fbpx
Home / Opini / Belajar dari Nastar dan Toples Dalam Memaknai Substansi Lebaran Kita

Belajar dari Nastar dan Toples Dalam Memaknai Substansi Lebaran Kita

Oleh : Ach Tijani

Penikmat Jajanan Lebaran NUsantara

Lebaran belum usai. Nastar wa akhwatuhu masih berjejer rapi di dalam toples dengan berbagai macam bentuknya. Dari bentuk toples berwajah lokal, plastik, kaca hingga kaleng bermerk jajanan populer yang biasa berderet rapi di etalase pertokoan turut mewarnai kemasan jajanan lebaran. Namun jangan heran, jika kemudian yang kita jumpai dibalik toples-toples bermerek itu adalah rengginang dan krupuk asli buatan lokal.

Itulah lebaran, serba serbinya kini tidak hanya hadir dalam ruang bincang keluarga dan sahabat. Labirin sosial media turut mengguncang euforia itu menemui puncaknya. Berasa gak berlebaran kalau belum mengunggah foto atau video abis sholat idul fitri, kostum baru keluarga, jejeran makanan hingga pelesir ke gunung, pantai dan tempat hiburan lainnya.

Islam hadir di negeri ini menjadi sangat hangat dan manusiawi. Lentur meliuk mengikuti irama zaman, melebur dalam keseharian tanpa menyisihkan kesucian. Ungkapan maaf-maafan dengan narasi sederhana namun sarat makna berbenturan saling mendahului antar satu dengan yang lain.

“Mohon maaf lahir dan batin” diungkapkan saling bergantian dan saling mendahului. Mewakili pengakuan kerendahan diri dengan merasa ada salah walau mungkin tidak bersalah. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan nyata, dimana kita malah lebih sering mengaku paling benar dibandingkan merasa bersalah.

Sisi maaf-maafan ini adalah bagian sakral dari lebaran berbalut pesta dan angpao penggembira anak-anak. Bermaafan dalam momentum lebaran bukan sekedar sisipan, tapi adalah inti. Bermaafan tidak sekedar persoalan tangan yang memukul, lisan yang menghardik, tapi juga hati yang ternoda.

Kita yang datang belakangan barangkali boleh bertanya, tapi sangat tidak etis untuk mempersoalkan walau dengan tameng dalil fiqih sekalipun. Karena bermaafan yang menyertakan aspek lahiriah dan batiniah itu bukan aspek fiqhiyah. Sungguh suatu perdebatan yang sia-sia jika berlebaran tapi bersikukuh dengan menu fiqhiyah.

Dalam nastar itu lebih diminan aspek rasa, walau secara sosial bermakna penghormatan bagi tamu yang berdatangan. Sungguhpun disajikan begitu saja sudah lebih dari cukup, tapi emak-emak bisa lebih dari seharian mencarikan toples yang cocok untuk kemasan nastar. Toples tak pernah merubah rasa natsar, yang original tetapi lebih renyah, walau yang cokelat tentu lebih legit. Jadi, kita mau menikmati nastarnya atau mempertanyakan toplesnya?.

Semoga kita tetap kembali ke fitrah.

 

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan