fbpx
Home / Opini / Merawat Keindonesiaan Kita

Merawat Keindonesiaan Kita

Oleh: Dr. Ibrahim, MA

Akademisi IAIN Pontianak / Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalbar

Hampir 74 tahun silam sebuah bangsa yang besar dengan mayoritas penduduknya beragama Islam secara resmi lahir dan diakui keberadaannya oleh dunia, itulah Indonesia. Lahirnya Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat tentu saja tidak berlangsung dengan mudah. Ada banyak rintangan dan tantangan yang dihadapi oleh para pejuang bangsa ini, baik internal maupun eksternal. Secara internal bangsa yang terdiri dari masyarakat yang majemuk dan plural. Dari aspek eksternal, bangsa ini lahir dari perjuangan panjang dalam melawan para penjajah. Intinya Indonesia adalah anugerah Tuhan yang paling berharga atas perjuangan semua komponen bangsa ini sebagaimana tertulis dalam diktum pembukaan UUD 1945.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia lahir dari proses kombinasi politik terbaik dari semua latar belakang sosial, budaya, etnik, agama dan wilayah kepulauan. Kondisi sesungguhnya adalah kekuatan dan keistimewaan yang mesti selalu kita rawat sampai kapanpun.
Di usianya yang hampir 74 tahun, ada banyak tantangan yang dihadapi bangsa ini, mulai dari sentimen sosial etnik hingga persoalan politik dengan berbagai upaya merongrong kedaulatan negara (NKRI) dan ideologi pemersatu bangsa (Pancasila). Ironisnya lagi, upaya pelemahan itu sendiri justru datang dari dalam diri sebagian masyarakat Indonesia. Adanya sekelompok orang yang berhendak untuk mengganti sistem pemerintahan Indonesia dengan sistem yang lain, dan menganggap pancasila sebagai dasar negara yang tidak lagi sesuai. Kehendak mengganti Pancasila dengan yang lain sesungguhnya adalah satu bentuk pengkhianatan terhadap sejarah Indonesia itu sendiri.

Sebaliknya, sebagai dasar bernegara, Pancasila sesungguhnya memberikan tuntunan dan arah politik bernegara yang sangat paripurna. Pancasila bagaikan piagam madinah yang dijadikan pedoman oleh Nabi Saw ketika membangun kota madinah. Pancasila (sebagaimana juga piagam madinah) memang bukan ayat al-qur’an atau hadits. Tapi nilai filosofis di dalamnya sangat sejalan dengan anjuran al-qur’an dan hadits. Karena itulah para pendiri negeri ini yang mayoritas muslim sepakat dengan rumusan Pancasila dan menjadikannya sebagai dasar negara, Indonesia.

Artinya, jika semua warga bangsa ini bisa memahami dan mengamalkan pancasila dalam kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara, maka hakikatnya ia juga sudah mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam (sesuai al-qur’an dan hadits). Karena itu, sekali lagi tidak ada alasan untuk menolak Pancasila sebagai dasar negara tercinta ini. Apalagi harus menggantinya dengan ideologi yang lain dengan cara-cara yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan tuntunan agama itu sendiri.

Jika dengan berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila kehidupan masyarakat bangsa ini aman, damai, harmonis dan bersahabat (sebagaimana dalam sejarah panjang bangsa ini), mengapa sebagian kita rela hendak merubahnya dengan cara-cara yang jeji, fitnah, caci maki, pertikaian dan permusuhan, bahkan melakukan teror atas nama “jihad” dan “memperjuangkan politik Islam”.

Akhirnya, mari kita bangun kemaslahatan di negeri ini. Dengan Pancasila kita kita bangun negeri ini menjadi negeri yang aman, damai, harmonis, adil dan makmur (baldatun thayyibautun warabbun ghafuur) dibawa panji negara kesatuan, Republik Indonesia. Kita rawat keindonesiaan kita dengan memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam semua aspek hidup berbangsa dan bernegara. Dengan demikian Insyaa Allah kita juga mampu mewujudkan keindonesiaan dan keislaman kita sekaligus, sebagai bangsa- Indonesia. SELAMAT HARI PANCASILA 1 JUNI 2019).

#Sintang, 31-05-2019/ 26 Ramadhan 1440 H

 

Check Also

Mencintai Haba’ib dengan Cinta

Oleh: M Hasani Mubarok Pengantar Pada tulisan singkat kali ini, penulis sedikit akan mendiskusikan salah …

Tinggalkan Balasan