Home / Ngaji / Polemik Awal Pintu Masuk Studi al-Qur’an

Polemik Awal Pintu Masuk Studi al-Qur’an

Oleh: Ach Tijani

Al-Quran sebagai wahyu dalam persepektif keimanan selalu bersifat absolut dan mutlak. Satu-satunya kebenaran puncak yang tidak ada kebenaran lain yang dapat menyisihkannya. Tulisan ini tidak dalam rangka mempertanyakan dan meragukan, tetapi tulisan hanya hendak menyampaikan suatu polemik awal dalam suatu kajian keilmuan yang menempatkan al-Quran baik sebagai obyek mapun subyek ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah kajian Quran disebutkan bahwa kehadiran Quran tidak hanya ekslusif untuk umat Islam, tetapi juga hadir sebagai kajian bagi agama non Islam. Salah satu agama yang paling akrab dengan kajian Quran adalah umat Kristiani. Tercatat dalam sejarah studi Quran, bahwa umat Kristiani sudah tidak asing dengan teks al-Quran sejak 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kutipan ayat-ayat al-Quran dari para sarjana Kristen, khususnya oleh para tokoh Arab Kristen.

Salah satu karya sarjana Kristen yang banyak memuat ayat-ayat Al-Quran adalah Kitab Al-Majalis yang ditulis sektar akhir abad ke-9. Kitab ini berisi tentang sanggahan teologis mengenai tuduhan syirk kepada para pemeluk Kristen. Dalam argumen apologetik yang dibangun oleh Maar Elias berangkar dari berbagai perspektif, yaitu perspektif kehadiran al-Quran sebagai naskah, kajian kebahasaan dan persepektif teologis itu sendiri.

Dalam perspektif al-Quran sebagai naskah, kalangan umum umat Kristen menyangsikan al-Quran hadir sebagai wahyu Tuhan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya keserupaan teks dalam al-Quran dengan teks-teks kuno Yunani. Al-Quran ditempatkan sebagai kitab suci yang ditulis belakangan sekitar tahun 720-an. Muhammad dituduh sebagai pembuat legenda yang belakangan cerita-cerita tersebut diberi judul-judul yang sempurna sebagai bentuk reaksi dan relasi perlawanan politik antara Islam dan Bezantium.

Tuduhan tersebut tidak berarti benar secara keseluruhan, walau mungkin juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya salah.  Terdapat ambilvalensi anatara penolakan Al-Quran sebagai wahyu dan sikap orang Kristen sendiri saat itu. Narasi propaganda apologetik itu juga menguat, tatapi di sisi yang lain juga terdengar sayup pengakuan bahwa didalam teks Al-Quran juga terdapat ruh spritualitas serta kemegahan bahasa yang sangat indah, terutama jika dilafalkan secara lisan.

Selain adanya kseerupaan naskah al-Quran dengan naskah Kristen Yunani kuno juga terdapat suatu cerita yang ikut menopang klaim tersebut, yaitu cerita tentang perjumpaam Muhammad dengan Buhaira. Menurut pandangan beberapa sarjana Kristen, nama Buhaira agak susah ditemukan faktanya dalam sejarah pertumbuhan Kristen-Arab. Apakah kesulitan tersebut memang menunjukkan bahwa pertemuan itu hanya sebatas legenda atau fakta sejarah yang ditutup untuk diungkap, hal tersebut masih menyimpan berbagai praduga.

Satu dugaan lain menyatakan, bahwa pertemuan Muhammad dan Buhaira bisa saja terjadi, akan tetapi kelanjutan fakta sejarah tersebut tertutup karena ada hubungannya dengan hadirnya al-Quran sebagai kitab suci. Dalam konteks ini, mengemuka sutau pendapat yang barangkali cukup mengguncang nalar andrenalin keimanan kalangan muslim. Pendapat itu menyatakan bahwa al-Quran itu tidak lain adalah ajaran Buhaira yang dititipkan kepada Muhammad sebagai kritik terhadap iman Kristen yang rusak.

Polemik antara tuduhan syirik terhadap iman Kristen dan teks dan kesejarahan kehadiran al-Quran keduanya khas apologetik. Term syirik adalah tuduhan yang meminta secara implisit kepada umat Kristen untuk mengkonversi pada pilihan agama baru yaitu Islam, sementara tuduhan keraguan al-Quran sebagai wahyu adalah perlawanan Kristen dalam mempertahankan keimanannya. Namun yang menarik dalam kajian Maar Elias tidak terdapat adanya tuduhan bahwa al-Quran bukan wahyu.

Dalam Kitab Al-Majalis hanya sampai pada pendapat bahwa ayat-ayat al-Quran memiliki keserupaan dengan teks-teks Yunani tapi tidak menuduh bahwa al-Quran bukan wahyu. Al-Majalis  berpendapat justru al-Quran itu berisi tentang testimonial kebenaran ajaran Kristen. Tuduhan syirik yang berkonsekuensi pada derivasi narasi klaim berikutnya seperti kafir dan klaim Islam sebagai agama yang paling benar adalah kesalahan tafsir bukan pada kesalahan  teksnya. Karena hakikat al-Quran adalah ayat testimonial kebenaran Kristen.

Suatu pembuktian adanya testimonial kebenaran ajaran Kristen dalam al-Quran adalah adanya pembenaran terhadap konsep trinitas. Trinitas dalam al-Quran itu adalah gerakan ruh suci, Tuhan menjadi wahyu disampaikan kepada manusia dengan cara min warai hijab dalam ajaran Kristen hijab itu adalah Human Nature yaitu dari sosok ibu Maryam yang suci kemudian melahirkan Isa sabagai firman yang mewujud dalam Human Nature. Sementara dalam Islam wahyu itu mewujud dalam nalar suci (ide) Muhammad yang kemudian hari ini mewujud dalam bentuk kitab (empiric).

Wujud empirik al-Quran dalam naskah dan bahasanya sangat mungkin terjadi keserupaan, tetapi tidak mungkin menggugurkan al-Quran sebagai wahyu. Barangkali kita akan berpolemik di kawasan emperical discuss walau bisa jadi berada dalam satu konsrtuk  dan keberlangsungan ide (wahyu) yang sama dan dari sumber yang maha Benar. Keserupaan teks dan naskah kuno Yunani dan kesejarahan kehadiran Quran satu sisi adalah polemik awal studi Quran, di sisi lain terdapat peluang bahwa keterpisahan Islam-Kristen hanya di tataran empirical discuss, mungkin pada hakikatnya kita bisa menyebut Islam itu adalah “New-Kristen” atau Kristen itu adalah “Traditional Islam”.

Evidensi mengenai argumen “New-Kristen” yang menggetarkan keimanan tersebut, dapat dilihat pada testimonial al-Quran yang mengakomudir kebenaran Kristen dan fakta paman Nabi Muhammad yaitu Abu Thalib sebagai orang yang hadir langsung mendengar apa yang dikatakan Buhaira kepada Nabi Muhammad, tapi secara empiric justru tidak berislam hingga akhir hayatanya. Kira-kira apa yang diragukan beliau, apakah justru terdapat keyakinan yang kuat bahwa tetap dalam keyakinannya yang lama, berarti telah sama dengan berislam walau tidak secara empiric. Wallahu A’lam bis-Showab             

Check Also

Banom NU Mempawah Siap Sukseskan Hari Santri Nasional 2019

MEMPAWAH – NU Khatulistiwa, Badan Otonom Nahdlatul Ulama Kabupaten Mempawah gelar persiapan agenda hari Santri …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com