fbpx
Home / Opini / Italic Response Islam Nusantara

Italic Response Islam Nusantara

Oleh: Ali Akhbar A.R.L
Bidang Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat GP Ansor Kabupaten Sambas

Tidak sedikit pembaca Muslim di Indonesia sulit memaknai arti sejati “Islam Nusantara”, sehingga memandang secara mendadak bahwa “Islam Nusantara” adalah Islam “sempal” (firqah, aliran, mazhab, sekte, dlsb).

Ketika NU mengejewantahkan istilah “Islam Nusantara” sebagai bagian dari semangat identitas dengan pendekatan sosio-kultur-antropologis. Ternyata juga tidak sedikit yang kaget dalam memaknai arti sejati “Islam Nusantara”, sehingga dengan kagetnya menganggap bahwa istilah tersebut bukan bagian dari agama “Islam” melainkan agama baru yaitu “Islam Nusantara”.

Sayangnya kelompok kaku dan emosional ini kurang tepat meng-alamatkan pengertian yang sebenarnya. Bisa dipastikan karena kurang atau mungkin tidak pernah sama sekali belajar “manjahul fikr”, atau paling minimal berselancar di “metodologi studi Islam”. Alhasil berdampak menggeneralisir sesuatu secara “logical fallacies”, sehingga sesuatu yang khusus dibandingkan dengan yang umum atau sebaliknya.

Islam dalam sebuah pembelajaran tidak serta merta hanya “mencomot” teks naqli (al-Qur’an dan Sunnah) lanjut menghukumi segala sesuatu tanpa melihat konteks (pre-teks), karena disetiap teks yang ditawarkan ada sifat “al-‘amm-khas”, “kulliyah-juz’iyah”, “muhkam-mutasyabih” dan bahkan banyak lagi.

Lagi-lagi perlu akal pikiran yang jernih untuk memahami teks (al-Qur’an dan Hadits), karena sejatinya bahwa teks adalah benda mati. Tanpa akal, teks tersebut hanya seongkoh kumpulan kertas usang dan karena akal pula teks tersebut banyak memuat mutiara-mutiara yang sampai kapan-pun (dinamis) tidak pernah surut untuk menjawab persoalan kemanusiaan.

Karena sejatinya di dalam al-Qur’an sendiri memuat perintah tegas bahwa kita diwajibkan untuk belajar, mengkaji dan meneliti secara mendalam terkait persoalan kemanusiaan. Kata “Iqra’” dalam al-Qur’an tidak hanya dibatasi oleh sekedar arti “bacalah”, tapi inilah perintah tegas agar kita benar-benar harus menggunakan akal pikir yang sehat dalam belajar, mengkaji dan meneliti secara mendalam demi tujuan memaknai sebuah kehidupan dan keberagaman yang bisa menyesuaikan antara konteks sosial, budaya dan keberagamaan yang berlaku.

Teks (al-Qur’an dan Hadits) tidaklah “statis” seperti yang dibayangkan oleh beberapa kelompok muslim terbelakang (fundamentalis-kaku), seolah teks tersebut sederajat nilai-nya seperti naskah Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Justru teks (al-Qur’an dan Hadits) tersebut “quite dynamic” dalam menyikapi persoalan kemanusiaan, sehingga tidak sedikit ulama besar seperti as-syatibi contohnya dalam melihat literatur teks al-Qur’an dan Hadits selalu tidak terlepas dari perwujudan kemaslahatan terhadap “hifdz al-din”,  “hifdz al-nafs”, “hifdz al-nasl”, “hifdz al-aql” dan “hifdz al-amal” sebagai “maqasidus syari’ah”.

