Home / Opini / Tanda Orang Beriman, Percaya MK!

Tanda Orang Beriman, Percaya MK!

Oleh: M Hasani Mubarok

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 baru usai dan berujung pada gugatan pasangan 02 ke Mahkamah Konstitusi. Ini merupakan angin segar bagi rakyat Indonesia karena ditampilkan ke hadapan mereka sebuah skema politik yang tetap pada garis edar konstitusionalnya. Kita –umat Islam- juga baru saja melewati sebuah pekan kemenangan jiwa, setelah 30 hari melaksanakan ibadah puasa Ramadlan yang penuh bahagia. Di negeri ini, hari raya Idul Fitri juga disebut sebagai Hari Kemenangan, pada waktu ini pula, berkembang sebuah tradisi Halal Bihalal. Istilah yang diberikan oleh KH. Wahhab Chasbullah ketika Bung Karno berkehendak untuk melakukan rekonsiliasi nasional setelah terjadi disintegrasi sosial di kalangan para politisi.

Hari Raya juga membawa pesan religiusitas dan spiritualitas yang komplit bagi umat Islam, sebagai komunitas beragama mayoritas di negeri ini. Salah satunya ada revitalisasi keimanan sebagai sisi paling mendasar dari keberagamaan muslim. Dari sisi teologis, Iman dalam Islam sudah final, hal ini tercermin dari perdebatan panjang para mutakallimin hingga menghasilkan konstruksi teologis yang kokoh di tengah akidah umat Islam, betapapun banyak ragamnya. Keimanan dari sudut ini merupakan bentuk “pembenaran” dengan lisan.

Tak cukup menampung iman dalam serangkain konsepsi dan argumentasi teologis, aspek lain keimanan adalah akarnya yang menghunjam kuat dalam hati seorang. Apa yang diperdebatkan secara alot oleh para teolog ratusan tahun yang lalu sampai hari ini mengenai keimanan, sebenarnya hanyalah bagian luar dari konstruksi keimanan itu sendiri. Intisarinya adalah apa yang selama ini dikenal dengan “penghayatan dengan hati”. Yang begini, boleh kita kelompokkan sebagai wujud iman dalam ruang spiritualitas.

Tumpahan iman dalam ruang spiritualitas akan merembasi segala macam aktifitas manusia. Di sinilah keimanan seorang akan menemukan bentuk kongkritnya. Aktifitas manusia beriman akan terus disinari oleh sejauhmana keimanan yang berada dalam hatinya beroperasi. Yang mewujud dalam bentuk aktifitas ini kemudian dikenal dengan “pengamalan dalam bentuk rukun-rukun”. Kita bisa mengukur kadar spiritualitas dari keimanan seorang melalui apa yang tampak dalam bentuk aktifitas-aktifitas itu.

Spritualitas keimanan seorang memang terus diuji ketika hendak diturunkan ke dalam berbagai macam perilaku. Hal ini karena perilaku seseorang selalu ditentukan oleh berbagai faktor-faktor eksternal yang menjadi pra-syaratnya. Perilaku rakus (korupsi) misalnya, mesti didahului oleh rasa keinginan seseorang untuk memenuhi birahi kekayaannya. Dan, paling dahulu sekali pasti karena jajahan “kebodohan” yang membelenggu otaknya, sehingga tak mampu membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang sebenarnya cuma keinginan.

Oleh karena beragamnya faktor eksternal yang menjadi pra-syarat bagi terbentuknya sebuah perilaku dari keimanan, maka pola orang beriman juga begitu beragamnya. Ada yang sikapnya sejuk dan damai sampai membawa kebekuan, ada yang panas sampai mengundang lahar kebakaran. Dua sikap ini dominan sekali di Indonesia, terutama karena suasana politik negeri ini tak henti-hentinya menghembuskan angin tak menentu, nasib rakyat jadi tak tentu rudu (tak beraturan).

Revitalisasi keimanan seiring kuatnya angin sosial yang terus berubah-ubah pasca Pemilu 2019 ini tampaknya menemukan signifikansinya dalam konteks masyarakat beriman di Indonesia, khususnya umat Islam. Dalam hal yang lebih spesifik, polarisasi kuat di jantung masyarakat ke dalam dua jenis satwa tak berdosa (cebong dan kampret), serta maraknya gerakan inkonstitusional -yang puncaknya pada 22 Mei lalu sebagai bentuk masih maraknya premanisme dan sikap infantilisme gerakan massa-, merupakan kelanjutan krisis spiritualitas dalam jantung keimanan masyarakat.

