Home / Opini / KOPRI dan Hantu-hantu Patriarki

KOPRI dan Hantu-hantu Patriarki

Oleh: Ahmad Fauzy
Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang

Ada salah satu pernyataan bijak dari seorang filosof India bernama Anthony De Mello. Ia mengatakan bahwa salah satu sebab mengapa manusia terkatung-katung dalam jurang penderitaan adalah karena ia menghidupkan kembali sejarah kelam di masa lalunya ke kehidupan masa sekarangnya.
.
Hal yang serupa juga terjadi pada mereka yang tak henti-hentinya menyuarakan kesetraan gender, walhasil ketidakcocokan dalam penempatan posisi perempuan pasti dinilai sebagai ketidaksetaraan gender. Selain itu yang sangat disayangkan adalah mereka akan segera menuding lelaki sebagai pelakunya. Dari sini setidaknya kita bisa mempertanyakan kembali, dari mana pandangan ini berasal?, apakah feminisme menginginkan kesetaraan atau kebebasan dari norma-norma? dan apakah feminisme adalah solusi yang benar-benar solutif serta berlaku dalam skala universal?. Baiklah, mari kita jawab urutan dari pertanyaan ini.
.
Pertama, pandangan di atas -lelaki dan sistem mendiskriminasi perempuan- adalah cara pandang yang datang dari Feminisme Barat -yang sampai saat ini diamini oleh Kopri- yang kemudian pada tahun 1960-an dan 1970-an dipengaruhi oleh Filsafat Eksistensialisme. Pada abad ke-20 eksistensialisme dikembangkan (terutama) oleh filosof Prancis, Jean Paul Sartre (abad 20).
.
Sartre percaya bahwa manusia tidak memiliki sifat alami, artinya posisi eksistensi manusia bergantung pada usahanya untuk menciptakan esensinya sendiri. Oleh karena itu esensi manusia tergantung pada lingkungan di mana ia berada. Walhasil jika perempuan diberlakukan sebagaimana norma-norma yang ada (mengasuh, merawat, menerima), maka ia akan segera menuduh lelaki dan sistem sebagai dalangnya. Pandangan ini -menonjolkan ketertindasan wanita- kemudian disebut dengan Ecofeminisme. Selanjutnya pertanyaan yang kemudian patut diajukan kepada Kopri adalah mengapa mereka lebih mengamini Feminisme ala Barat dari pada feminisme ala Timur (Islam) yang memandang baik lelaki ataupun wanita adalah dua entitas yang seimbang dan saling melengkapi kekurangan masing-masing?, bukankah dengan menuduh lelaki sebagai sebab atas ketertindasan wanita merupakan bentuk diskreditasi yang sama (jika memang diklaim lelaki sebagi penindas)?, apakah kegelapan dapan menghilangkan kegelapan?
.
Kedua, bukankah untuk saat ini kesetaraan (dalam arti keseimbangan) sudah terwujud dengan bukti lelaki dan perempuan sama-sama memiliki hak dan kewajiban?. Islam juga sudah mengajarkan untuk membentuk kontrak antara lelaki dan perempuan sebelum menjalin pernikahan. Selain itu poligami dalam Islam juga diperbolehkan secara muqoyyad (syarat dan ketentuan berlaku). Selanjutnya sejarah Nabi Adam dan Siti Hawa juga telah membuktikan dan mengajarkan bahwa pada mulanya lelaki dan wanita adalah satu kesatuan dan saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini perlu kiranya disampaikan sebab tidak sedikit perempuan yang memilih untuk tidak menikah dan memilih untuk bebas.
.
Mengenai praktik sosial, bukankah perempuan telah ditempatkan sebagaimana posisinya yang kemudian disebut dengan istilah “tiga M” (macak, manak dan masak)?. Selain itu perempuan juga diberikan hak untuk berpolitik, mengatur negara dan masyarakat, menempuh pendidikan setinggi-tingginya, tidak diperbolehkan pulang larut malam sebab kejahatan yang selalu mengintai dan mengancam keselamatan. Jadi sejak kapan dan apa sebab tiga M tersebut menjadi suatu pekerjaan yang hina sehingga seorang perempuan merasa rendah harkat dan mertabatnya?. Naah, hal ini juga disebabkan sugesti dari Barat kepada perempuan melalui isu-isu politik dan media.
.
Ketiga, feminisme (dengan memandang lelaki sebagai penindas) bukanlah solusi yang benar-benar solutif yang kemudian diberlakukan dengan skala universal, sebab kasus kejahatan terhadap perempuan hanya bersifat kasuistik. Jadi mengasnamakan semua perempuan untuk bangkit dari ketertindasan merupakan hal yang amat keliru. Selain itu Islam juga mengajarkan keseimbangan dan sudah seharusnya feminisme yang diamini oleh Kopri menyuarakan hal itu.
.
Naah, dengan begini kita dapat menyimpulkan bahwa seharusnya yang perlu diubah oleh feminisme Kopri adalah paradigma dan cara menyikapi kasusnya. Jika paradigma dan cara menyikapinya benar maka hasilnya juga akan benar.

Wallahu A’lam…

 

Check Also

HUT RI KE 74: Sebuah Refleksi

Oleh: Dr.Ibrahim, MA Ketua LTN PWNU Kalbar 74 tahun sudah berlalu saat-saat sang proklamator memimpin …

Tinggalkan Balasan