fbpx
Home / Opini / Pandangan Aktivis HTI Soal Khilafah Ini Justru Benarkan Konsep nKRI

Pandangan Aktivis HTI Soal Khilafah Ini Justru Benarkan Konsep nKRI

Oleh: Ayik Heriansyah

Hafidz Abdurrahman seorang pemikir HTI merilis tulisan berjudul Mendudukkan Polemik “Khalifah” dan “Khilafah” dalam al-Qur’an. Setelah saya simak ternyata isinya hanya mengulang pemikirannya yang dulu tentang khilafah. Intinya khalifah identitik dengan khilafah dan khilafah adalah lembaga pemerintahan. Berarti sama dengan NKRI. Bahkan sistem pemerintahan RI lebih hebat ketimbang khilafah tempo doeloe.

Tulisan lama saya ini menegaskan akan hal tersebut, respon saya atas tulisan beliau yang membantah tudingan khilafah buatsn ulama. Ust. Hafidz Abdurrahman (Mas’ul ‘Am HTI 2004-2010) membantah pendapat yang mengatakan Khilafah buatan ulama pada tulisan yang beredar di media sosial, (Senin, 10/12/2017). Beliau menegaskan bahwa Khilafah punya bentuk baku.

Ada 18 point yang Beliau sajikan untuk menunjukkan bahwa Khilafah itu buatan Nabi Saw. Di point 1, secara tegas Beliau mengatakan bahwa Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah adalah hasil copas (copy paste) dari negara Nabi Saw.

Apa saja yang di-copy dari negara Nabi Saw? Adanya kepala negara, ibukota dan wazir (pembantu kepala negara) [point 2], wilayah, wali, pasukan, majlis syura, administrasi, bentuk negara kesatuan [point 3-7], adanya bai’at (pemilihan dan pengangkatan) kepala negara [point 10-14].

Dari unsur-unsur negara yang di-copy dari negara Nabi Saw, bukan hanya Khulafaur Rasyidin yang nge-paste-nya, ternyata NKRI juga memiliki unsur-unsur negara Nabi Saw. Indonesia punya kepala negara yang disebut Presiden, ibukota negara Jakarta, ada wazir yang disebut Menteri sebagai pembantu Presiden, wilayah dari Sabang sampai Merauke, punya wali yang disebut Gubernur, pasukan TNI, ada majlis syura yaitu DPR dan DPRD dan Indonesia merupakan negara kesatuan.

NKRI memiliki sistem suksesi kepala negara yang dinamakan Pemilu / Pemilihan Presiden.
Suksesi di Indonesia prosesnya lebih rumit, lebih lama dan lebih sistematis jika dibandingkan dengan suksesi di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Hasan. Kendati demikian esensi bai’at penyerahan kekuasaan dari rakyat sebagai pemilik kepada kepala negara sebagai pemegang amanah kekuasaan tetap ada pada Pemilu / Pemilihan Presiden. Rukun – rukun bai’at tidak hilang.

NKRI berbentuk republik dan sistem pemerintahannya presidensial. Secara harfiyah, republik dan presidensial bukan khilafah tapi substansinya sama yaitu kekuasaan di tangan rakyat dan pelaksana amanah kekuasaan di tangan satu orang.

Dengan demikian, NKRI adalah copas dari negara Nabi Saw menurut makna copas yang diuraikan oleh Ust Hafidz Abdurrahman. NKRI sudah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Makanya rasa janggal, kalau Ust Hafidz Abdurrahman masih bersemangat memperjuangkan Khilafah Tahririyah di wilayah NKRI.

Oleh: Ayik Heriansyah

LADUNI.ID – Hafidz Abdurrahman seorang pemikir HTI merilis tulisan berjudul Mendudukkan Polemik “Khalifah” dan “Khilafah” dalam al-Qur’an. Setelah saya simak ternyata isinya hanya mengulang pemikirannya yang dulu tentang khilafah. Intinya khalifah identitik dengan khilafah dan khilafah adalah lembaga pemerintahan. Berarti sama dengan NKRI. Bahkan sistem pemerintahan RI lebih hebat ketimbang khilafah tempo doeloe.

Tulisan lama saya ini menegaskan akan hal tersebut, respon saya atas tulisan beliau yang membantah tudingan khilafah buatsn ulama. Ust. Hafidz Abdurrahman (Mas’ul ‘Am HTI 2004-2010) membantah pendapat yang mengatakan Khilafah buatan ulama pada tulisan yang beredar di media sosial, (Senin, 10/12/2017). Beliau menegaskan bahwa Khilafah punya bentuk baku.

Ada 18 point yang Beliau sajikan untuk menunjukkan bahwa Khilafah itu buatan Nabi Saw. Di point 1, secara tegas Beliau mengatakan bahwa Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah adalah hasil copas (copy paste) dari negara Nabi Saw.

Apa saja yang di-copy dari negara Nabi Saw? Adanya kepala negara, ibukota dan wazir (pembantu kepala negara) [point 2], wilayah, wali, pasukan, majlis syura, administrasi, bentuk negara kesatuan [point 3-7], adanya bai’at (pemilihan dan pengangkatan) kepala negara [point 10-14].

Dari unsur-unsur negara yang di-copy dari negara Nabi Saw, bukan hanya Khulafaur Rasyidin yang nge-paste-nya, ternyata NKRI juga memiliki unsur-unsur negara Nabi Saw. Indonesia punya kepala negara yang disebut Presiden, ibukota negara Jakarta, ada wazir yang disebut Menteri sebagai pembantu Presiden, wilayah dari Sabang sampai Merauke, punya wali yang disebut Gubernur, pasukan TNI, ada majlis syura yaitu DPR dan DPRD dan Indonesia merupakan negara kesatuan.

NKRI memiliki sistem suksesi kepala negara yang dinamakan Pemilu / Pemilihan Presiden.
Suksesi di Indonesia prosesnya lebih rumit, lebih lama dan lebih sistematis jika dibandingkan dengan suksesi di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Hasan. Kendati demikian esensi bai’at penyerahan kekuasaan dari rakyat sebagai pemilik kepada kepala negara sebagai pemegang amanah kekuasaan tetap ada pada Pemilu / Pemilihan Presiden. Rukun – rukun bai’at tidak hilang.

NKRI berbentuk republik dan sistem pemerintahannya presidensial. Secara harfiyah, republik dan presidensial bukan khilafah tapi substansinya sama yaitu kekuasaan di tangan rakyat dan pelaksana amanah kekuasaan di tangan satu orang.

Dengan demikian, NKRI adalah copas dari negara Nabi Saw menurut makna copas yang diuraikan oleh Ust Hafidz Abdurrahman. NKRI sudah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Makanya rasa janggal, kalau Ust Hafidz Abdurrahman masih bersemangat memperjuangkan Khilafah Tahririyah di wilayah NKRI.

 

Check Also

Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar Wilayah Kalbar Gelar Muswil ke-II

KUBU RAYA – NU Khatulistiwa,  Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Wilayah Kalimantan Barat. Gelar …

Tinggalkan Balasan