fbpx
Home / Ngaji / Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok

Pengantar

Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah satu topik, yang menarik, yaitu mengenai sikap Rasulullah di depan para keturunan dan keluarganya (ahlul bait). Sebelum itu, kita tahu bahwa umat Islam di Indonesia menurut paparan sejarah telah lama dipengaruhi oleh dakwah-dakwah sufisme yang berkembang pesat di Persia. Hal ini setidaknya mewujud dalam beberapa bentuk tradisi beragama yang hampir tidak ditemukan presedensinya di tempat pertama Islam muncul, yakni Jazirah Arabia atau sekarang dengan United Kingdom of Saudi Arabia. Konsekuensinya, pola penghayatan terhadap Islam serta ekspresinya menjadi ladang “pembid’ahan” oleh agen-agen Wahhabi Internasional yang dilaksanakan dengan TSM (terstruktur, sistematis dan massif).

Di antara tradisi berislam di Indonesia yang kuat diwarnai oleh tasawuf Persia adalah kecintaan terhadap orang-orang yang dianggap keramat dan memiliki kemuliaan dalam agama. Hal ini secara umum juga merujuk kepada orang-orang yang dianggap sebagai ahlul bait Nabi. Urusan memuliakan orang-orang yang memiliki keutamaan dalam hal agama dan keluarga Nabi adalah perintah al-Quran, namun bagaimana ekspresinya, kita tidak temukan di dalam al-Quran, tapi berbentuk pada serangkaian tradisi yang telah lama mendarah daging.

Di Indonesia, secara umum ahlul bait Nabi atau belakangan lebih dikenal dengan panggilan Haba’ib (kumpulan orang-orang yang dicintai dan mencintai) masih begitu dimuliakan posisinya. Hal ini tak terlepas dari budaya berislam yang ada di Nusantara dan telah menguat sejak ratusan tahun lalu. Para Wali Songo yang agung telah menyulam budaya otentik Nusantara dengan balutan Islam dengan begitu rapi, sehingga ajaran-ajaran yang telah ada di  Nusantara berupa penghormatan terhadap kaum Brahmana (orang suci, dekat dengan Tuhan) dikontekstualisasikan dengan anjuran Islam yang juga memposisikan orang-orang beriman dan berilmu dalam derajat yang mulia.

Tak lepas pula, kemuliaan dan kecintaan terhadap ahlul bait Nabi yang sumbernya bisa kita temukan dalam al-Quran, Hadis sampai pandangan para Tabi’in dan ulama-ulama, diperkuat pembumiannya oleh ulama-ulama Nusantara dengan cara dipertautkan dengan tradisi Nusantara yang otentik. Sampai di sini, kita bisa masuk dalam sebuah kesimpulan, bahwa para Haba’ib adalah sebuah entitas yang mulia dan dimuliakan bukan hanya oleh tradisi, tapi juga oleh al-Quran sebagai sebuah sumber hukum dan turunannya.

Latar belakang

akhir-akhir ini, kita menyaksikan peran Haba’ib secara khusus dan ulama secara umum dalam pusaran politik memang cukup diperhitungkan. Sejak pemilihan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 2004, tahun 2016 sampai 2019 adalah momen di mana para Haba’ib mengambil peran signifikan dalam sebuah euforia  politik. Hal inilah yang kemudian mempolarisasi umat Islam khususnya ke dalam dua kelompok.

Di sisi lain, kita menyaksikan semakin semaraknya dakwah-dakwah para Haba’ib ini telah melahirkan sebuah kelompok yang kemudian terjebak dalam sebuah fanatisme buta. Di mana sebagian mereka menganggap bahwa dawuh, intruksi atau fatwa mereka tak bisa dibantah atau dipersalahkan, bahkan sikap seperti apapun yang mereka tampilkan, harus dibela mati-matian. Pertanyaannya, tepatkah sikap mengkultuskan para Haba’ib yang demikian? Apakah karena kemuliaan nasab mereka kita tidak boleh bersikap kritis terhadap pemikirannya?

Bagaimana?

Mari kita lihat pandangan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Minhaj as-Sawi Syarh Ushul Thoriqoh as-Sadah ‘Ali Ba’alawi. Dalam kitab ini, ada satu bab khusus yang berjudul “Mathlab: fi at-Tahdzir min al-Ightiror bi an-Nasab”. Pada intinya, bab ini mu’allif akan menunjukkan bagaimana seharusnya sikap yang dikedepankan oleh para Haba’ib dalam rangka menanggung beban nasab mulia yang mereka bawa.

Mula-mula, beliau mensitir satu hadis dari Shohih Bukhori (4771), berikut kutipannya:

فقال “يا معشر قريش اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيئا, يا بني عبد مناف لا أغني عنكم من الله شيئا, يا عباس عمّ رسول الله, لا أغني عنك من الله شيئا, و يا صفيّة عمّة رسول الله, لا أغني عنك من الله شيئا, يا فاطمة بنت محمّد, سليني من مالي ما شئت, لا أغني عنك من الله شيئا”

“Wahai bangsa Quraisy, belilah segala dari Allah dengan diri kalian sendiri, karena aku tidak bisa berbuat apapun untuk kalian bagi Allah. Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa berbuat apapun untuk kalian bagi Allah. Wahai Abbas, Paman Rasulullah, aku tidak bisa berbuat apapun untukmu bagi Allah. Wahai Sofiyah, bibi Rasulullah, aku tidak bisa berbuat apapun untukmu bagi Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah hartaku sesukamu, tapi aku tidak bisa berbuat apapun untukmu bagi Allah”.

