fbpx
Home / Ngaji / Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 4)

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 4)

sumber: inilah.com

Oleh: M Hasani Mubarok

مالك يوم الدّين

Pemilik hari pembalasan

Menurut Thahir bin Asyur, penempatan ayat ini setelah penyebutan tiga sifat Allah (Arrahman, Arrahim dan Robbil alamini) dalam beberapa ayat sebelumnya, bukanlah sekadar untuk mengurutkan sifat-sifat Allah, melainkan sifat yang disebutkan terakhir (Pemilik Hari kemudian) ini merupakan konsekuensi dari tiga sifat sebelumnya. Berikut paparan lengkap dari Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir;

Pada ayat yang lalu, Allah disifati sebagai Robbil alamin dan Arrohmani Arrohim, hal ini menunjukkan tentang kesempurnaan kasih sayang Allah terhadap apa yang dipelihara-Nya berupa seluruh alam. Kemudian, dijelaskan bahwa perlakuan Allah terhadap segala yang ada itu atas dasar kasih sayang. Dan bagian dari pada pemeliharaan dengan kasih sayang itu adalah adanya perintah dan larangan yang tercakup dalam syariat. Syariat itu itu sendiri berisi nilai-nilai yang ditujukan bagi kemaslahatan manusia secara umum maupun khusus.

Dan adapun inti dari pada syariat itu adalah upaya untuk mengeluarkan orang mukallaf dari ajakan hawa nafsu, hal ini memang sangat berat karena syariat kerap kali tidak sejalan dengan hawa nafsu, bahkan untuk sangat berat untuk diikuti.

Oleh karena adanya kekhawatiran oleh sebagian orang-orang mukallaf dalam memahami tiga sifat pertama yang disebutkan pada ayat kedua dan ketiga, yang mana ketiga sifat itu sama-sama menunjukkan kasih sayang Allah dalam memelihara mereka, sehingga tak kala mereka menerima perintah-perintah syariat yang harus dijalankan demi kebaikan mereka sendiri, patut dikhawatirkan sebagian dari mereka akan mengandalkan kasih dan maaf dari Allah, untuk tidak mengindahkan peraturan-peraturan yang termuat di dalam syariat itu dan memilih untuk tunduk pada hawa nafsunya.

Maka, oleh karena alasan itu, maka pada ayat keempat ini segera ditegaskan, meskipun Allah itu Maha kasih dalam memelihara semua kehidupan di alam raya ini, namun, Dia pula yang akan memberikan balasan bagi mereka yang tidak mensyukuri anugerah kehidupan yang diberikan secara cuma-cuma itu. Maka, kemudian Allah berfirman dengan tegas, bahwa Dia-lah “Pemilik hari pembalasan” yang semua amal perbuatan manusia selama di dunia akan ditimbang dan dihitung untuk kemudian diberikan ganjaran yang setimpal.

Menurut Sayyid Quthb, ayat ini menggambarkan tentang prinsip paling mendasar dari kehidupan manusia secara keseluruhan, yakni prinsip kepercayaan kepada hari akhirat. Dalam hal ini, Allah sebagai Pemilik hari itu benar-benar nyata kekuasaannya di depan semua manusia.

Kata ad-din (الدين), bahkan semua kata yang terdiri dari huruf-huruf sama walaupun dengan bunyi dan harakat berbeda seperti (الدين) din/agama, atau (الدَين) dain/ hutang, atau (دان – يدين) dana-yadinu/ menghukum, kesemuanya menggambarkan hubungan dua pihak di mana pihak pertama mempunyai kedudukan yang lebih tunggu dibanding dengan pihak kedua. Perhatikanlah hubungan antara si peminjam dan pemberi pinjaman, antara yang dihukum dan yang menghukum, dan antara manusia yang beragama serta Tuhan yang menurunkan agama.

Yang dimaksud “yaumiddin” dalam ayat ini adalah “hari pembalasan”. Pada dasarnya, banyak manusia yang mengakui tentang hari di mana mereka diciptkan dari ketiadaan oleh Tuhan. Namun mengenai hari pembalasan yang termasuk pokok keimanan yang gaib ini, banyak manusia yang kemudian mencoba untuk menentangnya dan menganggap hal itu tiada. Hal ini seperti tergambar dalam ayat “Jika kamu bertanya kepada mereka; siapa yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab bahwa yang menciptakannya adalah Allah”.

Berbagai macam penentangan tentang kepastian hari pembalasan ini sejak al-Quran diturunkan sudah dilancarkan oleh kafir Quraisy. Hal ini yang menyebabkan al-Quran memberikan porsi ayat yang melimpah guna menghancurkan penentangan yang mereka lakukan dengan berbagai macam argumen.

Mengapa begitu penting pembahasan tentang kepercayaan akan hari pembalasan ini, Sehingga ia harus ditegaskan sejak surat pertama dalam al-Quran, dan tak kurang-kurang pada surat-surat berikutnya al-Quran menyajikannya dengan lebih detail dan mendalam. Hal ini karena hari pembalasan merupakan salah satu dari kaidah dan akidah keimanan Islam yang berhubungan langsung dengan pandangan manusia serta hati mereka akan kehidupan setelah kehidupan mereka di dunia ini. Jika kepercayaan kepada hari pembalasan menancap kuat di hati orang mukmin, maka mereka akan mampu mengendalikan kehidupan mereka di dunia ini.

Pada intinya, posisi kepercayaan kepada hari pembalasan ini menjadi begitu urgen karena seperti menjadi fondasi dari pertanyaan besar mereka “mengapa mereka diciptakan oleh Allah di dunia ini?”. Hal ini dijawab oleh Allah dalam salah satu firman-Nya “Tidak Ku-ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”. Dengan memahami alasan akan penciptaan mereka itu maka manusia akan menggunakan semua kesempatan hidup yang mereka peroleh untuk terus berada pada jalur kehambaannya kepada Allah. Dan ini secara lurus akan berakibat pada seluruh aktifitas duniawi yang dia kerjakan, semuanya akan dia dedikasikan kepada Sang Pencipta tempat dia akan kembali dan menerima balasan-Nya.

Seluruh perintah dan larangan yang termuat dalam syariat yang Allah turunkan melalui al-Quran, lisan para Nabi serta ajaran luhur para ulama sebagai pewaris Nabi, semuanya semata-mata untuk memberikan secara logis akan diterima dan ditaati oleh seseorang jika dia mengetahui kenapa hal itu perlu mereka laksanakan. Penegasan tengan sifat keempat Allah yakni sebagai “Pemilik hari pembalasan” adalah jawaban sekaligus penegasan dari kandungan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara mengenai asal-muasal manusia yang bermula dari keagungan rahmat Allah, serta pemeliharaan-Nya yang penuh kasih selama mereka berada di dunia. Jika keberadaan mereka yang mula-mula tiada menjadi ada, kemudian pemeliharaan Allah yang mereka rasakan sejauh ini adalah dari Allah, maka secara logis pula hal ini akan kembali lagi kepada-Nya, untuk dimintai pertanggungjawaban serta diberikan balasan oleh sang Pemilik hari pembalasan.

Wallahu a’lam bisshowab.

Check Also

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Oleh: M Hasani Mubarok* إهدنا الصّراط المستقيم Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas …

Tinggalkan Balasan