Penjelasan mengenai “Islam Nusantara” bagi penulis adalah bagian daripada “maqasidus syari’ah” yang masuk pada wilayah pokok “hifdz al-din”, “hifdz nasl”, “hifdz al-aql” dan “hifdz al-amal”. Antara lain alasannya ialah:
1. “Islam Nusantara” merupakan suatu bentuk pemeliharaan terhadap agama “Islam” di wilayah “nusantara” (hifdz al-din)
2. “Islam Nusantara” merupakan suatu bentuk pemeliharaan dengan menjaga keturunan yang mana ulama Islam di nusantara benar-benar bejalar sesuai sanad keilmuannya sampai pada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam dan menurunkan ilmunya pada anak, cucu, murid terkhusus di wilayah tempat kelahiran atau kediamannya yaitu “nusantara” (hifdz al-nasl)
3. “Islam Nusantara” merupakan suatu bentuk pemeliharaan atas “manhajul fikr ahlul sunnah wal jama’ah” yang sampai sekarang tentunya menjadi semangat ke-Islamanan di “nusantara”.
4. “Islam Nusantara” merupakan suatu bentuk pemeliharaan terhadap harta warisan yang telah diberikan oleh ulama-ulama yang ada di Nusantara dalam bentuk “karya tulis para ulama nusantara terdahulu” sehingga sampai sekarang banyak pesantren di nusantara mengajarkan dan memperkenalkan ragam karya tulis “ulama nusantara” kepada para santri-nya (hifdz al-amal).

Sederhananya, bahwa “Islam Nusantara” yang sifatnya khashais atau mumayyizat/tipologi dengan tegas bukan merupakan aliran atau mazhab baru bahkan bukan pula agama baru, justru menunjukkan “khas” yang bercirikan bahwa ”Islam Nusantara” hadir karena dakwahnya selain dari merangkul-melestarikan-menjaga budaya juga banyak ulama nusantara yang banyak berkontribusi dalam khazanah ilmu ke-Islamanan, baik dari karya tulis, hingga praktek penyebaran ajaran Islam dengan cara yang damai tanpa perang seperti yang terjadi di Timur-Tengah belakangan ini dengan corak ekstrimis-jidahis-teroris.

Semangat “Islam Nusantara” adalah semangat “Islam Rahmatan lil ‘alamiin” yang justru sangat sejalan, karena pendekatannya dengan cara perdamaian (al-shulh). Antara keduanya bukan istilah yang harus dibandingkan, karena “Islam Nusantara” bagian dari “Islam Rahmatan lil ‘alamin”. Artinya “Islam Nusantara” yang dimaksud merupakan bagian dari “Manhajul fikr Ahlussunnah Wal Jama’ah” dengan tetap berkoridor pada Madzhab Teologinya Imam Abu Hasan al-‘Asyari (w 324 H) dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (w 333 H). Madzhab Fikhnya Imam Abu Hanifah al-Nu’man (w 150 H), Imam Malik Ibn Anas (w 179 H), Imam Syafi’i (w 204 H), dan Imam Ahmad Ibn Hanbal (w 241 H). Madzhab Tasawuf/Akhlaknya Imam Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.

Dewasa ini, sebetulnya mengajak kelompok dadakan atau kagetan untuk kembali memahami “Islam” dengan sikap at-tawasuth (tengah-tengah), at-tawazun (seimbang), al-i’tidal (tegak lurus), tasamuh (toleransi).

Sulit memang untuk memahamkan hal ini, karena kelompok-kelompok dadakan atau kagetan ini bisa jadi belum berselancar pada dasar-dasar kajian Islam baik Itu “manhajul fikr ahlul sunnah wal jama’ah”, “ushul fikih”, dan lainnya.

Tapi mudah-mudahan tulisan kecil yang sedikit dari penulis sampaikan bisa dipahami, bukan untuk ditelan secara mentah. Melainkan kembali mengajak berfikir kembali serta membuka khazanah ke-Islaman melalui literatur-literatur bonafide.
Allahu’alam bishawab.

 

Check Also

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Oleh: M Hasani Mubarok* إهدنا الصّراط المستقيم Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas …

Tinggalkan Balasan