Home / Opini / Sunni – Syi’iy, Mu’minuna Haaqqan

Sunni – Syi’iy, Mu’minuna Haaqqan

Oleh: Ach Tijani

Anggota Lakpesdam PCNU Kota Pontianak

Fiqih Politik Ahlul Bait tidak hanya lebih dinamis daripada sunni, tetapi memang sejak awal Ahlul Bait memilih menjadi pelopor kehadiran Islam yang produktif. Hampir seluruh bidang keilmuan dikembangkan mulai dari prinsip filosofis (pure science) sampai teknik dan aplikasinya (applied acience) berhasil digarab dengan baik.

Ketika bebrbicara persolan politik tidak hanya bicara persoalan kemegahan sistem tetapi diikuti oleh tata pengeloloan yang jelas, sehingga setiap pemangku amanah dan bahkan masyarakat awam tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan kokoh dalam memegang prinsip. Terbukti sampai saat ini Iran sebagai salah satu negara mayoritas Syiah tampil menjadi kompetitor politik yang disegani oleh negara adidaya di dunia.

Kehadiran Dr. Hujjatullah Ebrahimian dalam forum diskusi ilmiah dua hari yang lalu cukup untuk membuka mata kita semua dalam melihat secara adil atas segala perbedaan dan kesamaan antara Syi’ah-Sunni yang selama ini terlanjur dijauhkan dengan berbagai idiomatik kebencian. Sesat dan kafir adalah idiomatik identik atas Syiah yang selama ini tumbuh berkembamg di tengah masyarakat luas tanpa terlebih dahulu membangun dialog dan perkenalan yang proporsional antar satu dengan yang lain.

Pandangan pluralism dari Hujjatullah Ebrahimian terdapat pada catatan di makalahnya yang mennyatakan bahwa Islam itu memliki universalitas yang melintasi segala aspek di dalam Islam itu sendiri. Sebagai contoh, di dalam Islam sholat itu wajib, tetapi memepertahankan Islam jauh lebih penting, bahkan karena Islamlah kita menjadi wajib melaksanakan sholat.

Begitu juga barangkali diantara kita harus berada sebagai Sunni atau Syi’ah dalam keyakinan dan perbuatan, tetapi jangan menjadi Syi’ah atau Sunni yang melunturkan warna Islam, karena kita tidak akan menjadi Syi’ah atau Sunni tanpa Islam. Masing-masing kembalilah pada sunni atau Syi’ah dan atau apapun pijakan madzhabiyah yang ada, tetapi jangan menghilangkan warna Islam di dalamnya.

Dengan warna Islam itu kita semua dalam keragaman akan lebih mudah bertemu dengan senyum, makan dan tidak haram jika saling meminta selfie. Sayapun tetap Sunni diapun tetap gagah dengan Syiah, tapi kami berdua masih dalam satu relasi yaitu sebagai mu’min sejati (Mu’minuna Haqqan).

Check Also

Kepengurusan OSIS dan MPK MAN Mempawah Resmi Dilantik

MEMPAWAH – NU Khatulistiwa, Beberapa siswa/i Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mempawah yang tergabung dalam kepengurusan …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com