fbpx
Home / Ngaji / Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Oleh: M Hasani Mubarok*

إهدنا الصّراط المستقيم

Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas

Ayat yang lalu (ayat 5) menjelaskan tentang tugas dan kewajiban manusia di muka bumi ini untuk beribadah dan dalam memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Hal ini sesuai arahan yang ke-4 yang menegaskan bahwa seluruh aktifitas manusia akan dipertanggungjawabkan kelak pada hari pembalasan. Menghambakan diri kepada Allah serta tidak menjadikan sekutu sebagai tempat meminta pertolongan kepada selain-Nya merupakan tugas utama manusia.

Meski demikian, dalam melaksanakan tugas untuk sebagai hamba Allah di bumi, manusia akan terus mengalami perputaran kehidupan yang begitu dinamis, apa yang menjadi tugasnya terkadang harus terlupakan manakala menyaksikan warna-warni kehidupan duniawi yang kerap menipu mata. Sampai di sini, tak sedikit manusia yang kemudian banyak gagal dalam merealisasikan cita-cita kehidupan yang sebenarnya, alias melenceng.

Maka dari itu, Allah sekali lagi mendidik manusia melalui firman-Nya agar menirukan hal itu, yakni sebuah doa “bimbing dan hantarkanlah kami, yang menjalani kehidupan di dunia dan sering melalaikan tugas yang sebenarnya, untuk memasuki jalan lebar dan luas, yang mana bisa menampung seluruh aktifitas kami yang beragam, sehingga ketidaksempurnaan penghambaan kami bisa masuk di dalamnya berkat kasih sayang-Mu”.

Selain itu, ayat ini juga menampilkan esensi paling penting dari apa yang harus senantiasa dipinta oleh manusia, substansi agama, inti dari apa yang dituju oleh syariat, serta menjadi sebuah argumen paling mendalam dari tujuan seorang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Ayat ini juga menjadi tanda bagi seluruh alam, bahwa tujuan dari agama Islam (yang artinya menyerahkan diri) yang sebenarnya adalah membimbing manusia kepada hidayah yang lurus. Dari sinilah lahir hakikat, ukuran-ukuran sepanjang pengalaman manusia untuk mencapainya. Demikian menurut Syekh Ali Jumu’ah dalam An-Nibras.

Kata إهدنا terambil dari kata akar kata yang terdiri dari huruf-huruf  ha’, dal, dan ya’, maknanya berkisar pada dua hal. Pertama, tampil ke depan memberi petunjuk, dan kedua, menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini lahir kata “hadiah” yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati. Demikian menurut analisa Prof. Quraish Shihab.

Kata إهدنا di sini menggunakan bentuk perintah, hal ini berarti menunjukkan makna meminta sesuatu. Karena tidak mungkin Allah meminta akan sesuatu kepada sesuatu di luar-Nya, maka ayat ini mengajarkan suatu ucapan yang hendaknya ditiru oleh hamba-hamba-Nya sebagaimana ayat sebelumnya (ayat 5).

Di ayat ini, kita menangkap pesan pendidikan yang begitu kuat, salah satunya adalah pendidikan berbasis pada pemberian contoh praktis yang dilandasi kasih sayang. Bagaimana seorang guru TK mengajarkan kepada anak-anak didiknya dengan penuh dengan nuansa praktis, sampai bagaimana seharusnya seorang anak berucap, juga diajarkan dengan bahasa yang dibuat oleh guru itu sendiri, dengan harapan si anak didik bisa menirunya.

Kata الصراط terambil dari kata سرط, dan karena huruf sin dalam kata ini bergandengan dengan dengan huruf ra’, huruf sin boleh dilalafalkan dengan bunyi shod, maka menjadi صراط, atau boleh juga diganti dengan huruf zai, maka menjadi زراط. Asal katanya sendiri bermakna menelan. Diartikan dengan jalan yang lebar, karena jalan ini seolah menelan orang yang berjalan di atasnya.

Ada dua kata minimal yang digunakan oleh al-Quran untuk mengungkapkan makna jalan. Terkadang al-Quran menggunakan kata shiroth, terkadang pula menggunakan kata sabil (سبيل). Hanya saja, menurut pengamatan Prof. Quraish Shihab, kata yang pertama selalu bermakna jalan yang baik, sedangkan yang kedua bisa bermakna jalan yang baik maupun jalan yang buruk. Begitu juga, kata siroth bisa bermakna jalan yang luas, sedangkan sabil adalah jalan-jalan yang kecil.

Semua orang bisa berada pada sabil-nya sendiri-sendiri, mengupayakan diri untuk menjadi hamba Allah yang baik sesuai dengan kadar kemampuan serta bentuk yang dia inginkan. Namun, dia juga harus memastikan, bahwa sabil yang dilalui, harus menuju kepada shiroth sehingga tidak tersesat dan tetap berada dalam rel.

Di jalanan yang sempit, boleh jadi seseorang harus berdesak-desakan, tersenggol bahkan mungkin saling mencelakakan. Semua ini dilalui oleh setiap orang yang ingin mengabdi kepada Allah. Apakah sabil-sabil yang dilalui oleh orang itu akan menuju masuk ke shiroth sebagai jalan yang luas lagi lebar? Hal ini tidak ada yang tahu kecuali Allah, manusia yang hanya diberi perintah agar selalu berdoa “agar semua langkah-langkahnya dalam sabil, pada akhirnya akan mengantarkan dia dan terus berada pada shiroth al-Mustaqim”.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

*Penulis adalah Staf Pengajar di Ponpes Baitul Mubarok, Parit Serong, Kota Baru

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan