fbpx
Home / Berita / Hadirkan Wakil bendahara Lakpesdam Pusat, Aktivis Muda NU Kalbar Gelar Diskusi dan Ngobrol Santai

Hadirkan Wakil bendahara Lakpesdam Pusat, Aktivis Muda NU Kalbar Gelar Diskusi dan Ngobrol Santai

 

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Belasan Kader dan aktivis muda Nahdlatul Ulama Kalimanatan Barat isi Malam Ahad dengan berkumpul di  gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat Jl. Veteran untuk mengikuti diskusi dan  ngobrol bareng bersama Ahmad Iftah Shiddiq, S.Ag (Wakil bendahara Lakpesdam PBNU).Sabtu, 16/2 Malam.

Hadir pula senior IPNU dan GP Anshor Kalimantan Barat Muhammad, kemudian dosen IAIN Pontianak yaitu Bapak Ridwan El-Farisi yang juga merupakan pengurus Lakpesdam NU Kota Pontianak, Ahmad Fauzi Muliji selaku Pengurus LTNNU Kalbar, Tiara Sari selaku ketia Komisariat PMII IAIN Pontianak. kemudian Ketua PKPT IPNU IAIN Pontianak yaitu Husni, serta beberapa senior  dan kader PMII. Mereka ngobrol santai seputar isu-isu atau berita yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama. Diskusi Informal ini bertujuan mempererat silaturahmi serta bertukar pikiran mengenai perkembangan Nahdlatul ulama di kalangan pelajar maupun mahasiswa.

Menurut Muhammad selaku senior IPNU dan GP Anshor banyak hal tentang NU yang harus diperkenalkan khususnya di wilayah Kalimantan Barat, yang penduduknya sangat beragam sehingga menarik. Menurutnya di daerah Sambas sendiri NU punya modal besar dengan keberadaan Syeikh Khatib Sambasyang berada di Sambas.. Di akhir pembicaraanya ia mengharapkan agar kader PMII tidak meninggalkan masjid masjid.

“saya berpesan kepada kalian agar jangan meninggalkan surau atau masjid, masjid di dalamnya harus orang orang yang paham NU, tidak hanya untuk beribadah solat ngaji, masjid juga bisa dimanfaatkan untuk diskusi di halaman luar”ungkapnya.

Lain halnya bendahara Lakpesdam PBNU memberikan informasi tentang kradaan umat islam sekarang, ia mengatakan menurut Gus Yahya Staguf, umat islam mengalami syndrom, yang berlatar belakang di wilayah Timur Tengah seperti syndrome negara kalah yang  berawal dari sejarah disnati islam di jazirah arab, yang saling berperang. Kemudian di Turki terdapat Syndrome pospower, yang memicu adanya negara sirplus utara, dan pada masa presiden erdogan saat ini muncul gerakan panislamisme di mana yang sebelumnya turki termasuk negara sekuler menjadi negara yang membangkitkan semangat islam.

“Kalau jaman dulu negara memakai Religion State, namun perang ada di mana mana, sekarang sudah diberlakukan nation state, dimana negara dijaga ketat dengan batas-batasnya. Namun masih ada negara yang tidak sependapat dengan Nation State itu” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa, islam di sebarkan di timur tengah melalui perang hal ini sangat berbeda dengan negara Indonesia, islam diaebarkan melalui pendekatan sosial budaya maupun politik. Sehingga pendekatan tersebut harus tetap di lestarikan di Indonesia agar damai. Dilihat dari faktanya peran Kyai atau ulama jika ditimur tengah hanya ceramah mengenai keagamaan, sedangkan peran ulama ataupun kyai di Indonesia tidak hanya memberikan ceramah seputar keagamaan akan tetapi berperan sebagai fungsi sosial juga, seperti mau menikah, panen dan hal hal sosial lainya masyarakat meminta doa restu dan saran kyai atau ulama.

Melihat fenomena gerakan transnasioanal yang mulai tampak di Indonesia, NU harus sadar untuk maju baik dari segi struktur maupun kultur. Karena sudah sangat menarik perhatian di kalangan pelajar sendiri survei mengatakan 60% prlajar memiliki fkirian radikal. Menurutnya NU harus memperbaiki aset, meskipun saat ini NU sudah maju, tidak membicarakan lagi tentang mengaji foqih dll, sekarang sudah merambat ke teknologi dan bagaimana memajukan sumberdaya manusia.

Ia menambahahkan bahwa gerkaan transnasional yang berkembang pesat di Indonesia karena menggunakan sistim sel, seperti merekrut sepuluh orang kemudian masing-masing mereka merekrut 10 orang dibawahnya dan seteruanya. Sistem jaringan tersebut terbilang ampuh dan NU harus msnggunakan sistem yang lebih ampuh dari mereka.

“Jadi sistrm ibatat lingkaran yang diluar namanya circle of concern dan yang di dalam namanua ciircle of influance. Nah NU  harus memulai dari circle influence terlebih dahulu sehingga dikuatkan oleh circle of concern. Artinya NU harus mewarnai dan jangan terwarnai” ungkapnya. (Siti Maulida)

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan