dalam berkomunikasi, menghindari kerumunan masa, dan sebagainya. Itu semua gaya hidup baru yang kita biasakan di tengah pandemi ini.     

Berdamai dengan Covid19 yang dimaksudkan dalam narasi presiden adalah ajakan kepada masyarakat untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan pandemi ini. Mengingat vaksin belum ada, masih akan perlu waktu yang cukup panjang untuk bisa menghentikan penularan covid19. Bangsa ini akan hidup bersama covid19 dalam waktu yang cukup panjang hingga nanti ditemukan vaksin. Karena itulah ajakan berdamai dengan covid19 keluar dari lisan sang presiden. Ajakan berdamai untuk maksud membawa kita terus mampu melakukan penyesuaian gaya hidup baru, dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan, tetap bisa  produktif meskipun bekerja dari rumah. Tetap berupaya menjaga kesehatan diri, keluarga dan masyarakat sambil menunggu hadirnya vaksin untuk membasmi virus ini nantinya.

Dengan demikian, narasi presiden yang mengajak berdamai dengan Covid19 bukan lah sebuah pesan kekalahan (mengaku kalah) dan menyerah dalam peperangan, melainkan satu strategi meraih kemenangan. Strategi mengulur waktu, bertahan untuk tidak terinfeksi sambil menunggu adanya vaksin, bertahan untuk membangun kekuatan diri guna persiapan menyerang balik demi meraih kemenangan pada akhirnya. Inilah yang disebut dengan strategi catenacio dalam sepak bola Italia, kekuatan bertahan dan mengandalkan serangan balik (rebound) untuk meraih kemenangan dalam ilmu sepakbola. Ada-ada saja…, yang penting, teruslah berfikir positif untuk imun baik kita bro.       

Check Also

Khutbah Idul Fitri 2020 : MENGGALI HIKMAH DI BALIK PANDEMI WABAH

Oleh. H. Kartono, S.Pd.I.,M.Pd* الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. الله …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com