fbpx
Home / Opini / Social Distancing dan Ujian Kepatuhan Bersama

Social Distancing dan Ujian Kepatuhan Bersama

Oleh: Dr.Ibrahim, MA

Ketua LTN PWNU Kalbar

Merebaknya kasus corona hingga ke Indonesia memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman baru dalam komunikasi kita. Beberapa istilah spesifik pun menambah kamus bahasa dalam komunikasi sosial, seperti ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), Suspect, Lockdown, self isolation, hingga social distancing dan sebagainya.

Tulisan singkat ini tidak akan mendiskusikan semua istilah di atas, sebab penulis percaya bahwa istilah-istilah tersebut akan difahami seiring dengan dinamika sosial dan komunikasi yang kita semua alami bersama. Jika awalnya istilah tersebut merupakan sesuatu yang tabu dan asing untuk difahami, pada saatnya nanti akan berubah menjadi sesuatu yang pamiliar dan biasa-biasa saja, dan pastinya akan dipahami maksudnya.

Tulisan singkat ini justru ingin membuka diskusi mengenai istilah Social Distancing sebagai suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mencegah merebaknya penularan virus covid 19. Kebijakan ini dimaksudkan supaya masyarakat Indonesia bisa menjaga jarak dalam berkomunikasi, mengurangi kontak fisik, serta menghindari kegiatan-kegiatan massal.  Maklum, banyak ahli mempercayai bahwa media penularan yang paling dominan dari virus ini adalah melalui cairan droplet ketika orang bersin dan batuk, serta kontak fisik dan kerumunan banyak orang.

Lebih detil lagi, kebijakan social distancing ini diimplementasikan oleh pemerintah dalam himbauan supaya masyarakat tidak keluar rumah, bekerja dari rumah, berlajar di rumah, dan beribadah di rumah.  Kelanjutannya, sekolah-sekolah diliburkan, kampus mengubah sistem belajar tatap muka menjadi belajar online (e-learning), kegiatan sosial keagamaan yang bersifat massal dibatasi, hingga shalat berjamaah di masjid dan jum`atan dihimbau untuk ditiadakan sementara waktu. Untuk yang terakhir ini, bukan hanya kebijakan pemerintah yang mengaturnya, melainkan himbauan langsung dari para tokoh agama dalam bentuk fatwa. Inilah impementasi kebijakan social distancing yang diambil oleh pemerintah kita.

Persoalan berikutnya adalah, bagaimana dengan tingkat kepatuhan masyarakat untuk menjalankan kebijakan social distancing itu? Di banyak tempat kita masih melihat jalanan yang sesak-macet, ramainya tempat hiburan malam, mall masih dipadati para pengunjung, pasar-pasar masih berkeliaran dengan penjual dan pembelinya. Dalam waktu bersamaan, angka positif terpapar virus Covid 19 masih terus bertambah dengan signifikan dari hari ke hari. Mengapa demikian? Bukankah kebijakan social distancing itu dimaksudkan untuk memutus mata rantai penularan virus ini? Mengapa kebijakan ini belum berdampak positif untuk mengurangi kasus virus covid 19?

Salah satu jawabannya ada pada tingkat kepatuhan masyarakat untuk melaksanakan kebijakan social distancing itu dengan benar. Berapa banyak masyarakat yang dengan sungguh-sungguh telah membatasi jarak komunikasi sosial. Berapa banyak masyarakat kita yang rela berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah, tidak berkeluyuran di jalan-jalan, tidak melibatkan diri dalam pertemuan masal, atau bahkan rela menghentikan untuk sementara praktek shalat berjamaah di masjid, bersalaman dan semacamnya sebagaimana fatwa Majlis Ulama..? mari kita jawab dengan fakta, bukan argumentasi hukum. Kebijakan social distancing yang dimaksud untuk menghentikan penularan virus covid 19 ini bukan saja tidak dipatuhi oleh sebagian besar masyarakat, tapi juga gagal difahami dengan baik dan pengetahuan yang sadar. Bagaimana tidak, menjaga jarak diri dan sosial dalam berkomunikasi sesungguhnya adalah wujud kecintaan terhadap diri dan orang lain di sekitar. Karena dengan social distancing itulah semestinya kita bisa menjaga diri untuk tidak tertular atau menularkan virus penyakit kepada orang lain di sekitar kita. Akhirnya, marilah kita dukung kebijakan pemerintah, bersatu padu, bahu membahu untuk memerangi virus covid 19 ini. Hanya kepada Allah lah kita memohon perlindungan dari semua wabah bencana yang melanda negeri ini. hasbunallaahu wanikmal wakiil, nikmal maulaa wanikman nashiir.

Check Also

Satgas Gugus Tugas GP Ansor Penanganan Covid-19 dan LazisNU Melawi Peduli Anak Yatim

MELAWI – NU Khatulistiwa, Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Jum’at (22/05) Satgas Gugus Tugas GP …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com