Inkonstitusional gerakan serta kuatnya narasi provokatif yang telah memporak-porandakan sendi berbangsa dan beragama kita -hingga sedikit lagi menuju kehancuran- mewujud dalam sikap ketidakdewasaan masyarakat (umat Islam) dalam merespon politik yang memang cepat dan rumit. Sikap infantil ini timbul dengan terjadinya kerusuhan 22 Mei berikut semua turunannya berupa provokasi kotor, hoaks, dan orang-orang yang menyebarkan serta yang mengamininya.

Semua perilaku itu berasal dari beberapa “dalang” utama, dan terutama sekali tentu fanatisme. Isme terakhir ini merupakan sikap primordialisme seseorang yang sejak 14 abad yang lalu sudah dirintis agar punah oleh Rasulullah Saw. Ada banyak hadis yang bisa kita rujuk untuk melihat upaya Rasul guna mengikis “kabilaisme” yang begitu kuat cengkramannya dalam budaya Arab. Salah satunya adalah hadis yang bermakna “tidaklah beriman seorang, sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.

Hal ini karena Rasulullah demikian mengerti betapa bahayanya sikap fanatisme kabilah. Indonesia pasca Pemilu 2019, memang sedikit banyak telah menampilkan karakter fanatisme sebagian pendukung masing-masing kontestan pada Pilpres. Ini mengakibatkan adanya gerakan inkonstitusional oleh koalisi oposisi dengan menyebarkan narasi ketidakpercayaan terhadap beberapa lembaga negara yang bertugas menangani pemilu, mulai dari KPU, Bawaslu sampai pada struktur terbawah dari penyelenggara.

Hingga sampai kasus ini dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi sebagai sengketa, narasi ketidakpercayaan masih saja terdengar riaknya. Sampai ketua MK yang bertindak sebagai Hakim Ketua pada saat ini, meski sudah menampakkan sikap religiusitas yang tinggi dalam sambutannya, tetap saja masih terdengar suara nyinyir yang mengatakan bahwa MK sudah ditunggangi oleh kepentingan politik salah satu paslon, hal inilah yang membuat beberapa elit dalam kubu oposisi kemarin sempat un-trust terhadap netralitas MK sebagai hakim tertinggi.

Dalam relasinya dengan keimanan dalam makna spiritualitasnya, menjadikan MK sebagai pemutus tertinggi dalam perkara krusial seperti Pemilu adalah bagian dari serpihan cahaya keimanan yang merembes dalam perilaku. Hal ini dikarenakan tatkala seseorang mempercayakan urusannya kepada lembaga tertentu, maka secara langsung dia juga mempercayai bahwa lembaga itu merupakan bentuk dari rasionalisasi keadilan yang dikehendaki oleh Tuhan. Karena Dia tak pernah menurunkan keadilan hanya sebagai sebuah nilai yang mengawang, melainkan harus rasional melalui prosedur yang diupayakan semaksimal mungkin bisa menegakkan keadilan bagi seluruh masyarakat, rakyat Indonesia.

Selain itu, mempercayakan MK bekerja sesuai dengan prosedurnya juga bisa menjadi tempat bersemai nilai-nilai kepasrahan, dan bahwa tiada keadilan yang lebih baik dan adil selain pengadilan Tuhan kelak. Para Hakim MK memiliki beban tanggungjawab yang teramat besar di hadapan manusia dan Tuhan, selain pahala yang besar bagi setiap ijtihad mereka, azab yang pedih juga siap menyambut bila mereka mempermainkan amanah Tuhan ini. Tidak ada lembaga yang sempurna di dunia ini, namun keadilan harus ditegakkan, minimal dengan mempercayakan orang-orang berjubah hitam merah itu untuk membacakan keputusan akhirnya.

Dan, sesaat sebelum Idul Fitri kemarin, kita layak berbangga, bahwa kubu oposisi bersedia untuk mengambil jalur konstitusional dengan mengajukan gugatan mereka terhadap hasil pemilu ke MK. Apakah hasilnya, mampukah MK bersikap adil? Kita cukup percayakan kepada lembaga yang berwenang dan telah dipercaya sebagai lembaga wakil Tuhan dalam hal keadilan di muka bumi, Indonesia. Mempercayai Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan masalah pemilu 2019 adalah sebagian dari tanda keimanan seseorang dalam makna paling substansialnya.

Check Also

PKPT IPPNU IAIN Pontianak Gelar Rutinan KARTINI

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) IAIN …

Tinggalkan Balasan