Home / Ngaji / Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 1)

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 1)

sumber: inilah.com

Oleh: M Hasani Mubarok*

بسم الله الرّحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Rahman lagi Rahim

Sayyid Quthb membuka penafsiran ayat ini dengan terlebih dahulu menjelaskan, bahwa membuka ayat al-Quran dengan basmalah merupakan sebuah adab dan bimbingan pertama yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw: iqra’ bismi rabbika.

Hal ini sesuai dengan kaidah utama ajaran Islam yang menyatakan bahwa Allah adalah al-Awwal wa al-Akhir wa adz-Dzahir wa al-Bathin. Dia-lah yang pertama dan terakhir, Dia-lah yang Maha tampak segala keagungan-Nya, serta Maha tersembunyi dari siapapun hakikat-Nya. Dia -yang Maha Suci- merupakan wujud yang haq. Dari-Nya lah segala yang wujud memperoleh wujud, serta segala seuatu yang bermula memperoleh permulaan. Maka dengan nama-Nya segala sesuatu dimulai, dan dengan nama-Nya telaksana setiap gerakan.

Huruf Ba’ pada basmalah

Beredar sebuah pemahaman yang –menurut sebagian pakar- diajukan oleh an-Nasafi dalam tafsirnya, Asy-Syarbini dalam al-Iqna’ ketika menjelaskan tentang faidah surat al-Fatihah mengutip sebagai berikut;

“Kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah dari langit ke dunia ada 104, suhuf yang diberikan kepada Syits sebanyak 60, suhuf Ibrahim sebanyak 30, suhuf Nabi Musa -sebelum diberi Taurat- sebanyak 10, kemudian Taurat, Zabur dan Injil sampai al-Quran. Dan makna setiap kitab-kitab itu terhimpun dalam al-Quran, makna-makna al-Quran terkumpul dalam surat al-Fatihah, makna al-Fatihah kemudian terhimpun di dalam basmalah, dan makna basmalah terkumpul di dalam huruf ba’-nya”- dan sebagian ulama menambahkan bahwa makna dari ba’ itu terkumpul pada titiknya (nuqthoh).”

Hamka dalam tafsir al-Azhar memberikan catatan kritis terhadap pandangan ini, baginya, bagaimana mungkin makna dari kesemua ayat al-Quran bisa direduksi ke dalam satu titik huruf ba’, sedangkan nuqthoh baru saja dipasang jauh setelah al-Quran turun oleh Nashr bin Ashim dan Yahya bin Ya’mur atas kebijakan Hajjaj bin Yusuf, kemudian disempurnakan oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi.

Demikian pula, pakar tafsir kontemporer Prof. M. Quraish Shihab enggan untuk membenarkan pandangan ini, meski kemudian dia mendiskusikan tentang muatan makna huruf ba’ yang dibaca bi dengan uraian yang agak panjang dalam tafsir al-Mishbah demi penyempurnaan penghayatan bagi seorang pembaca. Dan mayoritas tafsir-tafsir kontemporer enggan untuk mendiskusikan pandangan ini, alih-alih membenarkannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh lemahnya signifikansi yang bisa diajukan dalam pandangan itu, selain juga disebabkan oleh corak esoterisme (isyari) yang terlalu kental, sehingga muatan suatu ayat kerap kali terhalangi oleh nalar intuisi yang terlalu dominan.

Namun, ini tidak berarti bahwa huruf ba’ yang menjadi huruf pertama dalam al-Quran itu tidak memiliki makna. Para mufassir secara serius telah mendiskusikan huruf ini dari sisi gramatikal sampai kandungan filosofis yang dikesankan olehnya. Dalam bahasa Indonesia, huruf ba’ (yang dibaca bi) diterjemahkan dengan kata “dengan”. Menyemadankan makna bi dengan kata “dengan” berarti menjadikan huruf ba’ (huruf jer) tersebut bermakna mushohabah (bersamaan).

Hal ini meniscayakan seseorang ketika melafalkan lafadz bi, harus mampu menghadirkan seuatu yang terkandung secara intrinsik di dalam huruf itu, yakni makna mushohabah (bersamaan) itu. Maka, kemudian Wahbah Azzuhaili dalam tafsir al-Munir menegaskan, bahwa ketika seorang membaca basmalah, seolah dia sedang membatinkan sebuah makna “aku memulai (bersamaan) dengan nama Allah, mengingat-Nya dan mensucikan-Nya sebelum segala seuatu. Meminta tolong dalam setiap urusanku, karena Dia adalah Tuhan yang disembah dengan Haq, luas rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, pemberi nikmat yang umum dan khusus, Yang memberi segala anugerah, rahmat dan kebaikan.”

