Home / Berita / Peringati Konfrensi Asia Afrika, OKP Pontianak Bersama Kelompok Penyanyi Jalanan Menggelar Talkshow

Peringati Konfrensi Asia Afrika, OKP Pontianak Bersama Kelompok Penyanyi Jalanan Menggelar Talkshow

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Dalam rangka  memperingati Konferensi Asia Afrika ( KAA) yang pada 18 April lalu juga diperingati di Bandung, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Kelompok Penyanyi Jalanan menggelar Talk Show yang bertema Indonesia Bersama Palestina di Canopy Center Jalan Purnama 2. Sabtu, 27/2 Sore.

Pembicara dalam talkshow ini merupakan aktivis yang mewakili masing-masing OKP, yaitu Marzuki, ST Ketua HMI Pontianak, Hasanie Mubarak selaku Demisioner Ketua 1 PMII Pontianak, Rival Aqma Rianda Ketua GMNI Pontianak. Dan juga Abd. Hakim, S.EI, M.E. yang merupakan direktur SCoPS komunitas pemerhati Palestina. Talkshow ini dimoderatori oleh Doni selaku aktivis kampus IAIN Pontianak.

Misjuki, S.T dalam penyampainya mengatakan bahwa Konferensi Asia Afrika (KAA) merupakan moment bersejarah, dalam hal ini Indonesia termasuk negara pencetus atau penggiat dari Konferensi tersebut.

“salah satu point penting dari the ten principle dari Konferensi Asia Afrika kemarin adalah menghargai Hak Asasi Manusia (HAM), dengan adanya KAA ini dengan prinsip menghargai Hak Asasi Manusia diharapkan bisa menangani konflik kemanusiaan” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia paska momen Politik kemarin harys tetap menjaga kedamaian, karena dari kejadian pemilu kemarin terlihat bahwa budaya menghargai masyarakat Indonesia mulai luntur.

“ budaya menghargai itu penting, karena Palestina sudah tidak aman akibat tidak adanya toleransi atau saling menghargai, Indonesia mwrupakan negara yang majemuk tentunya beragama, keberagaman itu merupakan niscaya, dan Indonesia adalah bukti dari keniscayaan itu ” imbuhnya.

Lain halnya Hasanie Mubarak dalam penjelasannya mengatakan bahwa semakin ke sini konflik Palestina semakin membengkak akibat adanya media, yang kadang kala isu-isunya tidak sesuai atau hanya framing saja. Untuk itu memang perlu berhati hati dalam mengkonsumsi media.

“apalagi karakteristik milenial adalah swing over artinya berada di satu pusaran, yang generasi milenial tersebut berkarakter kritikal ketika disuguhkan fenomena fenomena,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa konflik Palestina meruapakn konflik politik yang sekarang bergeser ke konflik agama. Suatu negara jika membawa bawa ranah agama maka sensitivitasnya akan meningkat dan tentunya mudah terjadi konflik.

“tentunya jika kita ingin memandang konflik dari palestina, benang merahnya adalah tentang kemanusiaan, di darah manapun pasti akan menyuarakan kemanusiaan untuk Palestina, Imbuhnya. (Siti Maulida)

Check Also

Semarak Harlah ke-90, LP Ma’arif NU Kalbar Gelar Malam Refleksi

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama  merupakan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, …

Tinggalkan Balasan