fbpx
Home / Opini / Menggugat Tuhan Melalui Doa

Menggugat Tuhan Melalui Doa

Oleh: BUHORI  (Pengurus Wilayah GP.Ansor Kalimantan Barat)

Manusia sebagai makhluk memiliki segala macam kelemahan dan keterbatasn. Dengan berbagai kelemahan yang ada, manusia membutuhkan pertolongan mahluk lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, manusia disebut sebagai `abdun (hamba) yang berkewajiban untuk menyembah (beribadah) kepada Allah Tuhan sang Maha pencipta. Di antara bukti konkrit pengakuan diri akan ke-hambaan-nya di hadapan Allah adalah permohonan atau doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada Allah swt, manakala mereka menghadapi suatu masalah atau memiliki hajat.

Permohonan kepada Tuhan menjadi penegasan akan kelemahan dan keterbatasan yang ada pada manusia. Sejatinya, di saat manusia semakin menghambakan diri kepada Tuhan maka tingkat kebebasan (hurriyah) atas makhluk lainnya akan semakin tinggi dan ketergantungan kepada makhluk kian berkurang. Dalam Islam, selain disebut sebagai otak dari ibadah (mukhhul `ibadah), doa juga diposisikan sebagai senjata orang mukmin (ad-dua` silahu al-mukmin). Oleh sebab itu, doa bukanlah sebagai pelengkap peserta, bukan pula sebagai aspek sekunder dalam usaha, namun doa menduduki posisi primer sebagai bagian dari Ibadah.

Layaknya sebuah permohonan, doa hendaknya dimunajatkan dengan penuh khusyu`, merendahkan diri dihadapan Allah dengan mengakui kefakiran eksistensialnya dan berusaha melepaskan diri dari noda kesombongan dan keangkuhan. Doa seyogyanya diucapkan dengan memantapkan hati dan berkeyakinan untuk dikabulkan, walaupun kadang dengan redaksi yang terkesan sedikit memaksa dan menuntut. Sebab, hakekatnya tidak ada yang dapat memaksa kehendak Allah swt.

Dalam al-Qur`an dikisahkan, Nabi Ibrahim As pernah berdoa kepada Allah swt. agar ia diperlihatkan secara langsung bagaimana caranya Allah swt. menghidupkan orang mati. Sempat terjadi dialog antara Ibrahim as dengan Tuhannya. Tuhan berkata kepada Ibrahim as, apakah engkau tidak percaya (beriman) wahai Ibrahim ?. Ibrahim-pun menjawab; tidak wahai Tuhanku, akan tetapi agar hatiku ini semakin tenang dan mantap (liyathmainna qalbi). Doa yang dipanjatkan nabi Ibrahim ini seakan berisi tantangan kepada Allah swt untuk menunjukkan sifat ke-Maha kuasaan-Nya secara langsung kepada Ibrahim.

Nabi Isa as juga pernah berdoa kepada Allah swt. untuk sesuatu yang terbilang “nyeleneh” dalam pandangan manusia. Atas desakan dari kaumnya, beliau berdoa agar Allah swt. menghidangkan makanan yang disajikan langsung dari langit, sebagai tanda  (ayat)  bahwa Allah swt. betul-betul zat yang Maha kuasa atas segala sesuatu.

Lahirnya doa-doa di atas dapat kita pahami dari aspek historis-sosiologis. Nabi Isa as. diutus oleh Allah kepada kaum Bani Israil yang terkenal dengan sifat ke-ngeyelan-nya. Sehingga untuk menguji dan membuktikan bahwa Isa as. benar-benar utusan Allah swt.  mereka memerlukan bukti-bukti ilahiyah yang empiris dan dapat dilihat oleh indera mereka. Begitu pula yang dialami nabi Ibrahim As. Bapak para nabi ini berhadapan dengan raja Namrud yang sombong, ngeyel, suka debat bahkan merasa dapat menyaingi kebesaran Tuhan. Di saat Ibrahim memaparkan kekuasaan Tuhan yang mampu mematikan dan menghidupkan, maka Namrud pun berkata; “Akupun sanggup mematikan dan menghidupkan seseorang”. Oleh sebab itu, para nabi ini memerlukan bukti-bukti ilahiayah yang berada di luar jangkauan akal manusia (supra rasional) sebagai mukjizat yang menjadi bukti bahwa mereka benar-benar utusan Allah swt.

