Home / Opini / Perlukah Kontroversial?

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy

Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang

Yang terpenting dari suatu Fenomena adalah cara menanggapinya, sebab cara menanggapi menentukan berat dan tidaknya penyelesaian suatu persoalan. Di samping itu objektifitas dalam menanggapi juga sangat diperlukan untuk membangun putusan yang benar. Contoh sederhana adalah jika orang yang kita kagumi melakukan kesalahan -katakanlah mencubit tanpa sebab- kita akan lebih mudah memaafkan bahkan justru membuat kita senang. Sebaliknya, jika orang yang kita benci melalukan hal yang sama, penyikapan kita pun juga akan berbeda.
.
Terus terang saja, dalam hal ini saya akan memberikan sedikit tanggapan atas penolakan Rocky Gerung oleh masyarakat di beberapa tempat. Untuk menanggapinya saya memposisikan diri sebagai pelajar yang terlepas dari sudut pandang politik. Tapi sebelum masuk dalam pembahasan, ada beberapa hal yang ingin saya utarakan agar pembaca mendapatkan stimulus.
.
Dari sekian banyak pembahasan yang disampaikan oleh Jean Jacquee Rousseau dalam buku Du Contrat Social (Kontrak Sosial), ada dua prinsip yang sedikit Ia singgung, yakni mengenai Kebebasan Alami dan Kebebasan Politik.
.
Kebebasan alami dapat diartikan sebagai gerak manusia berdasarkan impuls fisik, sedangkan Kebebasan Politik adalah gerakan komunal berdasarkan kontrak sosial yang telah dibentuk dan disepakati bersama. Jadi berdasarkan ini Rousseau membenturkan keduanya serta memberikan kesimpulan bahwa manusia akan kehilangan Kebebasan Alaminya setelah Kontrak Sosial telah disepakati. Sejak saat itu panggilan kewajiban menggantikan impuls fisik  dan hak menggantikan posisi keinginan. Setelah mengetahui penjelasan di atas pertanyaannya adalah bagaimana bisa Kebebasan Alami dapat dihilangkan oleh Kebebasan Politik?, naah begini penjelasannya.
.
Kebebasan alami merupakan kebebasan kehendak yang didapatkan dari hasrat dan keinginan yang bersifat individual, sedangkan Kebebasan Politik adalah kehendak yang berdasarkan pada berbagai kepentingan sosial, dalam konteks Indonesia hal ini dapat disejajarkan dengan sistem Demokrasi yang setiap orang memiliki kebebasan. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa apabila kebebasan berpendapat tidak dimanajemen dengan baik atau bahkan berlebihan, maka demokrasi akan bergnti posisi menjadi oligarki. Saya kira penjelasan ini sudah cukup sebagai pengantar untuk menanggapi penolakan Rocky Gerung di beberapa tempat. Naah, untuk itu mari kita benturkan penjelasan ini dengan fenomena penolakan tersebut.
.
Sebagai kaum intelektual seharusnya pelajar atau mahasiswa membangun diskusi, dialektika atau bahkan perdebatan dengan Rocky Gerung, bukan malah menolaknya karena Ia adalah tokoh yang sering kali membuat pernyataan-pernyataan yang kontroversial. Sederhananya argumentasi harus dibalas dengan argumentasi di dalam ruang-ruang publik, sebab begitulah yang diinginkan oleh negara yang menganut sistem demokrasi. Di samping itu bukankah kebebasan berpendapat adalah kebebasan politik, tetapi mengapa Rocky Gerung justru dilarang menyampaikan pendapatnya?.
.
Selain itu memberikan tanggapan dengan dugaan kampanye juga tidaklah esensial, sebab dugaan tetaplah dugaan sebelum ia dibuktikan. Bukankah kaum terpelajar seharusnya berpegang teguh pada prinsip tersebut?. Naah, jika memang telah terbukti bahwa kedatangan Rocky Gerung atas dasar kampanye yang dibungkus dengan kegiatan yang mengatasnamakan akademik, tugas kaum terpelajar seharusnya menghadiri  acara tersebut dan membantahnya dengan dalih adanya ketidaksesuaian antara tujuan acara dan konten penyampaian.
.
Selanjutnya, jika kedatangan Rocky Gerung yang kontroversial tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu ketentraman masyarakat, maka justru hal tersebut dapat mendatangkan nilai plus. Nilai plus yang dimaksud di sini adalah kita dapat menyaksikan sendiri kualitas ketentraman yang selama ini terjalin dalam suatu masyarakat. Jika kedatangan Rocky Gerung membuat masyarakat yang tentram menjadi kacau balau, maka dengan begitu kita akan segera menyadari betapa ketentraman tersebut masih rapuh. Jika ketentraman tersebut justru tidak mengganggu stabilitas ketentraman masyarakat, maka kita akan tau betapa kuatnya stabilitas ketentraman tersebut. Memboikot pendapat seseorang dengan mengatasnamakan ketentraman juga bukanlah ciri dari kebebasan politik. Selanjutnya penolakan Rocky Gerung tersebut juga dapat dicurigai apakah penolakan tersebut mengatasnamakan akademik atau karena adanya perbedaan pandangan politik yang kemudian dibungkus dengan dalih-dalih yang saya sebutkan di atas. Jika memang demikian lantas apa bedanya masyarakat yang menolak dengan Rocky Gerung yang sama-sama membungkus tindaknnya yang terselubung?.
.
Sebagai catatan penutup saya ingin sampaikan bahwa membangun ruang-ruang diskusi itu penting, dan yang tidak kalah pentingnya adalah menanggapi sesutu haruslah proporsional, artinya ia harus apple to apple. Selain itu menyerang Rocky Gerung atas dasar pribadinya yang kontroversial atau bahkan atas dasar posisinya sebagai oposisi dari pemerintah adalah bentuk kesesatan dalam berpikir.

Wallahu A’lam…

 

Check Also

HUT RI KE 74: Sebuah Refleksi

Oleh: Dr.Ibrahim, MA Ketua LTN PWNU Kalbar 74 tahun sudah berlalu saat-saat sang proklamator memimpin …

Tinggalkan Balasan