fbpx
Home / Berita / Bicara Soal Islam dan Melayu, ABIM Sarawak dan PWNU Kalbar Jalin Silaturrahim

Bicara Soal Islam dan Melayu, ABIM Sarawak dan PWNU Kalbar Jalin Silaturrahim

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Pengetua Angkatan  Belia Islam Malaysia (ABIM) sebuah organisasi kepemudaan Islam di Malaysia melakukan kunjungan silaturrahim ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, Sabtu, 2/3 pagi. Pertemuan dilaksanakan di Sekretariat PWNU Kalbar Jalan Veteran Pontianak.

Pengetua ABIM wilayah Sarawak Muhammad Fazril Bin Muhammad Saleh, Ketua Tanfidziah PWNu Kalbar, H,Hildi Hamid, Ketua ISnU Kalbar Dr. Yusriadi, MA. serta ketua LTN PWNU Kalbar, Dr.Ibrahim, MA. serta beberapa pengurus ISNU lainnya.

Hildi Hamid dalam sambutannya menyambut baik kunjungan silaturrahim yang dilakukan oleh ABIM ini. Ia juga memaparkan mengenai perkembangan NU di Indonesia khususnya di Kalbar yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia.

“Banyak orang Islam khususnya di Kalbar ini yang secara tradisi dan amaliah itu dekat dengan NU  yang sudah dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa amaliah-amaliah tersebut bagian daripada tradisi orang-orang NU.

“Oleh karena itulah Melalui gagasan Islam Nusantara, upaya memelihara dan menjaga tradisi
tersebut oleh NU tetap terus dijaga,” ujar mantan Bupati Kayong Utara dua periode ini.
Muhammad Fazril Bin Muhammad Saleh mengaku gembira dapat diterima bersilaturrahim bersama keluarga besar Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat ini. Ia menyatakan bahwa apa yang diperjuangkan oleh NU hampir mirip dengan apa yang diperjuangkan umat Islam di Malaysia.

“Secara amaliah, antara Islam yang ada di Indonesia dan yang dipraktekkan oleh NU sama dengan di Malaysia yakni menganut faham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang dalam bidang aqidah menganut mazhab Asy’ary dan Maturidi serta dalam  bidang fiqih menganut mazhab Syafi’iy. Namun demikian, dalam bidang fikih, tetap ada keluwesan dalam praktiknya sehari-hari. karena fiqih tentunya memiliki fleksibilitas yang memungkin berunbah,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa apa yang diperjuangkan oleh NU yakni gagasan Islam Nusantara itu sebenarnya memiliki kemiripan ide dengan apa yang diperjuangkan oleh ABIM melalui Islam dan Melayu. Menurutnya, Proses masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, utamanya di alam Melayu ini tentu berbeda dengan perkembangan Islam yang ada di Timur Tengah.
Ia berharap bahwa ke depan perlu ada semacam penelitian atau kajian terhadap khazanah intelektual Islam dan Melayu.

Ia mencontohkan, salah satu ulama Melayu yang cukup terkenal di Sarawak Malaysia dan menjadi guru di Masjidil Haram Makkah adalah Syekh Uthman Abdul Wahhab as-Sarawaky Ia merupakan guru dari beberapa ulama Indonesia, antara lain  Abdul Karim Amrullah (Ayah dari Buya HAMKA), Syekh Mahfud At Termasi (Guru Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyary) serta Haji Abdul Majid (Ayah dari KH Zainuddin Abdul Majid pendiri Nahdlatul Wathan).

“Ini membuktikan bahwa dalam persoalan Islah dan Tajdid (pembaharuan) Ulama Nusantara memiliki keunikan tersendiri yang tentunya berbeda dengan gerakan pembaharuan yang dimotori oleh ulama-ulama timur tengah semisal Syekh Muhammad Abduh, Syekh Jamaluddin al-Afghani, serta Syekh Rasyid Ridha sehingga perlu penelitian mendalam terkait dengan mengangkat khazanah ulama Melayu ini,” pungkasnya.

Diakhir kunjungannya, Ketua ABIM Serawak Muhammad Fazril Bin Muhammad Saleh menyerahkan buku terjemahan  kitab ” nafahatur Ridwan” yang merupakan manakib Syekh Uthman Abdul Wahhab as-Sarawaky yang diterima langsung oleh Ketua PWNU Kalbar H.Hildi Hamid. (Fauzi/Yusriadi)

Check Also

“Ayo Menanam” Dalam Hadapi Krisis Corona

Oleh: Dr.Yusriadi, MA Ketua PW ISNU Kalbar Sore itu di akhir Maret 2020, di Group …

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com