fbpx
Home / Opini / Takbir: Meredam Kesombongan, Mengembalikan Kefitrahan Diri

Takbir: Meredam Kesombongan, Mengembalikan Kefitrahan Diri

Oleh: Dr. Ibrahim, MA

Dosen IAIN Pontianak

Terbenamnya matahari sore di hari terakhir ramadhan menandakan bahwa kita akan memasuki 1 syawal. Pergantian waktu ini begitu terasa dengan bergemanya lantunan takbir, tahlil dan tahmid di berbagai masjid, surau bahkan media tv di rumah-rumah.

Lantunan lapadz takbir yang menghiasi saentaro alam menjadi semakin istimewa dan terasa menjelang pagi hari tanggal 1 syawal. Bagaimana tidak, semua umat Islam di seluruh penjuru dunia, siapapun dia, apapun status sosialnya berkumpul bersama sembari melantunkan lapadz takbir, tahlil dan tahmid.

Dengan penuh kekhusuan kita mengakui bahwa sesungguhnya kita kecil di hadapan zat yang maha besar. Sedikitpun tidak ada alasan untuk kita sombong, angkuh dan merasa besar di hadapan zat yang maha kuasa itu. Kesombongan, keangkugan dan egoisme diri yang mulai diredam melalui serangkaian ibadah ramadhan (dalam hal ini puasa), pada pagi 1 syawal ini diikrarkan kehadapan zat yang maha besar dan maha suci. Karena itu, jiwa-jiwa yg kembali suci (fitrah) dan berhasil mengontrol egoisme diri, hari ini juga mengakui bahwa hanya Allah Swt zat yang maha suci dan patut mendapat kan pujian. Bukan manusia, bukan pula harta benda dan jabatan duniawi yang sementara dan fana ini.

Jika selama ini banyak dari kita yang dibutakan oleh hasrat berkuasa, mengejar harta dan jabatan duniawi sehingga lupa akan hakikat hidup dan mati kita kehadapan Allah Swt.

Hari ini, dengan lantunan takbir, tahmid dan tahlil yang bergema menghiasai relung alam dunia dan hati sanubari umat, seyogyanya menjadikan kita pribadi yang suci, jiwa yang telah berhasil kembali pada kefitrahan diri (iedul fitri) untuk mengakui kebesaran, kemahasucian dan keterpujian Allah SWT. Sebaliknya, jiwa-jiwa yang fitri itu juga akan menyadari bahwa sebagai hamba kita tidak memiliki sedikit pun kekuasaan dan kekuatan di hadapan Allah SWT. Karena itu, tidak layak untuk manusia hidup dengan keangkuhan dan kesombongan.

Lapadz takbir, tahlil dan tahmid yang secara serempak bergema pagi ini semestinya memberi kesadaran dan kontrol diri yang baik, terutama dari segala kesombongan, keangkuhan dan egoisme diri.

Lafadz takbir, tahmid dan tahlil yang dikumandangkan sebagai pengakuan hati dan ketundukan jiwa di hadapan kebesaranNya adalah puncak dari kefitrahan diri kembali (iedul fitri). Sebab, hanya jiwa-jiwa yang kembali suci (fitri) itulah sesungguhnya yang tunduk pada kebesaran Allah SWT, munsucikan zat Nya, dan senantiasa memujiNya. Hanya jiwa-jiwa yang berhasil kembali suci (fitri) itu jualah yang mampu meredam keangkuhan, kesombongan dan egoisme diri di hadapan Allah SWT. Semoga kita berhasil meraih kefitrahan diri yang sesungguhnya. Aamiin.

Selamat Idul Fitri 1440 H. Sintang, 1 Syawal 1440 H/ 5 Juni 2019 M

 

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan