Home / Opini / Jihad Filsafati Santri

Jihad Filsafati Santri

Peserta membawa bendera merah putih saat mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Perempatan Kartonyono, Ngawi, Jawa Timur, Senin (21/10/2019). Kirab Hari Santri Nasional tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah, pondok pesantren serta lembaga pendidikan berbasis ke-Islaman.

Oleh: Arief Adi Purwoko

Dosen IAIN Pontianak

Hingar bingar Hari Santri Nasional menjadi mitos baru, yang sekaligus menempatkan eksistensinya pada persimpangan makna ruang dan waktu. Pada kenyataannya, stigma tertinggal, kumuh, dan tidak intelek seringkali disematkan para aristokrasi pendidikan kepada kaum santri di era kontemporer. Tentu saja hal tersebut telah mengingkari nilai-nilai santri itu sendiri sejak kelahirannya.

Secara makna terminologis, kata “santri” lebih bermakna positif, yakni sebagaimana yang diungkap C.C. Berg, bahwa kata tersebut berasal dari bahasa India kuno “shastri” yang berarti “melek huruf”, terutama merujuk pada orang yang mempelajari kitab-kitab Hindu. Merangkum pemaknaan yang diungkap oleh beberapa Ulama Nahdlatul Ulama (NU), terminologi “santri” hampir memiliki makna seragam. Sebagaimana pandangan KH. Aqiel Siradj, KH. Ma’ruf Amin, dan Cak Nun, bahwa “santri” memiliki makna: 1) orang yang belajar dengan kepatuhan; 2) murid yang patuh terhadap kyai; 3) murid yang senantiasa mengikuti guru; dan 4) representasi kyai.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, santri sangat dekat dengan pesantren, bahkan pada beberapa klaim yang adekuat, sangat lekat dengan kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU). Nota epik yang hingga saat ini masih tersimpan adalah saat 22 Oktober 1945, tergambar pada “Resolusi Jihad Santri” yang dikumandangkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebuah resolusi jihad yang muncul di permukaan sebagai api penolakan terhadap kolonialisme. Suatu wujud bakti santri sebagai representasi keteguhan kyai atas kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Meskipun nota epik tersebut kemudian diratifikasi oleh Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun 2015 tentang “Hari Santri Nasional” yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, bukan lah hal tersebut cukup menjadi piala yang indah untuk disimpan, kemudian dibiarkan begitu saja dalam lemari sejarah. Terlebih, era “post-truth” merupakan suatu kondisi unik. Pemaknaan terhadap benda maupun realitas dapat dengan mudah dipelintir sesuai dengan kehendak pembahasaan atas kepentingan tertentu.

Terdapat makna yang lebih mendalam, ketika meletakkan terminologi “santri” sebagai eksistensi filsafati. Secara ontologis, “santri” telah dikandung dan dilahirkan oleh kebaikan (moral good). Secara denotatif, “santri” merupakan sifat alamiah manusia untuk membaca realitas tertentu melalui budaya literasi. Secara khusus dalam konsep pendidikan Islam, pesantren merupakan ruang sumber pengetahuan santri. Secara simbolik, santri dapat direpresentasikan sebagai kepatuhan nalar untuk mendapatkan pengetahuan.

Adapun secara epistemologis, “santri” merupakan suatu pilihan sikap hidup, dengan segenap cipta, rasa, dan karsa untuk membaca simbol-simbol realitas sebagai pengetahuan. Sikap hidup tersebut merujuk pada sifat kerendahan hati, untuk senantiasa membuka diri terhadap dinamika realitas, sebagai fenomena yang disimpulkan sebagai pengetahuan. Pendek kata, pengetahuan santri berasal dari dialektika kyai (guru) dan dinamika realitas (fenomena). Tentu saja makna kerendahan hati dalam konteks tersebut bukan berarti menghilangkan aspek rasionalitas, melainkan lebih kepada sikap menahan diri untuk mendapatkan suatu jawaban yang terang benderang.

Hingga pada tataran aksiologis, santri merupakan eksistensi bernilai dan bertujuan. Bernilai karena pengetahuan tersebut selalu diproduksi dalam kerangka kebenaran, bertujuan karena harus memiliki manfaat untuk ummah–amar ma’ruf nahi mungkar. Aspek aksiologis tersebut kemudian menurunkan sikap etis santri itu sendiri, yakni kepatuhan kepada kyai, representasi dari kyai, atau bahkan peleburan diri kyai pada santri. Dapat disarikan lagi, santri merupakan bentuk dari sami’na wa atho’na untuk segala ilmu yang bermanfaat, sepanjang hayat.

“Resolusi Jihad Santri” belum lah usai. Apabila di era revolusi 1945 resolusi tersebut dihadapkan kepada upaya kolonialisme kembali di atas bumi Indonesia, maka di era kontemporer resolusi tersebut seharusnya dapat dikumandangkan kembali sebagai bentuk perlawanan kepada keterlenaan masyarakat pada pengetahuan semu media, atau penindasan pengetahuan yang dilakukan oleh aristokrasi pendidikan. Santri adalah agen pendidikan yang membebaskan.

Eksistensi filsafati santri tersebut seharusnya mampu menjadi suluh-pelita bagi kegusaran postmodernisme. Santri tidak akan tersingkir oleh retorika post-truth atas gemerlapnya bahasa milenial, atau rayuan kepentingan politis. Kepatuhan terhadap pengetahuan sejati secara sederhana akan senantiasa diejawantahkan dalam sikap tabbayun. Sudah saatnya, santri berjihad kembali atas nama budaya literasi.

Selamat Hari Santri Nasional

Check Also

Kepengurusan OSIS dan MPK MAN Mempawah Resmi Dilantik

MEMPAWAH – NU Khatulistiwa, Beberapa siswa/i Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mempawah yang tergabung dalam kepengurusan …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com