fbpx
Home / Badan Otonom / KOPRI PMII Kalbar: Tak Ada Ampun Bagi Pelaku Asusila

KOPRI PMII Kalbar: Tak Ada Ampun Bagi Pelaku Asusila

PONTIANAK – NU Khatulistiwa,  Peristiwa Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh seorang Dosen kepada Mahasiswanya di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, menjadi kasus yang tidak bisa diabaikan dalam dunia pendidikan. Pasalnya pada jum’at (21/12/18) sekitar pukul 13.20 wib, seorang Mahasiswa yang berinisial EP hendak mengumpulkan tugas Sosiologi Agama ke ruangan SH sebagai seorang dosen mata kuliah tersebut. Kala itulah tindakan tak terpuji seorang Dosen dimulai dengan menyentuh dan meraba-raba beberapa organ vital EP.

Tak puas meraba-raba organ vital EP, SH pun memaksa EP untuk membuka baju hingga dipaksa berhubungan. (dilansir dari www.change.org).

Kasus tersebut mendapat banyak respon dari kalangan Aktivis Perempuan tak terkecuali Korps PMII Puteri Kalimantan Barat (KOPRI PKC KALBAR) yang merupakan aktivis mahasiswa penggerak kaum perempuan yang juga angkat bicara terkait kasus pelecehan seksual tersebut.

Rika Artika selaku Sekretaris KOPRI PKC KALBAR mengatakan  bahwasanya perilaku bejat seorang dosen tersebut wajib hukumnya dipenjarakann, saat dihubungi via WhatsApp.

“Tidak ada ampunan lagi bagi seorang dosen yang melakukan tindakan amoral tersebut kecuali dipecat dan wajib hukum nya dipenjarakan”. Pungkasnya

Ia juga menyampaikan, “Perilaku nyata yang menyangkut moralitas seorang pendidik tidak boleh ada lagi didunia pendidikan terlebih kampus yang bacground nya islam”.

“Bagaimana bisa seorang pengajar yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai dan norma agama malah berbuat asusila kepada murid nya sendiri, maka dengan alasan apapun perbuatan biadab tersebut sangat tidak dibenarkan dan secepatnya diusut tuntas oleh pihak kepolisian agar memberikan efek jera kepeda pelaku dan agar tidak ada lagi kasus seperti ini”. Tegas Rika. (Rokib)

Check Also

Perlukah Kontroversial?

Oleh: Ahmad Fauzy Ketua 1 Kaderisasi PC PMII Kabupaten Malang Yang terpenting dari suatu Fenomena …

Tinggalkan Balasan