fbpx
Home / Opini / Catatan Refleksi Hari Konsumen Nasional

Catatan Refleksi Hari Konsumen Nasional

Oleh: Siti Maulida

Pemerhati Isu-isu Ekonomi Keumatan / Pegiat KSEI IAIN Pontianak

Tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 20 April merupakan hari Konsumen Nasional. Di tetapkannya hari konsumen ini pada keputusan presiden Nomor 13 tentu saja agar setiap tahunnya masyarakat Indonesia melakukan evaluasi terhadap perekonominya, khususnya dari segi pengeluaran. Seperti yang sudah kita ketahui negara ini wilayahnya strategis, sehingga menjadi sasaran empuk untuk objek perdagangan bagi negara lain. Apalagi masyarakat Indonesia pengguna sosial media tertinggi di antara negara negara lain, sehingga memungkinkan masyarakatnya untuk selalu update terhadap tren perkembangan zaman.

Secara tidak sadar perilaku konsumtif menjadi budaya turun temurun, yang tentunya akan berlanjut jika tidak segera ditindak lanjuti. Namun bisakah mengurangi budaya konsumtif yang bisa dikatakan mendarah daging bagi masyarakat Indonesia?

Sebenarnya perilaku konsumtif sendiri penting bagi manusia, karena jika kita tidak mengonsumsi sesuatu maka tidak akan bertahan hidup. Perekonomian akan terjadi jika terdapat pihak yang memproduksi dan pihak yang mengkonsumsi. Jika salah satu tidak ada, maka mustahil perekonomian terjadi, baik secara mikro maupun makro. Lantas sebenarnya apa sih menjadi permasalahan?, menurut penulis pribadi adalah gaya hidup yang berlebihan.

Jika kita hubungkan dengan agama, Allah menciptakan seluruh alam ini agar dikelola oleh manusia, sehingga manusia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan rambu-rambu berupa batasan-batasan serta arahan-arahan positif dalam mengelola sumber daya. Tentunya arahan positif itu adalah tidak berperilaku boros atau berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu, penegasaanya bahkan termaktub dalam Al-Quran surah Al Isra ayat : 27.

”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya”

Gaya hidup manusia terbentuk akibat lingkungan, umumnya masyarakat perkotaan gaya hidupnya lebih mewah, berbeda dengan masyrakat perdesaan yang gaya hidupnya sederhana. Ternyata jika dihubungkan dengan  ilmu ekonomi, ini yang menyebabkan inflasi di kota lebih tinggi daripada di desa. Hal ini disebabkan masyarakat kota mengkonsumsi sesuatu karena kebutuhan dan keinginan, sedang masyarakat desa mengkonsumsi sesuatu karena kebutuhannya saja, asal bisa makan dan cukup untuk keseharian.

Gaya hidup hendonisme yang mulai mewabah dalam kehidupan masyarakat modern semakin tak terkendalikan, apalagi dengan adanya media sosial seperti instagram yang menjadikan peluang masyarakat untuk menunjukan tren tren yang diikutinya. Memang hendonisme sendiri juga mendorong kegiatan ekonomi dan bisnis baru yang dapat mendorong lahirnya perusahaan dan industry barang barang mewah. Namun produk industri atau bisnis  barang mewah tersebut tidak terjangkau bagi orang yang tidak mampu, produk mewah tersebut hanya dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu bagi orang orang mampu saja. Sehingga terlihat secara signifikan ketimpangan sosial penampilah orang yang kurang mampu dengan yang mampu.

Mungutip dari tulisan Dr.Musa Asy’arie dalam bukunya Filsafat Ekonomi Islam “Aspek Konsumsi dalam ekonomi Islam dikembangkan dalam Konsep Kesederhanaan. Keseimbangan dan tidak melampaui batas”

Kutipan diatas sebagai pengingat bagi kita, bahwa manusia harus menjaga prinsip kesederhanaan, keseimbangan dalam hidupnya, termasuk keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhannya , sudah semestinya kebutuhan itu dipenuhi secara wajar dan tidak berlebih-lebihan.

Namun dalam membelanjakan sesuatu juga jangan terlalu hemat, karena bisa menimbulkan perilaku kikir. Seperti dalam firman Allah sebagai berikut ini “ Dan orang orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian (Quran 25:67)”

Berkenaan dengan Hari Konsumen Nasional ini, sebenarnya masyarakat Indonesia khususnya tiap individunya menerapkan nilai- nilai agama dalam mengkonsumsi sesuatu. Negara ini begitu beragam penduduknya, baik dari segi budaya bahasa maupun agama, pasti setiap agama mengajarkan perilaku sederhana. Tidak mengapa saat ini Indonesia menjadi negara konsumtif, namun ini PR bagi generasi selanjutnya agar perilaku konsumtif tersebut diimbangi dengan perilaku produktif. Perilaku produktif tidak hanya tentang bagaimana menjadikan sesuatu menjadi bernilai rupiah, namun tentang bagaimana menjadikan sesuatu menjadi memiliki nilai manfaat . Selamat Hari Konsumen Nasional

 

Check Also

Tafsir Surat al-Fatihah (ayat 6)

Oleh: M Hasani Mubarok* إهدنا الصّراط المستقيم Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas …

Tinggalkan Balasan