Home / Badan Otonom / LKKNU Berperan Sentral dalam Membangun Kemashlahatan Negara

LKKNU Berperan Sentral dalam Membangun Kemashlahatan Negara

JAKARTA – NU Khatulistiwa, Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Nahdlatul Ulama mengadakan Rakornas yang dikemas dengan Lokakarya Partisipasi Lembaga Kemasyarakatan dalam pelaksanaan Undang-undang desa Tahun Anggaran 2019 di The Acacia Hotel.Lokakarya dengan tema Pemberdayaan Masyarakat Desa Berbasis Keluarga ini berlangsung dari tanggal 4 Oktober sampai 6 Oktober 2019. (6/10/2019)

Acara ini dihadiri oleh Bapak Robikin Emhas selaku Perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yang mewakili KH Said Aqil Siradj. Hadir pula perwakilan sekretaris Jendral kementrian desa dan transmigrasi. Lokakarya ini dihadiri oleh Pengurus Wilayah LKKNU se Indonesia, serta dihadiri oleh Pengurus Cabang LKKNU yang berada di Wilayah Jabodetabek.

Ketua PP LKKNU Ida Fauziah mengatakan bahwa Rakornas ini merupakan Rakornas yang keduakalinya yaitu 2015 dan 2019, rakornas pertama dilaksanakan pada bulan oktober 2015, dan saat ini Rakornas diadakan lagi di bulan Oktober 2019.

“perlu saya laporkan bahwa LKKNU ternyata dalam anggapan masyarakat di beberapa wilayah dianggab bukan lembaga yang penting terkait lembaga yang melayani masyarakat” ungkapnya. Menurutnya padahal lembaga yang berperan sentral karena bagaimana mungkin seseorang dapat mengurus negara tanpa diawali dengan membangun keluarga mashlahah, ketika seseorang sedang membangun keluarga mashlahah maka sesungguhnya seseorang sedang membangun negara pula.

“jika kita ingin membangun keluarga yang mashlahah adalah dengan membangun orangtua yang sholeh dan sholehah, karena keduanya mempengaruhi anak” ungkapnya. Keluarga yang baik adalah keluarga yang tidak hanya membawa kebaikan untuk keluarganya sendiri, namun keluarga baik adalah keluarga yang dapat membawa kebaikan kedalam ruang lingkup sosial kemasyarakatan. Ia menyatakan bahwa keluarga merupakan peran sentral dalam membangun sikap antiradikalisme. Karena banyak anak anak yang terjangkit pemikiran radikalisme akibat dari lingkungan keluarga, khususnya didikan orangtua.

“Kami telah menyelesaikan konsep keluarga mashlahah annahdliyah yang diharapkan dapat menginspirasi seluruh keluarga Indonesia” jelasnya.

Sedangkan KH Robikin Emhas mengatakan bahwa negara Indonesia memanggul mandate NKRI, Undang-Undang Dasar , Pancasila. Jika setiap keluarga dapat memanggul keluarga pasti akan mashlahah.

“bagaimana keluarga bisa disebut keluarga yang mashlahah, yaitu dari kapasitas dari sisi pengetahuan keilmuan baik pengetahuan agama maupun umum, keterampilan dan termasuk sikap dasar kehidupan keluarga, dan tentunya keluarga tersebut dapat membangun anggota keluarga yang moderat dan toleran” Imbuhnya (Maulida)

Check Also

Banom NU Mempawah Siap Sukseskan Hari Santri Nasional 2019

MEMPAWAH – NU Khatulistiwa, Badan Otonom Nahdlatul Ulama Kabupaten Mempawah gelar persiapan agenda hari Santri …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com