fbpx
Home / Ngaji / Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 3)

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 3)

sumber: inilah.com

Oleh: M Hasani Mubarok*

الرّحمن الرّحيم

Yang Maha Rahman lagi Rahim

Pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan tentang bagaimana hamba-hamba-Nya harus memuji. Bukan karena Allah membutuhkan pujian manusia kepada-Nya, melainkan karena segala rahmat dan kasih sayang yang Dia curahkan menunjukkan bahwa Allah memang Dzat yang terpuji pada Diri-Nya sendiri.

Hamparan nikmat yang terus menerus mengalir mengisi setiap kehidupan manusia dari dulu sampai hari ini, berupa hamparan bumi dan segala isinya yang membuat manusia mampu bertahan hidup selama ratusan juta tahun lamanya. Serta anugerah langit yang menurunkan hujan dan menjadi sumber bagi kemakmuran bumi, dari air itu mekar dan tumbuhlah dengan subur tanaman-tanaman di bumi yang tidak hanya menjadi sumber makanan untuk bertahan hidup, melainkan juga menjadi sumber oksigen.

Semua itu menunjukkan betapa Allah telah menjadikan seluruh apa yang di bumi ini bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, dan semua itu pada awalnya tidaklah dapat dikuasai oleh mereka, tidak pula mereka bisa menciptakannya, semua hanya karena Allah yang Maha memelihara, merawat dan menyiapkannya untuk kemashlahatan penduduk bumi.

Inilah alasan mengapa Allah menguasai segala pujian, bahkan segala bentuk pujian yang diberikan oleh manusia tidaklah pernah bisa sepadan dengan segala anugerah yang Dia berikan. Inilah makna dari “segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara segenap alam.”

Setelah dijelaskan tentang pemeliharaan alam oleh Allah, yang mana dalam hal ini al-Quran menggunakan kata rabb, maka pada ayat ketiga ini Allah menegaskan bahwa pemeliharaan alam ini tidak akan berjalan kalau bukan dengan sifat Allah yang Maha kasih dan sayang.

Musthofa Hishni al-Manshuri dalam tafsirnya –muqtathof uyun al-Tafsir- menegaskan, bahwa kata arrohman pada ayat ini menegaskan bahwa Allah memelihara alam ini melalui beberapa perantara. Hal ini dikarenakan makna kasih sayang yang terkandung di dalam arrohman bersifat umum, dalam artian dirasakan oleh semua orang serta melibatkan perantara-perantara makhluk Allah lainnya.

Sedangkan arrohim, menggambarkan bahwa dalam memeliharanya Allah tidak memerlukan perantara. Oleh karena kasih sayang yang terkandung dalam kata arrohim adalah bermakna khusus, dalam artian, kasih sayang ini diberikan oleh Allah tidak kepada semua manusia, melainkan kepada mereka yang telah dikhususkan oleh Allah karena keutamaan yang dimiliki.

Menurut pakar tafsir, seperti Asshobuni dan beberapa mufassir lainnya, pengulangan kembali sifat arrohman dan arrahim, setelah sebelumnya disebutkan pada ayat pertama, merupakan penegasan dari pada ayat kedua. Kata rabb yang bermakna memelihara seperti menunjukkan sifat maskulinitas dari Allah yang berkonotasi pada ketegasan. Fungsi dari disebutkannya dua sifat ini kembali adalah untuk menegaskan bahwa pemeliharaan itu berlangsung dan berlandaskan dengan sifat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, bukan dengan kesewenang-wenangan.

Hal ini berbeda dengan konsepsi pemeliharaan atau pendidikan yang seringkali dilakukan oleh manusia, jika selama ini orang yang memelihara ayam adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, atau seorang manajer menyekolahkan karyawannya untuk meningkatkan produktifitas dan profesionalitasnya, maka berbeda dengan pemeliharaan dan pendidikan yang digariskan oleh Allah, karena semua pemeliharaan yang diberikan-Nya semata-mata karena kasih sayang bagi manusia itu sendiri. Dan Allah tidaklah memerlukan apapun itu dari pada yang dipelihara.

Hikmah

Dalam ayat ini Allah menjelaskan alasan tentang ke-Maha terpujian-Nya yang Azali. Sebuah pujian yang tidak membutuhkan pujian manusia, melainkan murni karena semua hal yang diberikan oleh Allah kepada manusia merupakan cerminan dari pada cinta kasih-Nya yang memang tidak akan pernah terhitung oleh manusia. Dan hal ini secara logis memposisikan semua pemeliharaan yang Dia berikan bukan karena pamrih apapun.

Syekh Ahmad Yasin Asymuni, dalam tafsir surat al-Fatihah menegaskan, bagaimanapun manusia mencoba untuk memuji Allah, maka tidak akan pernah ada artinya bagi Allah. Hal ini karena Allah sudah terpuji dengan Diri-Nya sendiri. Ucapan alhamdulillahi Robbil alamin yang diucapkan oleh seseorang ketika memperoleh nikmat tak akan pernah sepadan dengan pemberian nikmat itu sendiri. Maka cara terbaik untuk mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Allah tidak ada lain kecuali memanfaatkannya sebaik mungkin untuk semata-mata beribadah kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam bishhowab

 

*Pengajar di Ponpes Baitul Mubarok, Paret Serong

Check Also

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Oleh: M Hasani Mubarok* إهدنا الصّراط المستقيم Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas …

Tinggalkan Balasan