fbpx
Home / Opini / Pekerjaan dan Hakikat Penciptaan Manusia

Pekerjaan dan Hakikat Penciptaan Manusia

Oleh: Ach Tijani,

Imam Masjid Al-Istiqamah Pal 9 Kab. Kubu Raya Kalbar.

Shubuh Hari ke-24 Ramadhan 1440 H.

Bekerja itu ibadah, bekerja bukan sebagai jaminan bagi seseorang untuk dapat makan dan minum hingga kemudian dapat melangsungkan kehidupan. Tidak ada satupun pekerjaan manusia yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya, apalagi dapat menjamin kehidupan orang lain.

Profesi hanya suatu peluang untuk menentukan status kita, apakah kita tetap sebagai hamba, fasiq atau bahkan kafir. Disinilah banyak orang terjebak dan mengira bahwa pekerjaanlah yang mendatangkan rejeki. Sehingga begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya.

Ketergantungan tersebut tidak saja menjangkiti bagi mereka yang sudah bekerja, tapi juga berlaku bagi mereka yang belum bekerja. Bagi yang belum bekerja akan memilah dan memilih pekerjaan yang pantas dan selinier dengan strata pendidikan. Mereka mengira bahwa pekerjaan itulah yang dapat menaikkan kehormatan sosial, ekonomi dan kelangsungan hidup. Maka banyak pekerjaan yang disisihkan dan ditolak demi mengejar asumsinya sendiri.

Sementara bagi mereka yang sudah bekerja akan menjadikan pekerjaannya sebagai sumber rejeki (uang) yang kamudian dianggap akan membahagiakan dirinya. Maka tidak heran jika kemudian banyak orang yang tidak puas dengan pekerjaan yang mereka pilih sendiri karena tidak dapat memberiakan segala impiannya. Konsekuensinya akan melahirkan manusia yang penuh dengan keluhan, jika mendapat kesempatan maka dia tidak segan-segan melakukan tindakan korupsi demi kebahagiaan yang di dambakan. Sekali lagi mereka tidak akan pernah sampai pada keinginan-keinginan tersebut.

Jikapun sudah kelihatan matang dan mapan, mereka akan memulai memintal keinginan lainnya, yaitu bekerja untuk masa depan anak-anaknya. Seakan-akan dirinya mampu menjamin kehidupan anak-anaknya. Keangkuhan beserta menguatnya keyakinan pada pekerjaan sebagai sumber rejeki telah menjauhkan dari status dirinya sebagai hamba.

Senyatanya Tuhan tidak pernah meminta manusia menumpuk kekayaan untuk menjamin kehidupannya dan menjamin siapapun. Karena semua makhluknya telah Tuhan jamin kehidupan beserta rejekinya. Cukuplah seluruh manusia hanya beribadah, tanpa harus selalu merasa terbebani dengan kekhawatiran tidak mendapatkan makan dan minum.
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين ) [ الذاريات : 56 – 58 ]

 

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan