fbpx
Home / Opini / Surat Untuk Nada Fedulla

Surat Untuk Nada Fedulla

Oleh : Syarifuddin

 ( Pengurus Remaja Masjid Miftahul Jannah Parit Tengah Baru )

Nada Fedulla, dari wartawan BBC, Quentin Sommerville kami tahu kondisimu. Saat ini, Nada bersama nenek tercinta tinggal di salah satu camp di Suriah. Tepatnya di Roj Camp, tempat penampungan eks ISIS. Saat menjawab pertanyaan wartawan BBC engkau menangis, matamu merah, air matamu membasahi kaca matamu. Tanda Nanda menyesal.

Sewaktu di Indonesia, engkau senang belajar, bercita-cita menjadi seorang dokter. Semangat belajarmu tinggi. Namun  cita-cita itu buyar dan masa depanmu menjadi gelap pekat saat engkau bertolak ke Suriah memenuhi ajakan ayahmu, Aref Fedulla yang termakan doktrin jihad ISIS,  memboyongmu bersama seluruh keluargamu untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.

Indonesia, negeri yang damai, santun, dan beradab kamu tinggalkan semata hanya untuk memenuhi syahwat ayahandamu bergabung dengan ISIS. Hijrah ke negri khilafah yang menjanjikan taman surga. Namun nyatanya yang kamu rasakan adalah neraka. Ayahmu kerasukan doktrin gila yang membawa sengsara.

Namun begitu, kamu tetap menganggap ayahmu sebagai seorang ayah. Beribu penyesalan dan kekesalan terhadapnya, kamu masih mengaku tetap memaafkan. Hanya satu permintaanmu, “Saya ingin pulang ke Indonesia, saya sudah cukup lelah.”

Duh Nada, bukankah agama Islam mengajarkan kepatuhan kepada orang tua hanya bila tidak melanggar syariat. Bila sebaliknya engkau sah untuk menolak. Nabi Ibrahim mengajarkan hal itu sedari dulu. Nabi Muhammad juga. Andaipun saat itu engkau tidak tahu, tentu nalar sehatmu bisa memilah untuk memilih kebenaran. Atau bertanya kepada ahlinya. Jihad dalam agama Islam bukan seperti itu. Doktrin jihad ISIS karena nalar agama yang dangkal. Atau ambisi kekuasaan kelompok tertentu.

Nada, Jerit tangismu tanda penyesalan. Tanda bahwa engkau ingin bertaubat. Bila gadis sebayamu tahu kondisi kamu saat ini, andaikan mereka mampu mengulurkan tangan, pasti akan merengkuhmu untuk kembali ke Nusantara. Nada, apa hendak dikata, mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Allah selalu membuka pintu taubat untuk hambaNya. Tapi ketauhilah Nada, NKRI punya pertimbangan lain berdasar maslahah umum demi menjaga kesatuan dan keutuhan negaramu ini yang dulu harus ditebus dengan ratusan ribu darah para syuhada.

Nada, jihad itu seperti para syuhada yang gugur untuk merebut atau mempertahankan NKRI. Bukankah sewaktu Rasulullah di Makkah Allah tidak memberi izin untuk memerangi kafir Quraisy yang nyata-nyata telah melakukan penindasan kepada kaum muslim?. Izin itu baru turun ketika Beliau ada di Madinah dan Negara Madinah telah terbentuk. Ini artinya, perang hanya dibolehkan untuk mempertahankan Negara.

Nada, bersabarlah. Kami rakyat Indonesi tahu, engkau hanya korban doktrin palsu. Saudara-saudara seimanmu juga tahu penderitaanmu sebagai orang terbuang, hidup di Camp pengungsian. Betapa engkau sangat menderita. Semoga Nada masih bisa menginjakkan kaki di tanah tercinta, dan memberi tahu kepada rakyat Indonesia akibat buruk doktrin palsu ISIS yang hanya berakibat kesengsaraan dan kebiadaban. Kami menantimu, wahai Nada Fedulla.

Check Also

UNU Kalbar dan Ponpes Raudlatul Ulum Meranti Tandatangani Kerjasama

KUBU RAYA – NU Khatulistiwa, Penandatanganan nota kesepahaman (PNK) Pimpinan Pondok Pesantren Yayasan Pendidikan Islam …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com