Nabi Muhammad saw pun pernah berdoa kepada Allah swt. dengan redaksi yang terkesan penuh tekanan dan “gugatan”. Di saat perang Badar, ketika beliau melihat jumlah pasukan kaum musyrikin berjejer rapi berjumlah seribu orang, sementara pasukan beliau hanya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang dengan senjata seadanya, maka beliaupun berdoa kepada Allah “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang pernah Engkau janjikan kepadaku, Ya Allah datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Allah jika Engkau hancurkan kelompok Ahlul Islam (saat ini) maka Engkau tidak akan pernah disembah lagi di muka bumi ini” Doa ini juga pernah dipanjatkan oleh nabi pada saat perang Uhud. Al-Khottobi (w.388 H) menjelaskan doa nabi ini tidaklah menggambarkan ketidakyakinan nabi akan janji Allah kepadanya, akan tetapi redaksi doa yang digunakan nabi ini lebih sebagai penumbuh rasa optimis dan sebagai penguat hati para sahabat untuk memenangkan peperangan. Sebab para sahabat kala itu yakin bahwa apa yang dimintakan melalui nabi pasti akan terkabul.

Dalam kontestasi politik yang tengah berkecamuk saat ini, layak kah satu kelompok kontestan politik di Indonesia berdoa dan “memaksa” Allah dengan cara men-“contek” doa Rasulullah di atas,  semisal:  Ya Allah menangkanlah kami, karena jika Engkau tidak menangkan kami, kami khawatir ya Allah tak ada lagi yang menyembah-Mu” ???

Pada dasarnya tidak ada larangan berdoa menggunakan redaksi yang pernah dicontohkan oleh para nabi, bahkan hal itu kadang dianjurkan. Akan tetapi, ketika doa tersebut bermuatan politis untuk kepentingan kelompok tertentu dan terjadi politisasi doa maka disinilah letak persoalannya. Dalam kasus ini, terdapat beberapa persoalan yang terlihat; Pertama, penggunaan redaksi doa semacam ini berisi pengandaian pertarungan politik di Indonesia layaknya Muslim Madinah yang tertindas versus kaum kafir Makkah yang mayoritas dan zalim. Jelas hal ini jauh panggang dari api, sebab masing-masing kontestan dan pendukungnya adalah representasi dari kaum muslim. Kedua, secara implisit redaksi doa tersebut memposisikan kubu lawan sebagai kaum kuffar yang anti syari`at Islam dan siap melenyapkan ajaran Islam dari bumi Indonesia, sehingga ada kekhawatiran tidak ada lagi yang menyembah Allah di nusantara ini ketika kubu mereka kalah. Jelas hal ini merupakan framing yang keji dan sangat tendensius. Kondisi yang sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw. sebab, kaum muslim Madinah saat itu memang merupakan satu-satunya kelompok Islam yang ada di belahan dunia. Ketiga, doa yang bermuatan politis di atas mengandung unsur i`tida` (melampaui batas) dan sesuatu yang mustahil terjadi. Secara rasional, hampir dipastikan bahwa kontestan manapun yang memenangkan pergulatan politik di Indonesia saat ini tidak akan melenyapkan para penyembah Allah di bumi pertiwi. Sehingga kekhawatiran tiadanya para penyembah Allah adalah hal yang impossible, dan hal itu dilarang dalam agama.

Sebagai bagian primer dari ibadah, doa haruslah tetap menjadi sarana taqarrub kepada Allah. Pada saat berdoa, seorang hamba dapat “berkomunikasi” dengan Tuhannya, bahkan “menggugat Tuhan”. Namun, politisasi doa untuk kepentingan sesaat bagi kelompok tertentu yang berdampak ‘pendeskriditan” kelompok lainnya hanya akan menciderai kesakralan sebuah doa. Belasan abad yang lalu, rasulullah pernah meramalkan akan adanya sebuah komunitas yang melampaui batas ketika berdoa (sayakûnu qaumun ya`tadûna fi ad-dua`). Oleh karenanya, berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut, sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS.al-A`raf: 55).

Check Also

Kepengurusan PC IPNU IPPNU Kota Pontianak Resmi Dilantik

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama …

Tinggalkan Balasan