fbpx
Home / Opini / Menghadapi Para Pengacau Agama

Menghadapi Para Pengacau Agama

Oleh Helly Ummi M

Ketua Fatayat NU Kabupaten Landak

Setiap agama yang benar mengajarkan kedamaian, “Ad Din As Salaam” , setiap orang yang beragama dengan benar pastilah ingin mencari hidup dengan penuh  keselamatan, ketentraman, kebahagiaan, bukan kegaduhan sosial.

Mengapa beragama akhir-akhir ini justru menjadi “phobia”?, ini karena ulah segerombolan  oknum yang mengkapling surga dan  kebenaran versi mereka sendiri. Saat melihat kelompok yang berbeda, mereka akan nyinyir teriak kafir dan bahkan bermain kasar, entah dengan ujaran kebencian atau pun dengan kekerasan fisik.

Bukannya beragama seharusnya membuat kehidupan menjadi tidak kacau, sebagaimana makna agama itu sendiri?, namun faktanya tidak demikian, semakin kencang mereka teriak takbir, semakin masif mereka membuat keonaran. Pasti ada yang keliru dalam merepresentasikan maksud agama.

Firman Allah SWT menegaskan  “ Tidaklah Kami utus Engkau ( Muhammad ) kecuali menjadi Rahmat bagi seluruh alam.” Dan Rasulullah SAW pun menjelaskan bahwa “ Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dari sini bisa kita pahami, bahwa esensi dari diutusnya Baginda ke bumi ini, membawa misi akhlak mulia dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk di alam persada.

Nabi Muhammad SAW adalah “Uswah Hasanah” bagaimana mensikapi mereka yang berbeda dan memusuhi kita, yakni dengan berdamai dan merangkul  mereka dengan penuh kasih sayang. Namun mengapa kita yang mengaku ummatnya , tidak meneladani Beliau?

Well, coba kita lihat fenomena di era big data ini, media sosial dipenuhi berita-berita hoaks, ujaran kebencian, caci maki, sumpah serapah dan sampah-sampah bertebaran, yang membuat kepala menjadi pusing dan perut pun menjadi mual. Dan yang lebih memuakkan lagi adalah, semua itu dilegitimasi atas nama “agama”.

Teringat dengan pertanyaan Gus Mus kepada jamaah saat mengisi mauidzah hasanah, “Sesungguhnya agama itu wasilah atau ghoyah?, Islam itu wasilah atau ghoyah?, jamaah pun terdiam dan tergelitik serta menyadari bahwa hakikatnya Agama dan Islam itu hanya wasilah (perantara ) dan Ghoyah (Tujuan)nya adalah Allah azza wa jalla.

Untuk menggapai Ridla Allah, benarkah kita dengan menebar teror, menyakiti sesama, mengiblis laknatullahkan yang berbeda, dan mengkhuthamahkan mereka yang tidak sama?.

Banyak kaum puber agama yang mendadak gila menjadi Arab, justru meneriaki “bodoh” kepada para Ulama (sejati), “ ayo kembali kepada Al Qur’an dan Hadits, jangan apa-apa kata Ulama, Ulama itu kan tidak makshum “, mereka lupa kalau hidup mereka jauh empat belas abad setelah Nabi SAW, mereka bersikap seolah-olah Baginda di  samping mereka. Mereka ingin menaiki langit tanpa tangga, mungkinkah?

Sebagaimana yang diungkapkan Ibnul Mubarak, “ Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya ( diriwayatkan  Muslim)”.  Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, bersambungnya ikatan bathin kita dengan guru-guru kita, begitulah seterusnya hingga berujung kepada meneladani Baginda Rasul Shallahu ‘alaihi wasallam.

Akhlak yang mulia adalah salah satu  alamat bahwa Sanad ilmu  tersambung kepada  Rasulullah SAW, salah satu fitnah zaman ini adalah orang yang hidup di masa sekarang (khalaf ) mengaku mengikuti pemahaman salafush Sholih namun tak pernah bertemu dengan Ulama Salafus Sholih, melainkan  hanya bermodalkan mutholaah kitab sendiri secara otodidak menurut akal pikirannya sendiri. Sedangkan umat Islam pada umumnya, bermadzhab dengan salah satu madzhab yang empat  yaitu dengan  dengan bermuwajjahah ( berhadap-hadapan), bermusyafahah ( dari mulut ke mulut ) dan mendapat bimbingan serta arahan dari para ulama yang secara turun temurun memiliki sanad ilmu ( sanad guru ) tersambung lisannya kepada lisannya salah satu dari Imam Madzhab yang empat. Begitu seterusnya hingga bersambung kepada meneladani  Baginda.

Tujuan beragama adalah menjadi insan yang beradab dan berakhlaqul karimah, terciptanya sa’adah fiddarain ( kebahagiaan dunia dan akhirat ).   Ayolah kita berdamai, rileks sejenak, agar hidup ini terasa indah dan bersahabat,  monggo yang suka ngopi, diseruput kopinya , sambil mendengar lagu “ Din Assalam”nya Nissa Sabyan yang membawa kedamaian, tarik napas dalam- dalam, lepaskan segala beban. Jangan lupa bahagia.

 

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan