Home / Uncategorized / Idul Fitri; Semangat Kembali dan Menjaga Fitrah

Idul Fitri; Semangat Kembali dan Menjaga Fitrah

Oleh: Ach Tijani,

Imam Masjid Al-Istiqomah Pal IX Kubu Raya Kalbar.

Idul Fitri terdiri dari dua kata, yaitu “ied” dan “fitri/fitrah”. ‘Ied secara bahasa adalah kembali, sedangkan fitri adalah kesucian. Dalam penggunaannya kata “ied” menunjuk pada suatu hari yang di dalamnya terdapat peringatan mengenai sejumlah keutamaan, bisa dalam hitungan mingguan, bulanan maupun tahunan. Sedangkan fitri erat hubungannya dengan akhir Ramadhan yang disebut dengan yaumul fitri, dimana mereka yang telah berpuasa akan kembali pada kesuciannya. Sehingga dengan demikian, Idul Fitri dapat diartikan sebagai Hari Raya dan momentum tahunan untuk merayakan kesucian yang diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya setelah mereka menjalankan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Sejatinya banyak sudut pandang lain untuk memaknai Idul Fitri, baik dari sisi kebahasaan maupun secara terminologis. Hal tersebut karena keluasan dan kedalaman setiap kata dalam bahasa Arab dan keterkaitan Idul Fitri itu sendiri dengan ibadah puasa dan berbagai konteks lainnya. Untuk itu, mengulas momentum Idul Fitri tidak pernah mengenal jenuh walau tiap tahun selalu dibahas dan dibaca ulang.

Idul Fitri selain bermakna perayaan juga dapat dimaknai permulaan dari upaya penyempurnaan dan kelanjutan dari ibadah puasa. Dengan maksud yang lebih sederhana perayaan dan penyempurnaan itu harus dapat terintegrasi dengan baik dan adil.

Gempita kebahagiaan yang terkemas dengan pesta tidak boleh menutup sama sekali peluang untuk melanjutkan kesalehan yang telah dibangun selama bulan suci Ramdhan. Takbir, tahmid, tasbih dan tahlil sebagai pemula pesta kebahagiaan harus menjadi dasar yang tidak boleh tergantikan.

Apapun bentuk kemasannya, ketupat, lemper, pempek, opor, sate hanya pelengkap, bukan sebagai inti. Uang, pakaian, kendaraan, jabatan, rumah dan seterusnya adalah hiasan, yang lebih penting dari itu adalah “diri” yang dihias.

Karena itu permulaan pesta hari raya dengan takbir itu harus betul-betul merasuk pada diri menentukan yang benar-benat besar dan berharga yaitu Allah SWT. Sementara yang pelengkap dan hiasan adalah kecil dan hina.

Sungguh tidak ada yang pantas dipuji selain dari kebesaran dan kesucian Allah. Harta ada nominalnya, jabatan ada masanya, kesalehan ada nodanya dan segala hal ada batasnya. Sungguh tidak ada yang layak untuk dibesar-besarkan dan diagung-sucikan dari apa yang kita miliki. Semua kecil, hina dan terbatas.

Jika di hari yang fitri tersebut kita bergembira, hal itu bukan karena hal-hal yang terbatas tadi, tapi karena kita disampaikan kembali kepada fitrah (kesucian) kita, yaitu fitrah ketauhidan dan keislaman. Fitrah ketauhidan adalah pengakuan kebertuhanan terhadap Allah yang Esa. Fitrah Keislaman adalah ikhlas menyembah ikhlas kepada Allah dalam koridor syariatnya (mukhlishina lahuddin).

Pesta Idul Fitri jangan dijadikan puncak, tapi justru sebenarnya adalah awal. Awal untuk mengisi dan menjaga fitrah selama sebelas bulan ke depan. Maka jangan tenggelam dalam pesta, tapi sadarlah bahwa berikutnya kita akan dituntut menyempurnakan kesalehan puasa dalam bingkai tantangan sebelas bulan ke depan hingga dan semoga Allah  memperjumpakan kita dengan Ramadhan di tahun yang akan datang. Intahaina min shiyamil aqshar ila shiyamil athwal (baru saja kita menyelesaikan puasa yang pendek menuju puasa yang panjang). Selamat ber-Idul Fitri.

 

Check Also

Ngaji Pancasila : Pancasila Sebagai Landasan Pemersatu Bangsa

Pontianak – NU Khatulistiwa. Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat gelar kegiatan “Ngaji Pancasila” …

Tinggalkan Balasan