Jadi, huruf ba’ pada lafadz bismillah itu memiliki makna intrinsik yang berupa doa bagi seseorang ketika hendak melaksanakan sebuah pekerjaan. Selain itu, juga bisa dimaknai dengan perintah, meski tak berbentuk kalimat perintah, yang menyatakan “mulailah pekerjaanmu dengan Nama Allah!”. Menurut M. Quraish Shihab, keduanya (doa dan perintah), sama-sama memiliki semangat yang sama, yaitu menjadikan (nama) Allah sebagai pangkalan tempat bertolak bagi setiap aktifitas.

Arrohman arrohim

Dua kata ini adalah kata sifat dari lafadz Allah. Menurut al-Jauhari; dua kalimat isim ini sama-sama terbentuk dari akar kata rohmah (رحمة). Lafadz rohmah sendiri – menurut al-Hishni al-Manshuri- bermakna “kelembutan dan kelenturan hati”, (رقّة القلب والإنعطاف). Hanya saja, menurut sebagian pakar, lafadz arrohman bermakna mubalaghah (dominasi), sehingga kata ini hanya khusus dinisbatkan kepada Allah semata. Hal ini berbeda dengan lafadz arrohim.

Sedangkan menurut Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, baik kata rohman maupun rohim sama-sama berasal dari kata rohm yang berarti tempat janin. Di tempat ini seorang bayi memperoleh anugerah berupa makanan dengan tidak mengupayakan apapun. Kata ini menunjukkan, bahwa makna “kasih sayang” yang terkandung dalam kata rohm (rahim) adalah semendalam cinta seorang ibu kepada buah hatinya.

Sebagian dari mufassir berpandangan bahwa dua kata ini memiliki makna yang sama yakni “kasih sayang”. Hanya saja kata arrohim berfungsi untuk menguatkan kata yang pertama, yakni arrohman. Menurut pandangan ini- sebagaimana dikutip dengan jelas oleh al-Qasimi- berargumen, bahwa boleh untuk mengulang kalimat yang sama, jika bentuk keduanya berbeda, karena hal ini bisa bermakna taukid, atau menguatkan bagi kalimat yang pertama.

Namun, pandangan di atas kemudian dibantah oleh Muhammad Abduh. Menurutnya, pandangan di atas yang menyamakan makna arrohman dan arrohim, merupakan sebuah kelalaian dalam pemahaman. Dia bahkan sangat keras dalam melarang jika ada seorang muslim yang beranggapan bahwa dalam al-Quran ada satu kalimat yang hanya berfungsi sebagai penguat belaka dan tak memiliki makna sendiri.

Dan menurut mayoritas ulama sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qasimi, makna kata arrohman adalah Pemberi nikmat secara umum (المنعم بجلائل النعم). Sedangkan kata arrohim bermakna Pemberi nikmat secara khusus (المنعم بدقائقها). Dan sebagian yang lain berpendapat, bahwa kata arrohman bermakna pemberian nikmat kepada semua makhluk, baik itu kafir atau mukmin. Sedangkan kata arrohim bermakna pemberian nikmat yang khusus diberikan kepada orang-orang mukmin. Makna ini lahir dari sebuah kaidah bahasa Arab “tambahan bentuk kalimat, juga menunjukkan tambahan dalam makna”.

Menurut Asy-Sya’rowi, dua lafadz ini sama-sama menunjukkan makna mubalaghah (dominan) dalam sifat. Yang pertama, Allah Maha Pengasih di dunia (arrohman), dan Maha Pengasih di akhirat (arrohim).

Lafadz arrohman didahulukan dari pada arrohim untuk menunjukkan urutan kasih sayang Allah, dari yang paling besar dan umum, hingga kepada kasih sayang yang khusus dan spesifik diberikan kepada orang-orang tertentu.

Hikmah

Allah memulai al-Quran dengan basmalah, demikian pula surat-surat dalam al-Quran –kecuali surat Al-Taubah. Hal ini untuk menegaskan bahwa semua yang ada di dalam surat tersebut adalah sebuah kebenaran, serta janji yang pasti bagi setiap hamba-Nya, serta Dia sempurnakan segala hal yang terkandung di dalam surat tersebut, baik berupa janji, kelembutan dan kebaikan. Hal ini juga menunjukkan tentang kesunnahan memulai segala pekerjaan dengan basmalah, untuk mencari pertolongan dan petunjuk Allah. Selain itu, juga untuk membedakan dari selain orang mukmin, yang memulai pekerjaan mereka dengan menyebut Tuhan-tuhan mereka juga. Demikian menurut Azzuhaili.

Wallahu a’lam bisshawab

 

*Pengajar di Ponpes Baitul Mubarok, Paret Serong

Check Also

Semarak Harlah ke-90, LP Ma’arif NU Kalbar Gelar Malam Refleksi

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama  merupakan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, …

Tinggalkan Balasan