Pada intinya, hadis ini menjelaskan bahwa kekabilan (Quraisy), kekeluargaan (Bani Abdi Manaf), kekerabatan (paman/bibi), serta hubungan orang tua anak (Fathimah binti Muhammad), tidak berguna apapun bagi mereka. Bukan hanya karena mereka memiliki garis keluarga atau kekabilahan dengan Nabi, lantas mereka merasa aman dari segala hal di hadapan Allah. Hal ini karena karena Rasulullah sendiri yang menegaskan bahwa beliau tidak bisa memberikan apapun bagi mereka –baik tebusan atau penyelamatan- di sisi Allah walau pada kabilah, kerabat atau keluarganya sendiri, hal ini karena segala hal di hadapan Allah adalah prerogatif-Nya.

Selanjutnya, dalam kitab ini juga disebutkan, bahwa al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang bergelar Sayyiduna al-Imam Syaikhul Islam bertanya dalam bentuk penegasan: “Bagaiman seseorang bisa tersesat dengan sebuah nasab, yang tidak ada ketakwaan di dalamnya, atau mereka berpegang teguh terhadap nasab itu setelah adanya Sabda Rasul?”. Al-Habib Abdullah al-Haddad menunjuk pada penggalan hadis di atas.

Kesimpulannya, bahwa secara umum masing-masing orang berdikari atas segala perbuatan mereka di hadapan Allah Swt. Tak ada satu pun yang bisa memberikan jaminan di hadapan-Nya atas nama nasab, bahkan yang bernasab kepada Nabi Muhammad Saw sekalipun. Sampai di sini, menurut arah diskusi kita, kemuliaan seorang Habib karena ketersambungan nasab mereka dengan Baginda Nabi, tidak lantas memberikan jaminan akan kebenaran mereka dalam tindak laku dan pemikirannya.

Meski demikian, para Haba’ib tetaplah memiliki kemuliaan tersendiri, meski kemuliaan ini tidak harus berbanding lurus dengan konsep kebenaran yang memiliki strukturnya logikanya sendiri. Di antara keistimewaan dari para ahlul bait adalah pelipatgandaan pahala yang diberikan kepada mereka ketika mengerjakan sebuah perkara kebajikan, serta lipatan siksaan yang diberikan jika mereka mengerjakan keburukan. Dalam kitab ini, al-Habib Abdullah al-Haddad menjadikan surat Al-Ahzab ayat 30 sebagai dalil. Berikut kutipannya:

وقال رضي الله عنه : و في كتاب الله عزّ وجلّ ما يدلّ علي أنّ أهل البيت يتضاعف لهم الثواب علي الحسنات والعقاب علي السيئات. وذالك قوله تعالي (ينساء النبي من يأت منكنّ بفاحشة مبيّنة يضاعف لها العذاب ضعفين..)

Selanjutnya, beliau menjelaskan, bahwa barangsiapa yang berkata atau menyangka jika seseorang meninggalkan ketaatan atau melakukan kemaksiaatan tidak berimbas kepada dirinya sendiri oleh sebab kemuliaan nasabnya atau karena kesalehan ayahnya, maka hal ini adalah sebuah tindakan pembohongan (mengada-ada) atas nama Allah serta bertolak belakang dengan kesepakatan kaum muslimin. Berikut kutipannya:

ومن قال أو ظنّ أنّ ترك الطاعات و فعل المعاصي لا يضرّ أحدا لشرف نسبه أو صلاح أبائه, فقد افترى على الله الكذب و خالف إجماع المسلمين.

Demikianlah, kemuliaan nasab Nabi Muhammad Saw yang mengalir dalam tubuh para Haba’ib  merupakan sebuah anugerah bagi umat Islam. Mereka para Haba’ib laksana lentera dalam kegelapan malam, sejak Nabi Muhammad Saw wafat, hingga sampai saat ini, mereka dalah tameng-tameng kuat agama, sehingga kemuliaan mereka bukan hanya karena di dalamnya mengalir darah Nabi, tapi karena perjuangan serta akhlak mereka yang begitu tinggi yang ditampilkan. Meskipun demikian, janganlah sampai manusia salah menangkapnya, para Haba’ib bukanlah manusia ma’shum (terlindung dari dosa), yang mana pemuliaan atas mereka tak lantas menutup akal dan pikiran kita untuk bersikap kritis dan pandai memilah-milah, menerobos semak belukar pemikiran serta ijtihad mereka, di tengah kawin silang antara politik dan agama. Di sinilah letak kecintaan dan pemuliaan kita yang sebenarnya bertahta.

 

 

 

Check Also

Organisasi Pelajar di Kalbar Gelar DIalog Bangkitkan Semangat Literasi

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Organisasi Poros Pelajar mengadakan dialog yang bertema “Merajut Semangat Literasi dalam …

Tinggalkan Balasan