fbpx
Home / Opini / Membumikan Islam yang Melangit Melalui Momentum Idul Fitri

Membumikan Islam yang Melangit Melalui Momentum Idul Fitri

Oleh: Ach. Tijani,

Imam Masjid Al-Istiqomah Pal IX Kab. Kubu Raya Kalbar.

Idul Fitri bagi umat Islam Indonesia adalah momen perayaan tahunan yang tidak pernah mengenal jenuh. Hiruk pikuknya sangat kental, khas dan bahkan saya menduga tidak ada duanya di dunia ini. Kita semua harus bangga menjadi bagian yang ada di dalamnya.

Kegembiraan tersebut terekspresikan sangat membumi sekaligus melangit. Membumi dalam arti sangat manusiawi dan Indonesiawi. Idul Fitri telah turut menjadikan umat Islam Indonesia mencintai tanah airnya sepenuh jiwa. Betapapun seseorang jauh merantau, saat Idul Fitri tiba akan mudik juga ke kampung halamannya.

Fenomena mudik dengan seabrek perjuangannya, mulai dari nyebrang lautan, melintasi gunung, turun di lembah hingga terbang di angkasa adalah ekspresi keagamaan yang sangat membumi. Betapa kebahagiaan selepas penat puasa Ramadhan itu harus dibayar mahal tanpa peduli hitungan nominal dan tenaga yang harus ditanggung. Barangkali jika dikalkulasi berdasar asas dagang (untung-rugi) akan banyak kerugian dibandingkan keuntungannya.

Namun sebagian besar umat Islam Indonesia mempunyai pertimbangan yang lebih arif daripada sekedar pertimbangan finansial tersebut. Barangkali kalkulasi kebahagiaan memang tidak terdapat konversi kuantifikasinya kecuali kebahagiaan itu sendiri.

Saya berasumsi, kekuatan semangat berhari raya Idul Fitri tersebut adalah dorongan Ilahiyah, sebagaimana Rasulullah pernah menyatakan, bahwa ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa Tuhannya (farhatani lil shoimi farhatun ‘inda iftorihi wa farhatun ‘inda liqai rabbihi). Kebahagiaan pertama adalah kebahagiaan duniawi, seperti menyiapkan makanan, pakaian hingga merayakannya bersama keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Kemudian kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan dunia akhirat.

Hadits Nabi di atas dan hubungannya dengan fenomena perayaan Idul Fitri bukan sekedar basa-basi. Terdapat makna yang sangat humanis, dimana Islam menempatkan sumringah kemanusiaan sederajat dengan kebahagiaan perjumpaan dengan Allah. Islam tidak pernah mengutuk pesta selama itu juga menjadikan kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah.

Budaya mudik, belanja pakaian, jejeran menu kue dan makanan adalah bentuk kebahagiaan yang legal dalam pandangan Islam. Bahkan jika harus dipertimbangkan dengan balasan yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW saat Idul Fitri, maka harga pesta itu belumlah seberapa.

Diceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Nabi Muhammad SAW bersabda: umatku diberi lima keutamaan di Bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat Nabi sebelum aku. Diantaranya yang kelima adalah, mereka diampuni dosanya oleh Allah di malam terlahir Ramadhan. Lalu ada salah seorang bertanya, apakah malam itu Lailatul Qadar?. Nabi menjawab, bukan. Itu adalah balasan bagi mereka yang berpuasa, sebagaimana seorang pekerja yang menerima upahnya setelah pekerjaannya selesai.

Hadits di atas juga turut menjadi dasar, kenapa kemudian kita sangat layak berbahagia saat Idul Fitri. Bagi orang yang beriman tidak ada kebahagiaan yang harus dirayakan, kecuali diampunkannya dosa oleh Allah SWT. Walau tidak semua orang mengetahui alasan-alasan perayaan kebahagiaan tersebut, tapi turut bahagia itu sudah lebih dari cukup.

Disini pula saya merasa takjub, betapa ulama dan orang-orang tua kita dahulu berhasil membumikan Islam tanpa menyulitkan kita, sehingga kita yang saat ini yang mudik dan sibuk menyiapkan lebaran tanpa terasa rupanya juga sedang beribadah. Indahnya Islam, Idul Fitri ini menjadi salah satu contoh Islam yang membumi sekaligus melangit. Pestanya untuk manusia, puasanya untuk Allah SWT.

Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, jaalanallahu wa iyyakum minal faizin wal maqbulin.

 

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan