fbpx
Home / Opini / Digisexual; Diskursus Masa Depan Orientasi Seks Manusia

Digisexual; Diskursus Masa Depan Orientasi Seks Manusia

Oleh: Ach Tijani

Barangkali kita semua harus berterima kasih kepada teknologi yang telah banyak merevolusi cara berkehidupan kita, dari cara yang sangat konvensional dengan konsekuensi tingkat kesulitan yang tinggi dan produktifitas yang rendah, hingga kini kita merasakan banyak hal yang memanjakan dengan tingkat produktifitas yang tinggi. Salah satu perkembangan teknologi yang cukup memukau adalah ada pada segmentasi teknologi digital.

Saat ini manusia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan virtual yang serba digital, terutama pada persoalan informasi dan komunikasi. Kehadiran smartphone semakin mendekatkan kehidupan virtual tersebut menyatu dengan kehidupan nyata. Berbelanja, bersosialisasi, bertransportasi, mencari hiburan dan beberapa kepentingan lainnya kini dapat diselesaikan dalam satu genggaman tangan. Suatu kenyataan yang barangkali tidak terbayangkan sebelumnya (beyond imagination).

Pemanfaatan teknologi digital semakin hari terus mengalami perkembangan hingga kemudian sampai pada kehidupan seks. Dilaporkan oleh beberapa media internasional bahwa kita sejatinya telah benar-benar hidup di tengah-tengah transformasi seks, dari seks konvensional menuju kehidupan digisexual (seks digital). Barangkali kenyataan tersebut sulit untuk kita terima, bahkan kita cenderung akan menolaknya. Tapi ini bukan persoalan yang tabu untuk dibicarakan.

Digisexual secara terminologis bagi beberapa orang barangkali masih sangat asing, apalagi bagi mereka yang kehidupannya hanya terjebak pada obralan isu politik sektoral dan elektoral. Barangkali cebong dan kampret lebih familiar daripada isu penting ini. Penulis sengaja membawa isu ini sebagai isu alternatif yang mungkin dapat meminggirkan sejenak konsentrasi dikotomis preferensi politik antara kubu cebong dan kampret.

Digisexual atau dengan bahasa sederhana dapat dimaknai seks digital. Beberapa pendapat peneliti lainnya, istilah digisexual dikatakan sederajat maknanya dengan istilah teledildonics. Saya sendiri memandang kedua term tersebut memiliki perbedaan, walau sangat kecil. Teledildonic memliki arti pemuasan seks jarak jauh antara dua individu dengan menggunakan sarana teknologi, sedangkan digisexual menempatkan teknologi digital itu sendiri sebagai obyek dari pemuasan seks.

Untuk melihat perbedaan makna dari dua istilah tersebut, barangkali kita perlu melihat sejenak ke belakang di era tahun 90-an. Saat itu dapat kita temukan sejumlah iklan di beberapa media massa yang menawarkan jasa phone sex (obrolan panas seputar seks), bahkan di awal-awal 2000-an tawaran jasa itu juga sempat tersebar via SMS ke sejumlah pemilik telepon seluler. Peluang dan pasar, penyedia dan pelanggan seputar seks via teknologi itu terus berkembang hingga saat ini dengan kemasan dan segmenatasi yang semakin memukau. Pada segmen ini, relasi seks dan teknologi seakan berkonotasi negatif, karena teknologi dijadikan sarana menjajakan seks haram.

Kini kita tidak dapat memandang relasi seks dan teknologi itu dalam hubungan yang berkonotasi negatif saja, namun posisinya jika tidak berada pada posisi positif setidaknya relasi seks dan teknologi berada pada posisi netral. Sebagai contoh, dalam kehidupan sosial media, relasi seks dan teknologi itu telah bermetamorfosa menjadi sarana yang memudahkan bagi dua pasangan halal yang berjauhan untuk saling memuaskan syahwatnya via skype, snapchat dan sejumlah aplikasi yang dapat mengkonversi perasaan kehidupan faktual ke dalam dunia digital.

Barangkali contoh di atas bukan hal yang baru lagi, beberapa pasangan sudah familiar dengan aplikasi-aplikasi penghubung tersebut walau dalam hal ini masih sangat sederhana dengan hanya menampilkan kehadiran pasangan dalam bentuk dua dimensi. Di sisi lain pertumbuhan teknologi makin revolutif, berangsur tapi pasti terus mendorong kehadiran dunia virtual lambat benar-benar hadir dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari kenyataan. Saat ini dorongan kuat tersebut dikenal dengan ide Virtual Reality (VR).

VR sebagai ide barangkali adalah gila, menjijikkan bahkan Anda boleh saja mecemooh semau Anda, sebagaimana komentar pedas antara cebong dan kampret  di media sosial. Bahkan ide VR ke depan tidak saja untuk menghubungkan pemuasan seks antar manusia, akan tetapi juga menjajakan seks antara manusia dengan ilusinya sendiri. Dapat dibayangkan, setiap manusia dapat mengimpikan semaunya sendiri segala hal mengenai orientasi seksnya tanpa batas. Semua ilusi itu hadir real time, posisitioning 3D dan sound stereo display. Inilah puncak masa depan orientasi seks manusia yang disebut dengan sex immersive experience.

Anda meragukan itu?. Semua bisa saja terjadi, termasuk juga kita harus berani menyoal bagaimana masa depan agama, ditengah-tengah maraknya sakralitas ibadah telah terkonversi ke dunia digital dalam bentuk do’a, harapan, kecemasan bahkan dalam berdo’a kini hadir dalam video live streaming. Sepertinya teknologi lewat ide VR juga akan menyajikan tawaran sebanding dengan orientasi seks di atas yang mungkin dapat disebut dengann relegious immersive experiences. Mungkinkah?

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan